Raden Adjeng Kartini atau Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh perempuan jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kita semua pasti sudah tidak asing lagi dengan sosok beliau, di mana beliau yang selalu berjuang untuk mencari keadilan dan kesejahteraan untuk para kaum hawa pada zamannya. Hingga sampai saat ini hal-hal yang telah beliau lakukan sangat berpengaruh dalam perkembangan zaman. Bahkan mengubah cara pandang dan pemikiran masyarakat mengenai konsep kesetaraan dan kesejahteraan manusia, khususnya untuk perempuan.
Pada tanggal 21 April 1879 sosok Kartini lahir, tepatnya di Jepara, Jawa Tengah. Tanggal kelahirannya pun terus abadi dalam tiap tahunnya sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya “21 April Hari Kartini”. Hari Kartini selalu kita rayakan setiap tahun, sebagai manifestasi atas perjuangan beliau. Banyak masyarakat yang berlomba-lomba mengenakan kebaya terbaik dan juga sanggul di atas kepala. Semoga tidak sesempit itu; yang semoga ruh dan nilai dari perjuangan Kartini tidak terlihat secara visual dari luar saja, melainkan dia juga tervisualkan di dalam kepala dan juga hati, begitu juga dengan Hari-hari Nasional lainnya.
***
Kartini bersekolah di salah satu sekolah elit yang bernama Europeesche Lagere School (ELS). Sekolah ini tidak untuk umum, hanya orang-orang tertentu yang mendapat ijin pemerintah kolonial pada saat itu. Hanya khusus anak-anak keturunan Eropa, Negara Timur, dan anak-anak pribumi yang memiliki keturunan bangsawan. Karena Kartini merupakan perempuan yang memiliki darah bangsawan, beliau pun ikut bergabung untuk menmpuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS). Namun, di tengah perjalanan Kartini harus berhenti bersekolah, tentu saja karena masih menjamurnya stigma-stigma terhadap perempuan, perempuan harus di rumah. Sehingga beliau tidak bisa melanjutkan untuk bersekolah.
Kendati demikian, sosok Kartini pun tidak patah semangat. Meskipun beliau tidak boleh bersekolah, Kartini terus mengasah kemampuan dan keilmuannya dengan membaca buku. Beliau pun memilki sahabat pena yang berasal dari Belanda untuk bertukar pikiran, sahabat pena Kartini bernama Rosa Abendanon.
Melihat banyaknya ketimpangan dan ketidakadilan yang terus terjadi di lingkungannya khususnya terhadap perempuan. Kartini pun tidak tinggal diam dalam menanggapi isu-isu yang terjadi, dengan bekal keilmuan dan relasi yang telah beliau miliki, beliau menjadi pelopor untuk memberantas ketidakadilan terhadap kaum perempuan, berusaha memperjuangkan hak-hak perempuan. Karya-karya yang ia tulis pun banyak menginspirasi banyak orang, hingga pada akhirnya bedirilah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912.
Menjadi Kartini di Zaman Sekarang
Dari hasil data Sensus Penduduk 2020, penduduk perempuan Indonesia berjumlah 133,54 juta orang atau 49,42 persen dari penduduk Indonesia. Kalau kita lihat dari hasil tersebut, tentu sangat banyak perempuan hebat bangsa Indonesia miliki dan juga calon-calon penerusnya, akan tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan bisa menjadi buruk jikalau kita tidak saling menjaga dan melindungi satu sama lain baik itu dari keamanan, kesejahteraan, ekonomi, pendidikan, moral, dsb.
Estafet perjuangan Kartini bisa terus berlanjut oleh perempuan Indonesia. Bermula dari kesadaran yang mendalam akan pentingnya ilmu pengetahuan. Di samping seorang laki-laki yang menjadi peran penting dalam menjalani kehidupan, peran seorang perempuan pun tidak kalah penting dalam membentuk suatu tatanan. Perjuangan Karitni saat itu tidak terlepas dengan bekal ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Selain itu, perlu juga seimbang dengan pemahaman agama yang benar, mengetahui akhlak dan perilaku seorang perempuan sesuai agama. Dengan demikian, maka perempuan akan menjadi sosok yang fundamental dalam mengambil peran, dapat mengamlakan ilmu pengetahuan yang ia miliki tentunya selaras dengan aturan-aturan agama.
