f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
gulana

Gulana

Kutatap lekat wajah seorang anak laki-laki berkulit hitam manis di hadapanku, keasyikannya menyusun balok-balok kecil di hadapannya tak terpengaruh sedikit pun dengan tatapanku yang begitu antusias. Rambut lurus hitam legam, hidung mancung, alis tebal bak semut beriring dan nyaris menyatu itulah hasil analisis sesaatku.

Gulana namanya, balita berusia 2,5 tahun. Balita seumurannya seharusnya sudah berjalan dan berlari-lari mengitari sekelilingnya, namun tidak dengan Gulana yang sehari-hari ia hanya terduduk sambil memainkan balok-balok kecil itu, kadang ia merengek meminta mainan yang lain kala rasa bosan menderanya.

Gulana terlahir tak sempurna dengan cacat fisik di bagian kakinya, kedua kakinya tidak tumbuh sempurna layaknya manusia normal lainnya. Namun ia memiliki wajah manis nan senyuman yang bisa membuat gemas orang-orang memandangnya.

“Ganteng banget kamu, Nak,” gumamku pelan.

“Ahhh…” desahku kemudian.

Tak sanggup melanjutkan kata-kata dan air mata pun mulai mengembang lalu  menganak sungai membasahi kedua pipiku.  Kejadian tiga tahun silam kembali tertayang dalam ingatan. Peristiwa yang selalu menghantui dalam mimpi-mimpi di setiap tidurku. Yah, peristiwa yang selalu hadir setiap kali kupandang wajah Gulana dengan senyum manisnya.

Kutinggalkan Gulana sendirian dan berlari menjauh darinya agar tidak terlihat olehnya air mata ini. Masuk ke kamar lalu menguncinya dan menangis sekuatnya. Kututupi wajah dengan bantal agar suara tangisanku tak terdengar oleh siapa pun. Mengeluarkan semua beban kesedihan yang ada di hati.

***

Namaku Maira, Maira Syakira Rayyah. Nama yang diberikan ayahku sebagai rasa syukurnya atas kelahiranku yang telah dinantinya belasan tahun. Anak tunggal dari sebuah keluarga yang sederhana, ayahku seorang montir yang mempunyai bengkel kecil di desaku, bengkel yang dijadikan sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga biaya sekolahku. Sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang kadang-kadang ikut membantu ayah di bengkelnya.

Aku baru saja menyelesaikan masa belajarku di pesantren. melanjutkan pendidikanku ke luar negeri adalah cita-citaku. Al-Azhar Kairo, itulah universitas idamanku karena universitas al-Azhar Kairo merupakan salah satu kampus terbaik di dunia yang banyak diminati oleh banyak orang dari berbagai negara. Namun, untuk dapat melanjutkan pendidikan ke sana bukanlah perkara mudah, selain harus memiliki niat dan kesungguhan yang kuat, juga biaya yang pasti tidak sedikit harus dipersiapkan. Masa menjadi santriwati aku termasuk siswa yang pintar, tapi aku bukan tipe orang yang mudah terbuka dengan siapa pun dan sulit untuk berteman.

Baca Juga  Mamaku Pergi sebelum Aku Tiba (1)

Namun, kejadian yang menyakitkan itu merenggut semua cita-cita, harapan dan impianku. Andai saja aku menolak untuk mengikuti ajakan Muti mungkin hal ini tidak terjadi.

***

“Ting.” bunyi notifikasi sms di gawaiku.

“Assamu’alaikum Mai, besok marhalah kita mau buat acara kumpul-kumpul sekalian acara perpisahan, kamu ikut ya,” isi pesan dari sahabatku Muti.

“Di mana tempat acaranya?” balasku.

“Di rumah Dama.” jawab Muti

“Besok kita ketemuan di kafe XC, terus kita berangkat bareng ke rumahnya.” balasan lanjutan dari pesan Muti.

“InsyaAllah aku ikut, Muti.” jawabku.

“Oke, pukul 19.30 wib aku tunggu ya, la tataakhorii (jangan terlambat)!” balasnya lagi.

“Sipp.” kusisip emotikon jempol sebagai akhir chatinganku dengannya.

Inilah awal mula petaka itu terjadi, ketika aku sedang menunggu angkutan umum, seseorang menyergapku secara tiba-tiba dari belakang, aku berusaha untuk meronta dan berteriak, namun keadaan sekeliling yang sepi kala itu membuat sang penyergap dengan mudah dan leluasa menjalankan aksinya. Menutup mulut dan hidungku dengan sapu tangan yang telah dioleskan obat bius membuatku tak sadarkan diri.

Saat kuterbangun, kepalaku terasa pusing. Melihat sekeliling berusaha mengenali tempat keberadaanku.

“Di mana ini?” tanyaku sambil mencoba untuk bangkit. Kudapati hanya sebuah selimut tebal yang menutupi tubuhku.

