Perempuan dalam Mengatasi Sampah Rumah Tangga
“Buat apa kita harus repot memilah sampah tapi orang-orang di luar sana tidak melakukan hal yang sama? Percuma dong…”
“Waktu saya ke luar negeri juga sama saja kok, sampah kemasan plastik ada di mana-mana.”
“Tidak mungkin kita hidup tanpa plastik.”
Dulu saya sering mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan seperti itu. Perempuan seperti saya mungkin dipandang sebelah mata, ketika saya dan teman-teman peduli akan lingkungan soal memilah sampah di rumah, mencuci kemasan-kemasan plastik dan menjemurnya. Kemudian mengirimkan ke bank-bank sampah, juga kebiasaan mengolah sampah organik dari dapur kami masing-masing untuk dijadikan pupuk organik.
Jumlah Sampah Semakin Merajalela
Hal ini mungkin disebabkan karena jenis kegiatan tersebut dianggap oleh sebagian besar orang begitu merepotkan dan nyaris percuma. Seperti yang telah kita ketahui, pada tanggal 3 Januari 2021 yang lalu kita dikejutkan dengan peristiwa menumpuknya sampah dengan volume yang cukup masif di sepanjang pantai Kuta, Legian dan Seminyak.
Bobot sampah yang di dominasi oleh sampah plastik tersebut pun tak tanggung-tanggung, hingga mencapai 200 ton per hari. Sepanjang kurun waktu sejak di mulai menumpuknya sampah-sampah tersebut hingga beberapa hari sesudahnya.
Soal bahwa tumpukan sampah tersebut bukan hanya berasal dari Pulau Bali, atau bagaimana pengaruh air pasang juga kondisi angin yang ekstrem sehingga mempercepat pergerakan gelombang sampah sampai ke daratan, sudah banyak ahli yang mengulasnya.
***
Peristiwa yang tak kalah memprihatinkan adalah ambrolnya turap yang digunakan untuk menopang tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong, Tangerang Selatan pada bulan Mei tahun lalu. Akibatnya sekitar 100 ton sampah berbagai jenis longsor dan jatuh ke dalam aliran Sungai Cisadane.
Tentu saja masih banyak kasus-kasus yang melibatkan sampah, seperti misalnya lahan-lahan persawahan. Di Kabupaten Banyumas yang gagal panen karena tercemari oleh air lindi yang timbul akibat dari fermentasi tumpukan sampah dari TPA Kaliori.
Di Jawa Timur, sebuah lembaga swadaya bernama Ecoton, setiap hari harus berjibaku dengan sampah –sampah popok sekali pakai di sepanjang aliran Kali Brantas. Juga yang tak kalah membuat jeri adalah issue mengenai mikroplastik yang mulai memasuki air dan makanan yang kita konsumsi sehari-hari.
Berawal dari Sampah Rumah Tangga
Industri plastik pada awalnya hanya untuk melindungi pepohonan dan sumber daya alam yang langka seperti sutra. Plastik memang mempunyai banyak kelebihan seperti ringan, murah, praktis, lentur dan sebagainya. Tak heran jika plastik banyak digunakan di berbagai industri ringan maupun berat. Dalam perjalanannya plastik kemudian berkembang semakin tak terkendali.
Sampah plastik yang ada di bumi ini kebanyakan diproduksi sejak tahun 1960-an. Bahkan menurut Ron Milo, seorang peneliti di Weismann Institute of Scince, semua plastik di dunia sekarang ini beratnya 2x lebih banyak ketimbang hewan laut dan darat.
Ternyata kita, yang mengaku manusia modern ini tidak bisa lepas dari benda yang bernama plastik!. Oke tunggu, lalu apa hubungannya antara persoalan sampah ini dengan perempuan? Apakah perempuan-perempuan jaman sekarang harus menjadi seperti Greta Thunberg, perempuan aktivis lingkungan yang berasal dari Swedia itu? tidak, bukan begitu maksud saya.
Jadi begini. Sampah rumah tangga kita ini sebagian besar berasal dari dapur alias dari sisa konsumsi. Ada plastik-plastik bekas kemasan makanan, minuman dan bahan mentah yang disebut sampah anorganik. Kemudian ada juga sisa makanan matang, hingga sisa dari bagian buah-buahan dan sayuran mentah. Yang tidak ikut termasak yang disebut sampah organik.
