f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
solidaritas

Ramadan dan Penguatan Solidaritas : Kewirausahaan Sosial dan Local Wisdom

Ramadan menghadirkan suasana kebersamaan yang indah dan mulia. Dalam ruang kebersamaan akan indahnya Ramadhan banyak sekali rutinitas dan mobilitas individu maupun kelompok dalam upaya pembenahan dan peningkatan kualitas. Anjuran dan dukungan akan solidaritas dan kepedulian terhadap sesama menjadi wujud nyata penguatan ruang kebersamaan tersebut.

Hal ini dirasakan bagi siapapun yang terus berlatih dan berlatih dalam ikhtiar yang dijalani. Sebagaimana dijelaskan dalam QS Al Jumuah: 10; ”Apabila sholat telah dilaksanakan maka bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”. Upaya untuk berusaha mencari karunia Allah menjadi pijakan bahwa ada sesuatu yang terus diikhtiarkan terus diperjuangkan d imana sejatinya mencari bekal untuk ditebarkan kembali dalam bingkai berbagi.

Sebab kerja keras yang dilakukan tidak akan berasa menjadi bekal untuk kehidupan selanjutnya tanpa ada muaranya. Bukan begitu? Apa makna harta yang terus dicari tanpa muara bahwa harta ini adalah karunia untuk menjadi investasi ibadah.

Kebersamaan yang dibingkai dalam solidaritas di masa pandemi seperti sekarang menjadi tidak langgeng apabila tidak dimulai dari individunya untuk saling memberi manfaat. Sehingga di manapun individu itu berada upaya saling menguatkan menjadi landasan kuat sebab tidak ada individu yang lebih diantara yang lain.

***

Lantas, apa keterkaitannya dengan kewirausahaan? Bagaimana pula penguatan solidaritas tercipta dari ruang kewirausahaan di masa pandemi ? Kewirausahaan yang menumbuhkan entrepreneurial skills menjadi kebutuhan dari masa ke masa. Bagaimana tidak? Kebutuhan ini menyangkut kesejahteraan bukan hanya individunya yang memiliki kompetensi; namun manfaat kesejahteraan bersama menjadi tujuan. Romantisme individu dalam komunitas yang terus menggeliatkan usaha bersama terwujud dari apa yang namanya wirausaha. Wira berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya utama, gagah.

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Pranikah Untuk Keluarga Sakinah (1)

Adapun usaha memiliki makna perbuatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Wirausaha bisa disandingkan dengan swasta yang maknanya swa artinya mandiri dan sta arting berdiri. Bicara tentang wirausaha/ wiraswasta merupakan kata kunci dari keberlangsungan aktivitas usaha. Terlebih lagi di masa pandemi seperti sekarang. Lahirnya muasal kewirausahaan kiranya tepat sejalan dengan berkembangnya ruang lingkup yang menyertainya. Sebagaimana seorang tokoh ekonom Perancis, penggagas ide kewirausahaan bernama Richard Cantillon (1734) yang menyapa kewirausahaan sebagai ‘entrepreneur is agent who buys means of production at certain prices in order combine them’. Maknanya di sini bahwa sosok wirausaha adalah pemimpin bukan hanya bagi dirinya; namun mampu menginspirasi orang lain dalam mencipta karya.

***

Bertumbuhnya kewirausahaan di masyarakat tidak terlepas dari local wisdom ; di mana mengupayakan kemampuan yang dimiliki individu-individu dalam masyarakat untuk senantiasa terasah berdasar potensi daerah / lingkungan dengan mengasah keterbatasan menjadi peluang. Sebagaimana ungkapan seorang penulis buku kewirausahaan bernama Ir Hendro bahwa; “ someday,,in your beautiful life, you have to make a great decision with a brilliant step to face your bright future, in order to change your life better, or you will regret and realize that you can do it, be smart entrepreneur..” .

Bahwa wirausaha bukan dibentuk secara instan juga bukan milik mereka yang memiliki modal dasar. Namun upaya menciptakan bisa dilakukan dan dirasakan manfaatnya. Di sisi lain perkembangan kewirausahaan mendorong ruang lingkup sosial yakni lahirnya kewirausahaan sosial  yang diinisiasi oleh seorang tokoh bernama Bill Drayton (1981); yang menggabungkan praktik pasar dan visi bisnis dengan pengembangan manusia , mengusulkan solusi atas masalah yang ada di masyarakat dimana usaha mandiri dilakukan individu maupun kelompok dengan tujuan sosial.

Baca Juga  Dari Opini ke Jurnal: Ganti Gigi Format Kepenulisan
***

Kewirausahaan sosial di bulan Ramadan sangat dirasakan bagi sejumlah individu maupun kelompok/ komunitas; terlebih lagi di masa pandemi seperti saat ini. Memasuki tahun kedua di masa pandemi, nuansa Ramadan diharapkan tetap berlangsung khidmat di sejumlah lembaga/ komunitas seperti panti- panti maupun lembaga sosial lain yang memiliki concern menyelesaikan permasalahan sosial. Solidaritas yang terbangun dimasyarakat sebagai penguatan melalui kewirausahaan sosial dan local wisdom menjadi magnet kebaikan di bulan Ramadan.

Kewirausahaan local wisdom bertumbuh subur tidak hanya di bulan Ramadan. Namun kehadirannya di bulan Ramadan sangat terasa sekali manfaatnya bagi masyarakat. Meningkatnya budaya konsumtif masyarakat di bulan Ramadan tanpa disadari akan meningkatkan dinamisasi perekonomian umat. Sebab mampu mensejahterakan masyarakat. Sebelum masa pandemi bertumbuhnya pasar dadakan yang menjadi kekhasan di bulan Ramadan sangat mendukung warga untuk mengapresikan ragam produk maupun jasa .

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat ini pastinya berkorelasi dengan kewirausahaan sosial di mana solidaritas dalam gerakan berbagi menggeliat di masyarakat. Meskipun masa pandemi membawa perubahan dan kesiapan untuk bergerak dengan kondisi new normal. Ragam cara dan bentuk dilakukan selama Ramadan. Melalui teknologi/ media digital upaya berbagi mampu menjadi ruang kebersamaan dalam membangun kepercayaan bahwa ada banyak harapan dan harapan terbaik adalah ketika mampu menyikapi dengan kelapangan. Semoga..

Bagikan
Post a Comment