f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibunya

Anak Bermasalah, Jangan Hakimi Ibunya

Jam dua pagi di pinggir jalan utama perumahan, sekelompok anak muda lelaki dan perempuan nongkrong.  Sebagian berbincang sementara yang lainnya asyik memegang handphone.

Komentar apa yang mungkin keluar dari mulut seorang ibu, yang kebetulan dari dalam mobil menyaksikan pemandangan seperti itu?

Bisa jadi akan menghakimi anak-anak itu dengan ujaran, “Ya ampun, jam segini ngapain masih di jalan?” Lalu secara spesifik menunjuk ke anak-anak perempuan, “Duh anak perempuan, mau jadi apa sih?”

Atau justru berakhir dengan menyalahkan Ibu si anak perempuan. “Ibunya ke mana ini, masa nggak nyariin anaknya?” atau “Ibunya apa ya nggak ngajarin sih?

Sebab, dalam pandangan umum, ibu yang baik itu akan mendidik anaknya dengan baik. Ibu yang baik itu punya aturan apa yang tidak boleh dilakukan anak gadisnya. Dan, ibu yang baik itu punya aturan kapan dan dengan siapa anaknya boleh keluar malam.

Jadi kalau di jalan bertemu anak gadis di jalanan apalagi tengah malam maka itu kesalahan ibunya. Ibu yang gagal mendidik anaknya.

Sebelum mengeluarkan isi kepala dalam kata-kata, mari kita tengok kisah Ibu Anis, tetangga saya.

***

Ibu Anis orang tua tunggal dengan tiga anak. Satu anak gadis SMA, satu bujang SMP dan satu anak balita. Mantan suaminya pergi begitu saja. Demi menopang hidupnya ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di 4 keluarga.

Sebelum subuh ia bekerja di rumah keluarga sepuh sampai pukul 6 pagi. Lalu ia pulang mengurus keperluan anak -anaknya. Jam 8 ia lanjutkan bekerja di rumah keluarga lain hingga jam 1 siang. Demikian seterusnya hingga ia baru bisa pulang ke rumahnya menjelang magrib.

Suatu hari si Teteh, begitu biasa dipanggil, mengadu soal anaknya yang mogok sekolah. Di rayu segala macam alasan tidak mau. “Paling enggak sampai lulus SMA saja, jadi bisa pake ijazah SMA buat meelamar kerja.” Si anak bergeming. Bahkan gurunya yang datang merayu pun harus pulang dengan kekecewaan.

Baca Juga  Berhasil Membuat Orang Tua Tersenyum, Tetapi Gagal Menjadi Diri Sendiri

Teteh sungguh sedih, dia sangat berharap anaknya bisa lulus SMA. Dengan ijazah SMA ia meyakini peluang hidup anaknya akan lebih baik. Hidup yang lebih baik daripada hidup lulusan SD sepertinya. Barangkali bisa bekerja di toko atau pabrik, bukan jadi ART.

…

Selang beberapa hari setelahnya, ia datang ke rumah majikannya dengan wajah kuyu, isak tangis terdengar saat ia menyapu. Belum jua selesai bekerja ia pun berkisah dalam isak tangis. Si Eneng, anaknya kabur. Setelah ditegur semalam karena pulang larut tanpa izin. Eneng dimintanya berhati-hati dalam pergaulan karena ia anak perempuan. Alih-alih menjawab dengan baik ia justru balik mencerca.

“Iya tahu, emangnya saya nggak pintar kayak Anda?

“Kamu dari mana?”, Teteh lanjut bertanya.

“Ga usah nanya-nanya saya dari mana, saya begini kan karena kurang kasih sayang dari elu.”

“Tapi kan kamu anak mamah?”

“Siapa yang minta dilahirin Anda. Kalau saya boleh milih, saya mau terlahir dari orang kaya. Jadi saya nggak ditinggal Anda kerja terus.”

Si Eneng marah lalu pergi.

“Padahal saya kerja begini kan buat anak-anak, Bu. Dari mana lagi saya bisa hidup kalau nggak begini?” keluh Teteh menutup ceritanya.  

***

Membesarkan anak 3 di kota tetangga Jakarta bukan hal yang mudah. Depok termasuk 5 kota di Indonesia dengan biaya hidup tertinggi. Biaya sewa rumah petak satu kamar untuk 4 orang, biaya listrik, dan harus menanggung senidribiaya makan juga biaya sekolah.

Dari satu keluarga ia dapat rata-rata 800 ribu sebulan untuk kerja 4 jam. Hasil yang ia dapat dari 4 rumah tak sampai standar Upah Minimum Regional Depok. Uang itu hanya cukup menyisakan sedikit untuk bersenang-senang. “Sesekali kan ya saya pengen jajan bakso, Bu”, katanya. Kerjanya menyita waktu yang panjang setiap hari. Ia kembali ke rumah dalam keadaan letih dengan tenaga habis terkuras.

Baca Juga  Menjadi Ibu Ideal dan Berkarir di Masa Pandemi

Pernah suatu kali ia sakit, mengerjakan tugas di rumah majikannya dengan lemas. Ia menolak pulang ketika disarankan. Dengan terpaksa majikan menggunakan kekuasaanya. ”Teteh, pulang nggak usah kerja!” bukannya segera pulang si Teteh malah menangis.

Permintaan itu disalahartikan sebagai pemecatan. Begitu dijelaskan lagi maksudnya baru ia beranjak pergi sambil berpesan, “Jangan pecat saya, ya, Bu!’

Sebagai single parent tak hanya terbebani kewajiban mendidik anak, ia juga harus bisa memastikan penghasilan yang cukup. Telat membayar uang kontrakan saja bisa terancam pindah oleh pemilik kontrakan.  Tekanan ini membuatnya punya kekhawatiran dipecat majikan. Putus kerja artinya penghasilan berkurang.

…

Tak mudah mendapatkan tempat kerja baru yang baik. Tempat kerja yang baik buat dia bukan hanya yang memberikan gaji lumayan tapi juga yang waktunya fleksibel mengingat ia kerja di beberapa tempat. Dan tentu saja tempat kerja yang mengizinkan ia membawa serta anaknya yang masih usia balita.

Untuk alasan tertentu tak semua majikan mengizinkan asisten rumah tangga bekerja dengan membawa anak. Jika ia bekerja di tempat seperti itu ia harus mengatur dengan siapa anak bungsunya dititipkan.  Untuk itulah sebisa mungkin bekerja di majikan seperti itu pagi sekali sebelum anak-anak berangkat sekolah.

Pengalaman dengan si Teteh membuat saya lebih berhati-hati merespon persoalan anak kelayapan di luar. Mungkin saja salah satu anak yang nongkrong malam-malam itu si Eneng. Kalaupun bukan Eneng bisa jadi anak dengan kisah keluarga yang mirip.  Anak dengan Ibu yang berjuang keras membesarkan anak dengan segala kesulitannya. Mungkin kurang pantas duduk nongkrong tanpa alasan yang jelas di tengah malam. Tapi tak pantas pula menghakimi ibu si anak sebagai ibu gagal.

Bagikan
Post a Comment