Tidak terasa, sebuah negara berjulukan “Zamrud Khatulistiwa” telah lepas dari belunggu penjajahan selama 75 tahun. Pantas memang kita bersyukur, tiada lagi tanam paksa apalagi kerja paksa yang merenggut korban jiwa. Akan tetapi, bukan berarti semua permasalahan bangsa telah tuntas. Mari kita awali dengan mengamati grafik berikut!

Kita boleh optimis sejenak setelah melihat kesejahteraan masyarakat Indonesia yang perlahan membaik pada tahun 2016-2019. Akan tetapi, jumlah kemiskinan tiba-tiba terdongkrak sebesar 0,37% pada tahun 2020. Memang kecil, tetapi layak menjadi bahan perhatian bagi kita semua.
Secara jumlah, penduduk miskin di Indonesia tahun 2019 sebanyak 25,14 juta orang, kemudian naik pada tahun 2020 menjadi 26,42 juta orang. Hal ini menandakan lahirnya 1,28 juta penduduk miskin baru di tahun 2020 (bps.go.id). Sekilas tampak wajar, mengingat 2020 adalah tahun di mana pandemi Covid-19 meneror seantero dunia.
Bagaimana Covid-19 Mengguncang UMKM Indonesia?
Covid-19 atau biasa kita sebut corona berhasil menjadi aktor utama dalam kasus pandemi yang sedang naik daun secara global. Satu pertanyaan mulai muncul dalam benak kita. Apakah kondisi pandemi memengaruhi sektor bisnis di Indonesia?
Secara umum, terdapat empat sektor yang tertekan, yaitu sektor rumah tangga, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), korporasi, dan sektor keuangan (Sri Mulyani dalam Antara, 2020).
Untuk korporasi, mungkin masih bisa sedikit merangkak dalam menghadapi tragedi ini. Namun, lain halnya dengan UMKM yang semakin terseok-seok. Bagaimana kondisi UMKM di Indonesia saat pandemi? Berikut penulis sajikan grafiknya untuk Anda!

Hasil survei Katadata Insight Center (KIC) membuktikan hanya 17% UMKM yang bisa survive dalam pandemi. Sisanya? Tentu saja menelan duka amat dalam. Miris, tapi begitulah nasib tulang punggung perekonomian nasional sekarang ini.
Berbagai masalah mulai muncul, mulai dari 50% UMKM menutup usahanya, 88% UMKM kehabisan tabungan, hingga 60% UMKM terpaksa mengurangi tenaga kerja alias menambah jumlah pengangguran di Indonesia (Satari dalam Asrul, 2020). Selain itu, ada sebuah masalah yang tak kalah menggelisahkan.
Bagaimana Pandemi Memengaruhi Omset UMKM?
Berdasarkan dari data sebelumnya, pandemi membawa dampak negatif pada UMKM. Satu di antaranya berimbas pada terganggunya omset (pendapatan kotor) UMKM. Data yang penulis olah dari Katadata Insight Center adalah sebagai berikut:

