f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kasus

Penilaian Perempuan dan Kasus Pelecehan di Depok

Belum lama ini, warga Depok resah dengan sebuah kasus pelecehan seksual. Kasus tersebut menimpa seorang perempuan pekerja. Perempuan itu menjadi korban aksi begal payudara di jalanan. 

Kasus tersebut terjadi pada hari Senin  (7/6) di Jalan Mahali, Beji, Depok sekitar pukul 21:30 WIB, dan sempat pula terekam oleh kamera CCTV.  Bermula dari saat sang korban yang baru pulang dari tempat kerjanya dengan berjalan seorang diri, tanpa ia duga salah seorang pengendara motor mendekatinya dari arah belakang. Karena merasa tidak ada yang mengawasi, pengendara motor itu pun langsung melancarkan aksi busuknya. Dan, di situlah kejadian miris tersebut terjadi.

“Yang bersangkutan baru pulang kerja. Tiba-tiba dipepet sama salah satu pengendara motor, terus diremas payudaranya,” kata Kasubag Humas Polres Metro Depok Kompol Supriyadi sewaktu dihubungi, Selasa (8/6).

Korban sebenarnya sempat berteriak meminta tolong. Sejumlah warga ada yang mendengarnya. Namun pelaku berhasil kabur melarikan diri dengan memacu kendaraannya.

Kasus pelecehan seksual yang menimpa seorang perempuan pekerja di Depok tersebut tentu saja bukanlah cerita baru khususnya di negara kita ini. Ia hanyalah lanjutan dari kasus-kasus serupa sebelumnya yang jumlahnya entah sudah menyentuh angka berapa.

Berdasarkan pada data Komnas perempuan selama tahun 2020, korban kasus kekerasan seksual sebanyak 4.849 orang. Komnas perempuan juga mengatakan selama masa pandemi Covid-19 ini kasus tersebut justru terkesan mengalami peningkatan, alih-alih menurun.

***

Maraknya kasus pelecehan seksual tentu menjadi penanda tersendiri bahwa hari ini masih banyak dari kita yang memandang rendah derajat kaum perempuan. Sebagian besar dari kita saat ini masih menganut pandangan yang sama dengan yang ada pada zaman dahulu dalam menilai kaum perempuan.

Baca Juga  Dari Resolusi Ala Story Nasruddin Hoja Menuju Tradisi Sahabat Nabi

Masyarakat dahulu menilai kaum perempuan dengan sangat rendah, hina, bahkan menjadi aib. Perempuan selalu dipandang lebih di bawah daripada laki-laki. Pada zaman jahiliah misalnya, di lingkungan masyarakat Arab sebelum datangnya agama Islam, posisi kaum perempuan saat itu sangat dihinakan. Pada saat itu perempuan tidak lebih dari sekadar sebagai objek pemuas nafsu syahwat kaum laki-laki. Perempuan tidak boleh bekerja di luar rumah. Tugasnya hanya di rumah saja, memasak di dapur, melayani suami, dan mencuci pakaian. 

Hal yang serupa juga terjadi pada masa Yunani kuno. Derajat kaum perempuan saat itu juga sangat direndahkan. Perempuan saat itu hanya dianggap sebagai pelayan bagi kaum laki-laki dan hanya ditugaskan untuk mengurusi urusan dapur, sumur, dan kasur. Mereka juga tidak memiliki hak untuk berpendapat. Mulut mereka dibuat bungkam oleh kesuperioritasan kaum laki-laki.

Bentuk perlakuan terhadap perempuan seperti itulah yang ingin dihapuskan oleh Islam. Islam datang dengan penegasan bahwa semua manusia (laki-laki maupun perempuan) sama-sama berhak untuk dihormati. Asghar Ali Engineer, seorang tokoh pejuang HAM asal India, pernah mengungkapkan bahwa perempuan memiliki tiga hak dalam Islam. Yaitu hak waris, kesaksian, dan posisinya dalam keluarga di mana perempuan juga berhak untuk bekerja.

Celakanya, anggapan tentang perempuan tugasnya hanya di wilayah domestik (kerumahtanggaan) saja dan perempuan hanyalah sebagai objek pemuas nafsu kaum laki-laki nampaknya masih merajalela sampai hari ini dan masih bertengger kuat di kepala banyak orang. 

***

Kasus yang menimpa perempuan pekerja di Depok tersebut ditambah lagi dengan data dari Komnas perempuan bisa menjadi bukti yang cukup kuat akan hal itu.

Selain itu kita juga bisa melihat di sekitar kita, dengan mudahnya kita bisa menjumpai di mana-mana orang tua yang melarang anak perempuannya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dan malah menyuruhnya untuk di rumah saja membantu ibunya di dapur, ataupun seorang suami yang melarang istrinya untuk bekerja di luar rumah karena menganggap tugas seorang istri hanyalah tentang urusan dapur, sumur, dan kasur. Semua itu sejatinya keputusan yang lahir dari pemikiran yang mendiskreditkan posisi kaum perempuan.

Baca Juga  Pelecehan Seksual di Pesantren: Menodai Citra Ilmu

Kaum perempuan seharusnya juga mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk mengekspresikan gagasan dan pemikirannya di ruang publik sebagaimana halnya dengan kaum laki-laki.

Perempuan juga punya potensi besar untuk turut andil dalam mengembangkan dan memajukan peradaban bangsa ini.

Saat ini sudah ada begitu banyak perempuan yang mampu membuktikan pada dunia bahwa mereka juga bisa tampil di muka publik. Di negara kita sendiri, Indonesia punya sejumlah perempuan hebat dan tangguh. Sebagian di antaranya ada nama seperti Sri Mulyani Indrawati, Rini Sugiarto, Lilyana Natsir, Irma Hardjakusumah, dan masih banyak lagi nama-nama yang lainnya. Belum lagi dengan perempuan-perempuan hebat yang lainnya yang juga banyak tersebar di berbagai belahan dunia. 

Oleh karena itulah tidak selayaknya kaum perempuan dipandang dengan sangat rendah seperti itu. Mereka adalah manusia-manusia hebat, kuat, dan tangguh. Mereka bahkan jauh lebih dari apa yang selama ini kita sangkakan tentang mereka. Gayatri Wedotami, seorang penyair, filsuf, feminis, dan aktivis HAM di bidang antar iman dan kebebasan beragama asal Indonesia, pernah mengatakan bahwa perempuan itu melahirkan peradaban. Sehinga menjadi sebuah kemustahilan jika memahami sosok perempuan hanya dari segi bentuk fisiknya saja. Apalagi sampai menganggapnya tidak lebih sebagai hanya “penjaga rumah” dan pelayan bagi kaum laki-laki.

Bagikan
Post a Comment