“Apa yang sudah terjadi padaku?” tanyaku lagi berusaha untuk mengingat namun gagal. Dan yang terlintas bahwa saat itu aku sedang menunggu angkutan umum untuk berjumpa dengan Muti, dan entah bagaimana aku bisa berada di tempat ini.

Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar, tidak kudapati seorang pun di sini. Dengan rasa takut dan bingung yang masih menyelimuti pikiran, kukenakan pakaianku, mengambil tas dan berlari keluar dari ruangan. Ruangan yang merupakan salah satu kamar di sebuah hotel terkenal di kotaku. Hari sudah pagi, menyadari bahwa cukup lama aku tak sadarkan diri. Kukeluarkan gawai mencoba menghubungi Muti dan tidak mendapatkan jawaban darinya. Kulangkahkan kaki dan kuputuskan untuk kembali pulang ke rumah.

Baca Juga  Aku Akan Selalu Berada di Sisimu, Ibu (1)
***

Hari berlalu dan kejadian itu tidak seorangpun mengetahuinya. Rasa takut yang mendera membuatku enggan untuk menceritakannya, termasuk kedua orang tuaku. Hingga suatu hari aku pingsan ketika sedang membantu ibu menjemur pakaian, memang akhir-akhir ini aku sering merasa pusing, mual, tak ada selera makan, dan  sudah dua bulan haidku tak kunjung datang. Ayah dan ibu panik lalu membawaku ke klinik terdekat, dan dari hasil diagnosis dokter menyatakan bahwa aku mengandung.

Sesampai di rumah, ayah marah besar dan menginterogasiku habis-habisan, sedang ibu terduduk lemas bahkan nyaris hampir pingsan,

“Kenapa kamu lakukan itu Maira?” tanya ayah. “Tidak cukup pendidikan di pesantren mengajarkan kamu untuk tidak melanggar syariat. Mau letak di mana muka ayah dan ibu ini, Maira?” bentaknya penuh emosi.

“Dengan siapa kamu melakukannya, hah!” bentaknya lagi dengan suara yang tak kalah nyaring dari sebelumnya.

Aku pun terisak, tak dapat berkata sepatah kata pun.

Hal yang membuat ayah marah karena aku tidak menjawab siapa orang yang telah membuatku mengandung. Aku sendiri bingung harus menjawab apa, karena aku pun tidak tahu siapa pelakunya. Namun untuk menceritakannya aku pun tidak mempunyai keberanian. Hanya air mata yang berderai sebagai jawaban ketidaktahuanku.

Untuk menutupi aib keluarga dan terhindar dari rasa malu, ayah dan ibu membawaku pergi keluar dari desa tempat tinggalku, ke sebuah tempat yang tidak pernah kudatangi sebelumnya. Tinggal bersama seorang nenek bernama Mbah Darni, ayah dan ibu pun kembali pulang dan berjanji akan menjemput setelah aku melahirkan.

***

Kesedihan tak terkira yang kurasakan.Terbuang dan terabaikan, itulah yang kurasa. Apa karena janin ini kasih sayang mereka bertukar dengan amarah? Tidak… tidak… aku juga tidak mengharapkan ini terjadi.

Baca Juga  Kucing Kecil dan Kebahagiaan

“Maafkan Maira, ayah ibu, Maira bukan anak yang baik yang bisa berbakti kepada kalian. Maafkan aku,” ucapku sesenggukan.

Kutelan hampir seluruh isi dari botol obat di genggamanku, mengakhiri hidup itu mungkin lebih baik, pikirku. Tiada gunanya hidup jika  hanya membuat aib dan malu kedua orang tua.

“Mairaaaa!! Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan, nak?” teriakan mbah Darni   yang sempat kudengar sekilas sebelum akhirnya pandanganku menghitam.

Hari-hari kelam kujalani, upaya untuk bunuh diri pun gagal karena pertolongan Mbah Darni. Lagi-lagi untuk menutup aib, ayah dan ibu melarangku untuk keluar rumah. Mereka bersandiwara seolah-olah yang mengandung itu adalah ibu, dan jika bayi yang kukandung ini lahir, maka ia akan menjadi anak yang seolah-olah dilahirkan oleh ibu.

Gulana, bayi berwajah tampan dilahirkan dengan ketidaksempurnaan fisik akibat percobaan bunuh diri yang kulakukan, darah dagingku yang kukandung dan kulahirkan dari rahimku tapi harus kuakui sebagai adik. Anak yang terlahir tanpa diketahui siapa ayah biologisnya.

Bagikan
Comments
  • SAPRIJAL

    Keren.. Mantap..

    Februari 2, 2021
  • Cicik

    Seruuuu,, mana umi kelanjutannya??? Ditunggu ya

    Februari 2, 2021
Post a Comment