Meyakinkan diri untuk memulai hidup baru bersama orang baru dalam sebuah pernikahan memang tidaklah mudah, juga tidak begitu rumit seperti apa yang seringkali banyak single bayangkan. Perasaan takut ini itu menghalangi pikiran-pikiran positif kita untuk melihat kebaikan yang ada dalam diri orang lain dan kekurangan dalam diri sendiri. Karena itu penting bagi kita untuk benar-benar menjadi sadar, bahwa kita adalah manusia yang tentunya memiliki sisi positif dan negatif. Ada hal dasar seperti watak yang kadang tidak bisa diubah, juga sifat yang bisa diubah.
Tidak sedikit orang mengurungkan diri melangkah lebih jauh dalam sebuah hubungan sampai menikah karena perasaan tidak yakin. Keraguan seringkali datang ketika hati mulai saling mendekat untuk menyatukan diri dalam sebuah akad. Perasaan ini wajar terjadi pada calon pasangan yang tanggal menikahnya sudah dekat. Banyak orang ingin menikah dengan orang yang tepat di waktu yang tepat. Maka secara individu kita harus memiliki seni meyakinkan diri, menggunakan cara yang tepat untuk meyakinkan diri sendiri tanpa intervensi. Sebab yang akan menjalani hidup adalah kita, bukan orang lain yang hanya melihat keadaan kita tidak utuh.
Sadar dan Menerima Diri Sendiri Sebagai Manusia
Drama percintaan seringkali membawa malapetaka bagi orang-orang yang memang tulus mencintai namun bertepuk sebelah tangan. Artinya, peluang kecewa bisa jadi ada jika kita memilih untuk lebih dulu mencintai, sebab orang yang kita cintai belum tentu punya perasaan dan keinginan yang sama seperti kita. Contohnya, ketika kita mendamba pasangan ideal seperti tampan, solih, kaya dan berakhlak baik, atau sebaliknya cantik, solihah, kaya dan berakhlak baik. Yang ada dalam benak kita hanyalah hal-hal baik yang bisa membuat kita bahagia, namun kita lupa bahwa kesempurnaan pada manusia itu tidak ada!.
Maka, jika niat sudah bulat ingin menikah, maka jemputlah jodoh agar lekas sah!. Bukan selalu menambah kriteria yang terkadang tidak masuk akal. Seperti harus glowing hanya dengan air wudhu agar budget skincare tidak mahal, ya mana ada, coba aja pikirkan. Apakah masuk akal wajah glowing hanya dengan air kalau bukan kulit bayi?. Ada-ada saja.
Setelah kita melihat calon pasangan kita adalah manusia seutuhnya, secara sadar tentu kita akan memahami bahwa dia pasti memiliki kekurangan yang kadang tidak kita suka. Apakah kekurangan itu bisa dikompromikan atau tidak. Jika tidak, pilihannya sangat mudah, jangan dilanjutkan untuk melanjutkan kisah cinta dalam rumah tangga. Yang ada hanya nyesek terus di dada. Namun, jika kekuarangan pada calon pasangan kita bisa dikompromikan dan diperbaiki, maka berilah kesempatan dia untuk menjadi baik dan lebih baik bersama.
Tekadang, ketidakyakinan seseorang akan sebuah konsep jodoh karena dia tidak bisa mewujudkan konsep pasangan ideal yang kita bayangkan. Harusnya kita sadar dan harus adil, jika orang lain kita tuntut untuk menerima kekurangan atau apa adanya kita, kenapa kita tidak bisa menerima kekurangan orang lain yang akan menjadi calon pasangan kita. Kompromi ekspektasi ini menjadi sangat penting bagi para single yang memang ingin menikah tapi selalu meragu “apakah dia jodohku atau tidak?”.
Keyakinan Perlu Diasah
Kemudahan meyakinkan diri apakah dia jodoh kita atau tidak bisa dilakukan dengan berbagai cara.
- Dalam Islam sudah jelas sekali memberikan panduan, kita bisa memilih pasangan karena nasab/keturunan, harta, rupa, agama. Dan yang paling baik adalah agamanya. Konteks agama ini seharusnya sudah paket komplit. Ketika seseorang paham benar dengan ajaran agama, maka akhlaknya pun baik pada pasangan dan siapa saja.
- Rasakan kenyamanan dalam diri kita. Hal ini yang tidak bisa dijawab atau diukur oleh orang lain. Sebab yang bisa merasakan adalah diri kita sendiri. Seperti kamu nyaman dengan seseorang yang sefrekuensi dalam beberapa hal baik. Karena kenyamanan seringkali membawa kita pada kebahagiaan. Abaikan ocehan yang tidak penting. Life must go on.
- Sadar dan menerima. Setelah kita menyadari kondisi kita dan menerima kita dengan baik. Maka keyakinan itu akan sendirinya tumbuh. Apakah calon pasangan kita ini jodoh kita atau bukan. Jika bukan, perlu buka hati dan pikiran untuk mencari yang baru. Agar tidak terjebak pada rasa sesal atau galau yang berkepanjangan.
Konsep Jodoh Tidak Rumit
Banyak konsep jodoh yang disampaikan dalam berbagai sudut pandang. Meyakinkan diri sendiri apakah orang yang bersama kita saat ini benar-benar jodoh kita, tentu ada berbagai cara yang bisa dilakukan. Namun yang paling penting adalah kita tau apa tujuan kita menikah, menyadari dan menerima kelebihan dan kekurangan calon pasangan. Sehingga keyakinan apakah dia jodoh terbaik kita akan sendirinya tumbuh.
Jika suatu saat muncul ketidaknyamanan, jangan langsung menyimpulkan bahwa pasangan kita saat ini bukan jodoh terbaik. Kita harus ingat, kembali pada poin-poin di atas, kita harus sadar dan menerima, bahwa kita adalah manusia yang memiliki peluang untuk melakukan kesalahan atau hal yang tidak baik. Begitupun dengan pasangan kita. Fokus di penyelesaian, bukan hanya pada keluhan dan masalahnya. sehingga kita tidak terburu-buru menghakimi keadaan dan menjatuhkan vonis, bahwa orang yang bersama kita saat ini bukan jodoh kita.
Konsep jodoh tidak serumit ekspektasi kita. Menjadi pasangan harusnya saling, saling melengkapi kekurangan masing-masing dengan kelebihan yang dimiliki masing-masing. Membangun relasi kesalingan bersama pasangan yang terus menciptakan hal baik dengan energi positif setiap hari. Agar rumah tanggah Sakinah, Mawaddah, Rahmah, Maslahah, Barokah.
Anifa Hambali merupakan nama pena dari penulis yang memiliki nama asli sesuai akta lahir Anifatul Jannah. Pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Al-Islam Joresan, Ponorogo. S1 Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya dan S2 Islam dan Kajian Gender Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini aktif sebagai Koordinator Nasional komunitas Arus Informasi Santri Nusantara dan Fasilitator di Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia. Salah satu buku motivasi yang terbit di Belibis Pustaka berjudul “Santri Nikah Jomblo Punah”. Penulis bisa disapa di instagram @anifahambali.
