f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibadah

Sujud Freestyle dan Pentingnya Pendidikan Ibadah Orang Tua Terhadap Anak

Momentum Ramadan merupakan momen yang dinantikan bagi seluruh ummat muslim. Setiap masjid dibanjiri dengan para jamaáh dari berbagai usia. Semakin ramainya masjid, semakin semarak pula ghiroh dalam beribadah di bulan suci Ramadan.

Anak anak yang masih labil dan dalam proses pembelajaran dalam beribadah tentu masih membutuhkan arahan dan pengawasan dari para orangtua. Orang tua bisa menjadikan masjid sebagai tempat pendidikan ibadah bagi anak.

Anak yang gemar beribadah tentu harus mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Berbagai ragam tingkah laku anak di dalam masjid, jangan sampai anak merasa terusir dari masjid bahkan menjauh dari masjid. Selayaknya, masjid adalah tempat yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi anak untuk belajar ibadah.

Pendidikan Ibadah Dimulai oleh Orang Tua

Proses pendidikan ibadah sudah harus dimulai oleh orang tua pada anak sebelum anak menginjak usia 7 tahun. Hal ini karena, salah satu amalan ibadah yang harus dilaksanakan bagi anak berusia 10 tahun adalah salat.

Pada usia inilah (mumayyiz), anak sudah bisa mendapatkan perintah.  Maka dari itu, orang tua memiliki amanah besar dalam melakukan internalisasi ibadah terhadap anak.  Semakin dini anak diajarkan salat dari orang tua, maka semakin mudahlah anak dalam melakukan pembiasaan diri dalam beribadah.

Tentu, tidak ada kekerasan dalam proses pendidikan ibadah terhadap anak. Kesalingan dan kerjasama yang baik antara suami dan istri menjadi kunci utama dalam proses pendidikan ibadah terhadap anak. Karena pendidikan anak adalah tugas dan tanggungjawab kedua orang tua.

Lantas, bagaimana jika anak beribadah salat di masjid tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw?

Fenomena Sujud Freestyle

Munculnya fenomena sujud freestyle adalah salah satu tantangan besar bagi para orangtua di era digital ini. Bagaimana tidak, sujud freestyle ini menjadi viral di media sosial dengan gerakan kepala ditempelkan di lantai, tangan dirapatkan di depan dada dan menekan ke lantai sebagai penopangnya, sedangkan kedua kaki diangkat menjulang tinggi.

Baca Juga  Toxic Parenting (2): Masalah yang Jamak Terjadi dalam Pengasuhan Anak

Bagi anak, gerakan ini adalah gerakan yang membanggakan di kalangannya karena gerakan ini membutuhkan energi dan daya kreatifitas yang tinggi. Namun, bagi orang tua yang melihatnya tentu membuat geram, gemas dan bahkan ada yang tidak sabar untuk memarahinya dengan dalih ibadah bukan untuk main main. Ternyata, gerakan sujud freestyle ini terinspirasi dari game online Free Fire.

Pendidikan ibadah bagi anak, ternyata bukan perkara yang mudah, sebab pada hakikatnya adalah menuntun bukan memaksa. Pendidikan merupakan proses sepanjang hayat yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak.

Jika anak salah dalam penerimaan pendidikan tentu sebagai orang tua harus melakukan instropeksi diri. Hal-hal mana sajakah yang salah dan bagian mana sajakah yang harus diperbaiki. Karena sebagai orang tua, tentu harus senantiasa memperbaharui strategi, metode dan melakukan evaluasi pendidikan terhadap anak. Terlebih lagi, ini adalah masalah ibadah.

Hal yang Harus Diperhatikan dalam Pendidikan Ibadah

Dalam melakukan proses internalisasi pendidikan ibadah terhadap anak, orang tua harus memperhatikan hal hal berikut:

Pertama, menyadari diri bahwa anak adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dan dididik agar bisa menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

Kedua, menghadirkan diri sebagai role model bagi anak. Orang tua adalah orang terdekat dan apa yang dilakukan oleh orang tua akan senantiasa ditiru.

Dalam hal ibadah, perlu libatkan anak dalam setiap prosesnya. Pembiasaan salat berjamaah di dalam keluarga menjadi pondasi penting dalam menumbuhkan kebiasaan ibadah bagi anak.

Ketiga, memperkenalkan kisah Rasulullah dan para sahabatnya sebagai sumber tauladan bagi anak. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan buku-buku dengan tema tersebut. Selain itu bisa juga dilaksanakan dengan menceritakan kisah di atas sebelum anak tidur.

Baca Juga  Mengelola Kesehatan Mental Anak Sejak Dini

Keempat, sisipkan nilai-nilai aqidah, ibadah ataupun akhlak dalam cerita tersebut. Termasuk, bagaimana gerakan salat yang baik, dilaksanakan sesuai tuntunan dan gerakan salat tidak mengganggu orang lain yang salat di sampingnya.

Kelima, orang tua saling bekerjasama untuk meninimalisir game online atau semacamnya. Orang tua bisa secara bergantian untuk memberikan kegiatan dan pengawasan terhadap anak.

Maka dari itu, anak yang melakukan sujud freestyle di atas tidak perlu diberikan komentar negatif atau bahkan para orang tua menegurnya dengan cara kekerasan.

Di zaman Rasulullah, cucu Nabi yakni Hasan dan Husein pernah menaiki punggung Nabi ketika salat. Namun, Nabi tetap bersabar dan menyelesaikan gerakan salatnya sampai akhir tanpa menyakiti cucunya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua tentu harus bersyukur dan bangga jika anak sudah mau ke masjid dan melakukan salat berjamaah. Sekali lagi, jangan sampai anak menjauh dari masjid karena menerima teguran baik berupa kekerasan verbal ataupun fisik. Anak anak tersebut masih membutuhkan perhatian dan arahan dari para orang tua. Nasehat yang ramah serta memberi pelajaran yang baik merupakan perintah Al-Qur’an.

Bagikan
Post a Comment