Site icon Inspirasi Muslimah

Tiga Kisah Tentang Handphone

handphone

Deffy Ruspiyandy

Dulu saya beberapa jam pernah kehilangan handphone. Saya mencarinya bukan karena hp bagus atau harganya mahal tetapi data dalam HP itu begitu berharga bagiku. Saat itu (2004) saya sedang membagikan undangan pernikahan. Saya saya tahu persis kala itu seorang rekan mendampingi dari pagi sampai siang. Saya merasa kehilangan hp ketika di Pondok Pesantren Daarut Tauhid, pesantren pimpinan Aa Gym itu.

Karena saya melihat ada wartel yang masih menjamur saat itu maka aku pun menelpon nomor handphone miliki itu dengan harapan mungkin saja masih ada rezeki bagiku. Benar saja, saat aku menelpon dari seberang ada seseorang yang mengangkatnya. Dia seorang pria ramah yang berstatus mahasiswa yang tinggal di kawasan Dago, Bandung. Dia menjelaskan jika handphone itu ada di tangannya dan saya dipersilakan datang ke tempat kostnya. Saya tahu persis alamat itu dan kemudian kami berdua meluncur ke alamat tersebut.

***

Benar saja saat aku sampai dan menemuinya, sayang saya lupa namanya. Dengan ramahnya dia menyerahkan handphone milikku. Saya bersyukur bisa mendapatkan kembali handphone itu. Saya memberikan amplop berisi uang namun dia menolaknya.

“Bukan saya tak butuh uang tetapi saya dapat membayangkan jika yang kehilangan hp itu saya. Mas pasti butuh sekali kan dengan handphone ini?” katanya menolak pemberianku.

“Saya berterima kasih sekali atas kebaikan anda. Semoga Allah membalas apa yang telah anda lakukan kepada saya,” ucapku kemudian.

“Amiin,” begitu jawabnya.

Saya pun pamit dan sadar kalau orang jujur ternyata masih banyak di negeri ini.

Kemudian saya mendapati kisah yang sama tahun 2020. Seorang ustad selepas Shalat Jumat bercerita jika ia sedang menunggu seseorang yang hendak mengambil hp miliknya. Hampir tiga puluh menit sang ustad menunggu namun belum datang juga.

***

Sambil menunggu kedatangannya, ustad pun bercerita kepada saya dan rekan yang masih ada di masjid. Jika dia amanati handphone dari seseorang untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Ceritanya begini. Pada sebuah malam seorang yang buta tak sengaja menginjak sebuah benda di sebuah jalan di Kota bandung. Setelah ia ambil ternyata hp. Orang buta itu gelisah semalaman karena khawatir pemiliknya mencari-cari. Tapi ia bingung kepada siapa ia harus mengembalikannya. Handphonenya saat itu mati dan dicharge pun dengan charger miliknya ternyata tidak masuk.

Keesokan harinya karena orang buta ini adalah jamaah pengajian sang ustad, ia berinisitiatif meminta bantuan ustad untuk bisa mengembalikan kepada pemiliknya. Usai mengikuti pengajian orang buta itu menyerahkan handphone kepada sang ustad. Ustad berjanji agar bisa mengembalikannya dan jika tidak maka handphone itu minggu depan akan dikembalikan kepada orang buta tersebut. Terbanglah hp tersebut dari Kota bandung ke Kabupaten Bandung Barat.

Doa orang buta itu terkabul. Saat sang ustad menyalakan hp dan ada panggilan masuk dan mengatakan jika orang tersebut mengatakan jika ia pemilik hp tersebut. Orang tersebut bercerita jika kemungkinan handphone jatuh di jalan itu dan jalan yang dimaksud cocok dengan daerah orang buta tersebut tempat dirinya menemukan handphone tersebut. Karena alamatnya dekat dengan masjid ia menjadi khotib Jumat maka disuruhlah anak yang mengaku mahasiswa ke masjid tempat saya Shalat Jumat.

***

“Assalaamu alaikum…” sapa seorang anak muda ketika kami sedang mendengarkan cerita sang ustad.

“Wa alaikum salam. Adik yang mau ambil hp in ikan?” jawab ustad Heri.

Handphone pun kembali dan anak mahasiswa tampak sumringah karena handphone miliknya bisa kembali lagi.

“Ini Pak Ustad buat orang yang menemukan handphone. Titip salam dari saya dan saya doakan Allah bisa membalas segala kebaikannya,” katanya kemudian.

“Ya saya terima titipannya. Nanti akan saya sampaikan kalau dia ngaji lagi,”  jawab ustad itu.

Anak mahasiswa itu pamit kepada tamu. Aku pun bersyukur karena di negeri ini masih ada orang jujur.

***

Kembali aku mendapati kisah tetang handphone lagi. Tiba-tiba seorang ibu sekitar tempat tinggalku kebingungan mencari handphone yang anaknya bawa hilang dan tak jauh dari tempat tinggalnya. Lalu ia kirimkam chattingan di whatsapp di melalui handphone lain. Oleh orang yang menemukannya dibaca karena ada dua tanda centang biru. Sang ibu berharap hp itu bisa kembali karena ia menyebut nama dan juga alamat jelasnya. Tetapi menunggu beberapa hari tak ada yang mengembalikan hp itu ke rumahnya.

Kemudian seorang rekan bercerita pula kalau ada rekannya—yang kukenal pula datang menemuinya dan bercerita jika rekannya itu menemukan handphone yang berwarna hitam di bawah motor rekannya itu. Orang tersebut diingatkan untuk mengembalikan handphone itu kepada pemiliknya. Tetapi jawaban dari orang itu mengatakan nanti saja. Saya yakin orang tersebut kenal dengan pemilik handphone tersebut.

Wanita yang pemilik handphone sadar ia salah karena membiarkan anaknya membawa hp keluar. Tetapi kecewa ketika tahu jika yang menemukan handphonenya itu adalah orang yang ia kenal dan tidak segera mengembalikannya. Hingga ia pun menyebarkan berita kehilangannya dan menyebut nama orang yang telah menemukannya hingga orang-orang dis ekitar jadi mengetahui semuanya.

Beberapa rekan mengingatkan untuk mengembalikan hp itu. Tetapi ia tak menggubrisnya. Ada kesan ia tak mau mengembalikan handphone itu karena ia telah mendapat tuduhan mengambil handphone itu. Saya pun kini tak tahu keberadaan hp itu, apa masih ada atau tidak.

“Biarlah handphone hilang itu bukan rezeki saya tetapi mudah-mudahan Allah bisa menggantinya dengan handphone yang lebih baik lagi. Tapi saya heran kok kepada orang yang kenal, kok tidak jujur, ya?” kata pemilik hp itu menyayangkan.

Aku pun akhirnya sadar ternyata handphone hanyalah alat yang bisa bergerak karena manusia mengaturnya tetapi dia tak bisa mendeteksi atau memberitahu orang yang tidak jujur. Ternyata hanya hati nurani yang selalu jujur dan tak pernah berbohong tentang apapun yang ada di dunia ini.***

Bagikan
Exit mobile version