***
Kalau kita tarik sedikit pada era dulu, di mana perempuan dianggap lemah, tidak diperbolehkan bekerja, hanya boleh mengikuti perintah laki-laki atas kemaunnya sendiri. Kesejajaran laki-laki dan perempuan cukup lemah. Penilaian yang bias terhadap asumsi-asumsi terhadap perempuan. Asumsi dogmatis yang menganggap bahwa bakat moral etik perempuan lemah. Namun, akhirnya pandangan-pandangan seperti itu telah terpatahkan tidak lain karena perjuangan perempuan, bukan saja Kartini. Ada banyak perempuan-perempuan dahulu yang juga ikut berjuang pada zamannya dalam membela keadilan dan juga kesejahteraan, seperti Cut Nyak Dien yang membuktikan bahwa perempuan juga bisa melawan, Dewi Sartika salah satu tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan di Indonesia. Kemudian Nyai Ahmad Dahlan, Hj Rangkayo Rasuna Said, Maria Walanda Maramis, dan masih banyak lagi.
Semua perempuan bisa menjadi Kartini-Kartini berikutnya, bisa menjadi seseorang yang berpengaruh, bisa membuat perubahan dalam perkembangan zaman, terutama perempuan Indonesia. Kenapa tidak? Karena fakta terkini telah menjawab, bahwasannya telah banyak perempuan-perempan yang mampu menjalani pekerjaan seorang laki-laki.
Peran Perempuan
Prasangka yang ada, bahwa laki-laki lebih rasional dan perempuan lebih emosional, terbantahkan sudah. Karena perempuan ternyata mampu dan bisa menjalani profesi-profesi tertentu di mana bukan hanya kepintaran, tetapi juga self-control, seperti menjadi dokter, perawat, hakim, menteri, presiden dan seterusnya.
Namun, ada juga hal-hal yang perlu dikontrol bagi setiap perempuan begitupun laki-laki. Jangan hanya karena perempuan telah dianggap naik kedudukannya, kemudian melupakan bagaimana kodrat dan akhlak seorang perempuan dalam aturan agama. Menganggap diri selalu benar yang akhirnya hal itu yang akan membuatnya jatuh dan menjadi boomerang akan kemuliaannya. Sejatinya kita semua memilki peran dan juga kekosongan masing-masing, di mana laki-laki bukanlah makhluk yang sempurna di situlah peran perempuan untuk mengisi dan menjadi pelengkap atas kekosongan tersebut, begitupun sebaliknya.
Seperti ungkapan dari K.H. Sahal Mahfudz, Islam sesungguhnya secara ideal-normatif tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, apalagi mendiskriminasikan perempuan. Bahkan, Islam adalah pembawa keselamatan dan kerahmatan seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Islam menempatkan pengangakatan derajat dan posisi perempuan sebagai bukti keutamaanya. Perempuan yang pada masa jahiliah tidak dihargai, dengan kedatangan Islam ia menempatkan tempat terhormat, memperoleh pendidikan, dan terbukanya kesempatan yang lebih luas untuk aktualisasi dan pengembangan diri.
Pada dasarnya tidak ada kemuliaan tertinggi kecuali hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Baik itu laki-laki maupun perempuan, sejatinya anugerah yang kita dapatkan itu semua berasal dari Yang Mahakuasa. Mengenai perjuangan Kartini tadi, tentunya kita harus tetap melanjutkan perjuangan beliau, sudah saatnya perempuan untuk terus berkarya, berkiprah, dan bermanfaat bagi sesama sesuai keahlian. Ingatlah bahwa Hari-hari Nasioanl bukanlah acara seremonial semata, melainkan dengan adanya peringatan Hari-hari Nasional bisa menjadi sebuah momentum bahwasannya keadilan dan kesejahteraan harus tetap diperjuangkan sampai kapan pun.
Mahasiswa Ilmu Hadits Universitas Ahmad Dahlan dan aktif juga di IMM
