Site icon Inspirasi Muslimah

Sebuah “Kemewahan” di Masa Pandemi Covid-19

Covid-19

Oktalina-Mayasari

Ketika adik saya mengabarkan bahwa ibu terkonfirmasi positif Covid-19, kepala saya langsung pening. Apalagi kejadian itu pas sekali dengan kondisi kasus di Jogja yang sedang tinggi-tingginya. Dengan kondisi saya yang jauh dari rumah, saya bingung sekali harus bagaimana. Akhirnya saya coba berkonsultasi kepada seorang teman yang merupakan dokter di sebuah rumah sakit di Jogja. Dokter menanyakan kondisi ibu saat; apakah beliau mempunyai komorbid; apakah beliau mengalami gejala klinis yang berat seperti sesak nafas?

Alhamdulillah ibu hanya mengalami batuk pilek saja dan tidak mempunyai komorbid apapun. Dan mengingat kondisi beberapa rumah sakit di Jogja yang saat itu sudah menjalankan sistem buka tutup seperti jalan ke Puncak saat weekend, dokter menyarankan ibu isolasi mandiri saja di rumah.

Alat-alat kesehatan seperti oksigen, oximeter, termometer, vitamin dan beberapa obat-obatan sudah kami upayakan dan sediakan di rumah. Hanya tinggal mengkondisikan bagaimana situasi di rumah saat ibu harus isolasi mandiri nantinya.

Beruntungnya rumah kami di Jogja, hasil desain saya dan almarhum bapak memiliki sirkulasi udara yang bagus. Kamar yang Ibu tempati saat isolasi mandiri memiliki jendela yang lebar, yang memungkinkan udara bersirkulasi dengan baik. Selain itu, masih ada halaman yang cukup luas di belakang rumah untuk ibu berjemur sesuai yang dokter anjurkan. 

***

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Green Building Council Indonesia dengan tajuk “Keeping Our Indoor Air Quality Safe and Healthy During Pandemic Era”. Acara itu membahas bagaimana seharusnya kita beradaptasi untuk menghadapi pandemi Covid-19.

Narasumber pertama, Dokter Cahyarini, Ketua Komite Pusat Pengendalian Infeksi RS Persahabatan mengungkapkan bahwa tingginya kasus Covid-19 pada cluster perkantoran terjadi karena ventilasi gedung yang hanya mengandalkan sistem penghawaan buatan menggunakan Air Conditioner (AC).

Gedung perkantoran pada umumnya merupakan gedung tinggi yang tentu saja menggunakan penghawaan buatan untuk sirkulasi udaranya. Padahal mutasi virus ini sudah semakin beragam dan sudah ditemukan bahwa virus ini tidak hanya menular melalui droplets tetapi juga melalui udara (airborne).

Keberadaan AC yang awalnya diharapkan dapat memperbaiki sirkulasi udara di gedung perkantoran. Dalam kondisi seperti ini bukannya memperbaiki sirkulasi udara malah menyebabkan virus makin menyebar karena udara yang mengandung virus hanya berputar-putar di dalam gedung.

Anand Muthukrishnan dari Indian Green Building Council menyampaikan mengenai apa yang bisa kita pelajari dari India dalam penanganan Covid-19 yang sempat menjadi negara dengan kasus tertinggi di dunia. Sebagai seorang praktisi green building, Anand memberikan arahan desain bangunan untuk menyesuaikan dengan kondisi pandemi ini.

Sementara Core Founder Green Builcing Council Indonesia, Iwan Prijanto menyampaikan bahwa protokol kesehatan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas) yang kita laksanakan saat ini masih belum efektif mencegah penularan virus yang menular melalui udara. Perlu adanya rekayasa pada bangunan untuk mendapatkan sirkulasi alami.

Dari ketiga narasumber tersebut, ketiganya mempunyai kesimpulan yang sama, yaitu bahwa sirkulasi alami saat ini penting kita upayakan untuk mengatasi penularan virus melalui udara. Protokol kesehatan 5M perlu ditambahkan adanya sirkulasi alami pada setiap tempat dan setiap kegiatan untuk tidak membuat virus menyebar melalui udara yang terakumulasi di dalam satu ruangan.