Bahkan di dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa presentase sampah organik dibanding sampah anorganik di negara kita adalah 60:40. Sedangkan sampah anorganik, yang berhubungan langsung dengan diri perempuan misalnya pembalut sekali pakai, popok bayi sekali pakai juga wadah plastik bekas skincare dan kosmetik.
Perempuan dalam Mengatasi Sampah Rumah Tangga
Sehingga kemudian penting menurut saya, peran dari perempuan khususnya para ibu rumah tangga sebagai pemegang kuasa atas “pembelanjaan” di rumah. Untuk turut serta mengurangi timbulan sampah di TPA-TPA. Jargon buanglah sampah pada tempatnya saja, menurut saya sudah tidak relevan lagi. Jika melihat kondisi bumi kita yang semakin sesak oleh sampah hasil kegiatan manusia.
Jargon yang menurut saya sudah tidak relevan tersebut, seharusnya perlu ditambah dengan kalimat CEGAH, PILAH dan OLAH (3 AH) sampah dari rumahmu. CegAH potensi timbulnya sampah sedini mungkin dari rumah, pilAH sampah yang sudah terlanjur masuk ke rumah kita, dan salurkan ke bank-bank sampah, lalu yang terakhir olAH sampah yang ada semampu kita.
Jika hal kecil ini kita lakukan terus-menerus secara konsisten, dan secara bersama-sama. Saya kok yakin permasalahan sampah di negara kita yang cenderung abadi ini akan sedikit banyak teratasi. Jika para perempuan ibu rumah tangga ini sudah mempunyai kesadaran untuk melakukan kegiatan 3 AH tersebut. Maka akan lebih mudah untuk kemudian mengajak seluruh anggota keluarga yang lain. Akan menjadi kegiatan yang tidak terasa berat jika dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan seluruh anggota keluarga.
Lalu di mana peran negara?. Idealnya memang negara yang mengelola secara profesional, karena negaralah yang mempunyai kekuasaan untuk menggunakan semua sumber daya yang ada di negri ini untuk kepentingan rakyat banyak. Namun sayangnya di negara kita ini persoalan sampah dan problem lingkungan secara umum masih kurang mendapat perhatian.
Daur Ulang Bukan Solusi yang Tepat
Memangnya selama ini tidak ada sosialisasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga? Sebetulnya ada hingga tingkat RT melalui organisasi PKK. Namun sayangnya masih sangat minim dan kalaupun ada, lebih menekankan pada recycle atau mendaur ulang. Di mana tahapan ini sebetulnya merupakan langkah paling sulit jika tidak mempunyai pengetahuan sama sekali mengenai cegah dan pilah sampah terlebih dahulu.
Jika menilik fakta-fakta mengenai musibah akibat dari sampah, pada awal tulisan ditambah lagi melihat kondisi yang masih dalam pandemi. Seperti ini di mana terjadi peningkatan volume sampah rumah tangga secara signifikan akibat dari pembatasan kegiatan di luar rumah, sudah seharusnya negara melakukan langkah-langkah cepat dan tepat
Negara, melalui Kementrian Lingkungan Hidup dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan harus bekerjasama. Hal ini bertujuan ntuk melakukan mitigasi pengelolaan sampah rumah tangga secara lebih serius. Lantas apa hubungannya dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dalam hal ini? Tentu saja karena problem sampah juga merupakan persoalan yang dihadapi kaum perempuan.
Perempuan juga menjadi korban banjir, korban dari longsoran sampah dari TPA, korban dari lahan-lahan pertanian. Dan sumber-sumber air yang rusak akibat menggunungnya sampah dan lain-lain.
****
Persoalan sampah ini pada akhirnya menurut saya menjadi sama pentingnya dengan issue-issue tentang perempuan yang lain. Seperti soal kekerasan terhadap perempuan, soal partisipasi publik, dan diskriminasi misalnya. Mengapa? jawabannya, sudah saya sampaikan di paragraf atas tadi. Mengenai peran perempuan sebagai pemegang kendali atas pembelanjaan konsumsi sehari-hari dalam rumah tangga.
Jadi, penting sekali posisi perempuan ini dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan melalui pengelolaan sampah, khususnya sampah rumah tangga. Perempuanlah yang mampu menjadi kunci dalam mengendalikan produksi sampah rumah tangga yang tentu saja tetap perlu support system dari anggota keluarga yang lain. Toh kita pasti juga tidak mau tenggelam di dalam sampah kita sendiri bukan?
Editor : Amanat Solikah
Ibu rumah tangga dengan 3 anak, pelaku hidup minim sampah, menyukai masalah-masalah sosial dan politik.
