“Sudahlah, bukankah tanpa ada anak pun urusan dunia ini sudah terlalu sibuk melalaikan kamu dari mengingat Allah?”
Kurang lebih begitu ucapan Hubabah Humairoh pada Hubabah Halimah ketika meminta didoakan segera memiliki anak. Saya melihatnya dalam sebuah potongan ceramah singkat di platform Tiktok. Potongan ceramah yang tidak lama hanya satu menit, tetapi menohok hati saya.
Saya dan suami belum memiliki anak, memasuki usia pernikahan ke tiga. Ketika ada yang menanyakan soal anak saya pernah menangis, kadang masih suka tersinggung. Ada perasaan iri, sedih, marah, dan campur aduk. Iri karena ada yang dengan mudah Allah beri anak keturunan.
Tak jarang juga perkataan yang kadang merupakan candaan, sindiran satir, bahkan nasehat kadang menjadi belati di dada saya. Entahlah, sempat pula saya menyalahkan Allah atas dasar apa Allah tidak memberikan saya anak.
Kadang juga saya gelisah, ketika banyak yang mengatakan anak sumber keharmonisan. Rumah akan menjadi ramai dengan adanya anak. Ah, iya, belum lagi ada yang bilang mengapa tidak juga berhasil membuat anak. Ah, dan sederet hal lain yang memicu berbagai kegelisahan. Lalu, kumpulan kegelisahan itu menyaru menjadi satu menjadikan saya stres.
Maka dialog dari Hubabah Humairoh dan Hubabah Halimah menjadikan saya merenung, apa alasan saya ingin memiliki anak. Apakah saya ingin menciptakan generasi sholeh sholehah? Ah, saya tidak tahu apakah saya mampu, orang sekelas Nabi Nuh aja anaknya durhaka. Urusan menjadikan sholeh sholehah diluar kemampuan saya, hanya ada doa dan usaha, selebihnya Allah yang memutuskan.
Apakah saya takut kesepian? Tidak memiliki anak membuat rumah menjadi sepi begitu kata setiap orang. Mengapa harus takut sepi? Saya datang ke dunia sendiri, pulang nanti pun sendiri. Berada di alam kubur juga sendiri. Semua sendiri, walau saya sadari dengan penuh hakikatnya saya tidak sendiri ada Allah yang membersamai.
Apakah saya ingin anak ingin untuk dirawat saat tua? Ah, saya kembali menampik. Berapa banyak anak yang menitipkan orang tuanya ke panti jompo. Ada pula yang menelantarkannya dijalanan. Lalu, mengapa saya harus bergantung dengan makhluk? Jika ada Allah sebaik-baiknya pemelihara.
Ketakutan saya di hari tua akan kerepotan mengurus diri saya, saya tepis. Toh, sampai hari ini saya tidak tahu Allah selalu baik pada saya. Saat lahir saya tidak bisa mengurus diri saya sendiri, Allah yang memberikan rahmatNya dengan memberikan orang tua yang sayang pada saya. Ah, soal tua nanti semoga Allah menjauhkan saya dari keburukan di hari tua.
Lalu, mengapa? Apakah saya takut tidak mendapatkan doa anak sholeh selepas saya wafat? Iya, tentu karena itu adalah salah satu dari tiga pahala yang akan mengalir setelah saya meninggal. Sebagaimana hadist riwayat Muslim, “Apabila anak adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir), ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim No. 1631).
Ah, itu menjadi nomor ke tiga alias terakhir. Saya lalu berpikir jika saya tidak bisa mendapat pahala dari jalur anak sholeh, saya bisa mendapatkannya dengan bersedekah jariyah. Ikut membangun majlis misalnya. Menginfakkan sebagian harta meskipun sedikit pada pembangunan masjid, mushola, jalan maupun madrasah.
Lalu soal ilmu yang bermanfaat, bukankah diera medsos ini kita lebih mudah berbagi. Mungkin hanya membagikan resep sederhana. Lalu, memberikan tips cara mengurus rumah dan diri sendiri. Itu juga termasuk dengan membagikan ilmu. Dan ilmu yang sederhana itu, selama dipakai nantinya akan mengalirkan pahala bagi kita. Ya, hal membagikan ilmu tidak melulu harus berarti mengajar di ruang kelas bukan?
Kedua hal yang saya sebutkan apabila dilaksanakan dengan ikhlas inshaa Allah pasti mengalir pahalanya. Sekali lagi, saya tidak ingin mengharapkan banyak dari makhluk. Saya tidak bisa memastikan apakah sepeninggal saya, anak saya akan ingat mendoakan saya? Meskipun saya yakin, jika Allah memberikan petunjuk bagi anak dan keturunan saya kelak mereka akan tetap mengirim doa bagi saya.
Ah, pada akhirnya kita hanya bisa mendoakan anak, dan keturunan agar menjadi hamba Allah yang beriman. Kita tidak bisa menginginkan lebih selain dari mereka menjadi penyembah Allah dikemudian hari sepeninggal kita. Kita meyakini bahwa tiada apapun di dunia terjadi kecuali atas kehendak dari Allah semata.
Maka, semua kekhawatiran saya, semua alasan saya soal betapa inginnya saya memiliki anak hilang. Tidak ada lain kecuali rasa berserah saya pada Allah setelah saya berusaha. Saya menulis ini bukan lantas menjadikan saya seorang praktisi childfree.
Saya tetap ingin punya anak, hanya saja saya sekarang sudah berdamai. Dan saya sudah tidak lagi marah pada diri saya, suami, dan pada Allah. Saya sudah legawa, apapun yang Allah berikan hari ini dan saat ini adalah kebaikan dan rahmat.
Bagaimana mungkin seorang hamba yang diberi rahmat dan kebaikan malah mengeluh? Ah iya, berkat nasehat dari Hubabah Humairoh kepada Hubabah Halimah saya juga menyadari. Betapa banyak waktu yang terlewat untuk mengingat Allah.
Saya terlena dengan segala apa yang terjadi, mulai dari pagi sibuk dengan urusan perut. Menjelang siang sibuk urusan dengan pelanggan, sampai malam kadang juga masih sibuk mengejar uang. Astaghfirullah. Saya memohon ampun pada Allah yang Maha Agung.
Ya, setidaknya kita harus menyadari betul, bahwa saat ini yang belum kita miliki bisa jadi petaka bagi kita. Bisa jadi pula Allah ingin kita lebih dekat dan belajar lebih banyak. Bisa jadi juga sebelum kita bertugas mendidik hamba kecil Allah, kita harus mendidik diri sendiri terlebih dahulu. Dan bisa jadi dan bisa jadi yang selalu akan menjadi kebaikan apabila kita mampu mensyukuri segala pemberian Allah di hari ini.
Ibu Rumah Tangga tinggal di Semarang. Bisa silaturahnmi via FB Anisa fitrianingtyas.