***

Inilah poin yang membuat saya bersyukur. Artinya apa yang saya dan almarhum bapak saya dulu lakukan saat mendesain rumah di Jogja itu merupakan sesuatu yang benar. Dan bahkan sesuai kita terapkan untuk menghadapi pandemi Covid-19 saat ini. Yang padahal saat kami mendesain dulu tidak pernah terpikirkan bahwa di kemudian hari, kami akan menghadapi kondisi seperti ini.

Yang terpikirkan saat itu hanya bahwa kami senang tinggal di rumah yang terang benderang, saat siang hari tidak membutuhkan lampu menyala untuk menerangi aktivitas kami. Saat itu, di kampung kami AC juga masih dipandang sebagai barang mewah. Sehingga kami lebih memilih membuat bukaan-bukaan jendela dan pintu yang lebar-lebar sehingga udara dan cahaya lebih leluasa masuk ke dalam rumah.

Alhamdulillah desain rumah kami cocok untuk ibu gunakan isolasi mandiri sampai sembuh dua minggu kemudian. Sirkulasi udara yang bagus di dalam rumah dan adanya halaman belakang yang digunakan untuk berjemur membuat ibu nyaman isolasi di rumah sendiri daripada harus menginap di rumah sakit.

***

Salah seorang teman saya yang tinggal di sebuah cluster perumahan khawatir ketika salah seorang tetangganya terpapar. Saat tetangga tersebut terkonfirmasi positif, anak dan suaminya memilih untuk isolasi mandiri di rumah, sementara yang bersangkutan, yang saat itu bergejala ringan isolasi mandiri di sebuah tempat yang direkomendasikan dari kantornya.

Selang beberapa hari kemudian ternyata anak dan suaminya terpapar juga. Terjadilah yang sering kita dengar sebagai cluster Covid-19 keluarga. Yang ternyata kasusnya lumayan banyak terjadi daripada beberapa cluster lain. Cluster ini biasanya terjadi dari seorang anggota keluarga yang terpapar kemudian menulari anggota keluarga lainnya.

Sirkulasi udara di rumah yang kurang baik salah satunya yang membuat penularan pada cluster keluarga terjadi. Seperti yang terjadi pada tetangga teman saya tadi. Di cluster perumahan mereka, rumah-rumah dibangun dengan menghabiskan hampir seluruh lahan. Sehingga yang tersisa hanyalah secuil taman di depan rumah.

Apa yang bisa kita harapkan dari kondisi seperti itu? Bagaimana bisa mengusahakan sirkulasi alami sedangkan bukaan jendela dan pintu saja terbatas. Bukaan yang ada hanya pada satu sisi saja di bagian depan rumah karena tidak terdapat sisa lahan lagi di bagian belakang rumah yang memungkinkan terjadinya sirkulasi alami.

Akhirnya sirkulasi hanya bisa diusahakan secara buatan dengan menggunakan AC. Yang dalam kondisi pandemi seperti ini sirkulasi buatan seperti bukannya memperbaiki tapi malah memperburuk keadaan. Dari yang awalnya hanya seseorang yang terpapar, karena sirkulasi udara yang kurang baik akhirnya menularkan kepada seluruh keluarganya.

***

Rasanya tidak salah kalau saya bilang, sirkulasi alami adalah barang mewah saat ini, dimana saat ini orang lebih banyak bergantung pada teknologi untuk menyamankan kondisinya. Dengan berbagai alasan AC lebih dipilih untuk pengkondisian udara daripada membuat banyak bukaan yang memungkinkan terjadinya sirkulasi alami. Rumah saya di Jogja hanya merupakan rumah sederhana, jauh dari kata mewah. Namun keberadaan halaman belakang yang membuat sirkulasi udara alami bisa berjalan dengan lancar, menurut saya itu adalah sebuah “kemewahan” tersendiri.

Bagikan
Exit mobile version