Dapat kita lihat, presentase UMKM yang mengalami kenaikan omset tidak sampai 3%. Berbanding terbalik dengan UMKM yang mengalami penurunan omset sebanyak 96%. Dari realita ini, muncul sebuah pertanyaan kembali.
Mengapa Hal Tersebut Bisa Terjadi?
Sudah selayaknya kita tidak berlama merenungkan apa yang terlah terjadi. Saatnya kita membahas akar masalahnya agar tak mengulang kesalahan dua kali. What is the main problem from this? Setidaknya, ada tiga penyebab runtuhnya UMKM saat pandemi yakni sebagai berikut:
1. Gangguan Permintaan (Demand) dan Penawaran (Supply)
Menurut survei dari Asian Development Bank, 30% UMKM di Indonesia mengalami gangguan permintaan (Roeslani dalam Pratama, 2020). Kita ceritakan secara sederhana. Ketika pandemi terjadi, tentu mayoritas calon konsumen berada di rumah untuk meminimalisasi penyebaran virus.
Apabila masyarakat berada di rumah, daya beli masyarakat terhadap produk UMKM akan menurun (mulai adanya gejala penurunan permintaan). Penurunan daya beli sejalan dengan menurunnya pendapatan pelaku.
Hal ini menyebabkan stok barang masih tersisa di gudang. Barang dagangan yang disimpan terlalu lama tanpa terjadi pembelian akan menurunkan kualitas produk. Akibatnya, pelaku UMKM rela membanting harga demi produknya laku, walaupun hanya meraup laba yang kecil atau sekadar balik modal.
Nekat? Tidak juga. Bukankah lebih baik begitu? Daripada terjadi penumpukan barang di gudang yang berakhir sia – sia tanpa mendatangkan uang. Penurunan demand dan overload supply seperti ini mendatangkan malapetaka domino bagi pengusaha kecil.
2. Minimnya Digitalisasi UMKM
Presiden Indonesia Joko Widodo menyebut hanya 8,32 juta dari 64 juta UMKM yang sudah memanfaatkan teknologi digital. Artinya, baru 13% UMKM yang berani terjun dalam nuansa digitalisasi (Candra, 2020). Padahal, digitalisasi bukan lagi sebuah himbauan, tetapi sudah menjadi keharusan bagi setiap UMKM sekarang.
Digitalisasi UMKM yang dimaksud di sini mencakup penyediaan berbagai kemudahan dalam berbelanja, mulai dari menjual produk di e-commerce, pembayaran menggunakan e-money, dan hingga pemasaran produk melalui media sosial seperti Instagram, WhatsApp, dan Facebook (Hardilawati, 2020)
3. Harga Bahan Baku Melangit
Bagai peribahasa “Sudah terjatuh, tertimpa tangga pula”, begitulah jeritan terakhir pelaku UMKM. Secara umum, 36,25% UMKM mengeluhkan harga bahan baku yang naik saat pandemi, khususnya bagi usaha kuliner (Jayani, 2020).
Harga daging sapi melonjak naik Rp13.000 per kilogram (Uly, 2021). Belum lagi harga tahu tempe juga naik Rp1.000 per potong (Lidyana, 2021). Akibatnya, biaya produksi makanan menjadi mahal, memicu tingkat permintaan konsumen semakin landai.
Diperparah penutupan kampus, warung tegal tak rela kehilangan pelanggan setianya. Demi menyambung hidup, mereka terpaksa kembali ke kampung dan beralih profesi menjadi petani hingga kuli panggul (Mukroni dalam Sembiring, 2020).
Jadi, Bagaimana Solusinya?
Pandemi Covid-19 menyebabkan perubahan pola pembelian konsumen. UMKM yang masih ingin hidup harus bisa beradaptasi dan menerima kenyataan. Maka, perlu ada sinergitas terstruktur antara pemerintah dengan pelaku UMKM demi terciptanya matching problem solving dalam memperbaiki sirkulasi demand and supply.
Jangan sampai rancangan solusi tidak sesuai dengan masalah di lapangan. Langkah-langkah seperti observasi lapangan, penyuluhan digitalisasi UMKM, dan subsidi bahan baku sebaiknya pemerintah mulai mencanangkannya.
UMKM bukanlah anak tiri yang dinomorduakan. Ia juga layak mendapat perhatian pemerintah, baik yang berada di tengah gemerlap perkotaan hingga pelosok ujung hutan. Kalau UMKM berhasil berjaya lagi, secercah harapan masyarakat perlahan muncul. Demi mengukir kesejahteraan di bumi pertiwi yang kita cintai ini.
Daftar Pustaka
Antara. (2020). 4 Sektor yang Paling Tertekan Akibat Corona Menurut Sri Mulyani. Diambil dari https://nasional.kontan.co.id/news/menghitung-dampak-covid-19-terhadap-dunia-usaha-hingga-umkm?page=all (diakses pada 27 Januari 2021).
Asrul. (2020). Digitalisasi Kunci Majukan UMKM di tengah Pandemi. Diambil dari https://www.katakini.com/artikel/39846/digitalisasi-kunci-majukan-umkm-di-tengah-pandemi/ (diakses pada 27 Januari 2021).
Badan Pusat Statistik. (2020). Presentase Penduduk Miskin Bulan Maret 2016 – Maret 2019. Diambil dari bps.go.id (diakses pada 27 Januari 2021).
Candra, Sapto Andika. (2020). Baru 13 Persen Pelaku UMKM yang Go Online. Diambil dari https://republika.co.id/berita/qisp85383/baru-13-persen-pelaku-umkm-yang-emgo-onlineem (diakses pada 27 Januari 2021).
Hardilawati, Wan Laura. (2020). Strategi Bertahan UMKM di tengah Pandemi Covid-19. Jurnal Akuntansi dan Ekonomika. 10(1). Diambil dari http://www.ejurnal.umri.ac.id/index.php/jae/article/view/1934/1223 (diakses pada 28 Januari 2021).
Jayani, Dwi Hadya. (2020). Harga Bahan Baku Naik Jadi Kesulitan Terbesar UMKM saat Covid-19. Diambil dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/06/10/harga-bahan-baku-naik-jadi-kesulitan-terbesar-umkm-saat-covid-19 (diakses pada 27 Januari 2020).
Katadata Insight Center. (2020). Digitalisasi, Strategi UMKM Selamat dari Krisis. Diambil dari.https://katadata.co.id/katadatainsightscenter/analisisdata/5f03cf11e0198/digitalisasi-strategi-umkm-selamat-dari-krisis (diakses pada 28 Januari 2021).
Lidyana, Vadhia. (2021). Kedelai Mahal, Harga Tahu dan Tempe Jadi Naik Rp1.000/Potong. Diambil dari https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5319875/kedelai-mahal-harga-tahu-dan-tempe-jadi-naik-rp-1000potong (diakses pada 27 Januari 2021).
Pratama, Akhdi Martin. (2020). Kadin: Sekitar 30 Juta UMKM Tutup karena Pandemi Covid-19. Diambil dari https://money.kompas.com/read/2020/07/28/170100126/ kadin–sekitar-30-juta-umkm-tutup-karena-pandemi-covid-19 (diakses pada 28 Januari 2021).
Sembiring, Ira Gita Natalia. (2021). Daya Beli Masyarakat Menurun, Banyak Pengusaha Warteg Terancam Gulung Tikar. Diambil dari https://megapolitan.kompas.com/read/2021/01/27/14074951/daya-beli-masyarakat-menurun-banyak-pengusaha-warteg-terancam-gulung (diakses pada 27 Januari 2021).
Uly, Yohana Artha. (2021). Kata Pedagang Soal Penyebab Mahalnya Harga Daging Sapi. Diambil dari https://money.kompas.com/read/2021/01/20/142510526/kata-pedagang-soal-penyebab-mahalnya-harga-daging-sapi?page=all (diakses pada 27 Januari 2021).
