Semangat Juang Rohana Kudus Majukan Pendidikan Perempuan Minang
Minangkabau adalah salah satu suku di Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat. Posisi perempuan Minangkabau dalam tradisi adat tidak setara dengan kaum laki–laki. Namun para perempuan Minang harus juga dimuliakan, dilindungi oleh keluarga, pemangku adat, ataupun seorang suami bagi masyarakat minangkabau.
Pergerakan masyarakat Minangkabau di Provinsi Sumatera Barat tidak semata–mata hanya muncul dari gerakan kaum laki–laki. Namun para perempuan Minang juga turut ambil andil di dalamnya, salah satunya Rohana Kudus.
Rohana Kudus lahir di tengah gejolak hati nurani kaum perempuan yang merasakan ketidakadilan perlakuan dalam segala hal. Dengan kecerdasan, sifatnya yang pemberani, Rohana memilih mengorbankan apa yang ia punya dengan perjuangan yang luar biasa. Ia menerobos dan mendobrak semua perlakuan yang sangat tidak adil terhadap kaum perempuan.
Keluarga Rohana Kudus
Rohana Kudus merupakan wanita yang lahir tepat pada tanggal 20 Desember 1884 di Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. Ia memiliki nama asli Siti Rohana, ia merupakan anak dari Muhammad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya yang bernama Kiam. Rohana Kudus merupakan kakak tiri dari Sutan Sjahrir, perdana menteri Indonesia pertama yang juga merupakan salah satu founding fathers Indonesia. Ia juga merupakan bibi dari penyair Indonesia yang terkenal, yaitu Chairil Anwar, yang juga penyair pelopor angkatan 45.
Selain dua tokoh di atas, Rohana Kudus juga memiliki sepupu yang turut andil dalam Kemerdekaan Indonesia, yakni H. Agus Salim. Salim juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia pertama dan menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Shajrir dan Hatta (1947 –1949). Agus Salim merupakan salah satu tokoh pendiri home scholling Indonesia. Ia sangat peduli dengan pembentukan watak dan karakter pribadi manusia. Yang menurutnya merupakan suatu hal yang tidak akan didapatkan di sekolah formal.
Kembali pada pembahasan Rohana. Meski ia adalah seorang anak perempuan Minangkabau yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, tapi kemauannya tidak kalah dengan siswa–siswa sekolahan. Keinginan dan semangat tinggi yang dimiliki oleh gadis Minangkabau nan kental dengan adatnya ini membuat ia cepat menguasai materi-materi yang sang ayah ajarkan.
Materi pelajaran yang kerap ia dapatkan dari ayahnya ialah membaca, menulis, belajar bahasa Arab, bahasa Melayu dan belajar berhitung. Kesempatan belajar dan membaca tak hanya ingin ia maksimalkan untuknya sendiri. Rohana yang sudah lancar baca tulis berkat ajaran ayahnya ia juga berkeinginan agar teman–temannya memiliki kesempatan yang sama dengannya.
Sejarah Pergerakan Rohana Kudus Di Minangkabau
Abad ke 15 merupakan awal munculnya gerakan perempuan. Pelopor gerakan perempuan kala itu ialah Christine de Pizan. Ia memiliki pandangan bahwa apabila gadis–gadis kecil diajari dengan baik, maka mereka akan memahami seluk beluk seni dan ilmu pengetahuan sebaik yang dipahami oleh anak laki – laki (Sahed, 2020).
Melihat sejarah bahwa semangat kemajuan pentingnya keadilan kaum perempuan di Eropa ikut menyebar ke Hindia Belanda. Hal ini ditandai dengan munculnya ragam tuntutan hak-hak perempuan untuk bersekolah dan dilanjutkan dengan keikutsertaan dalam kegiatan sosial politik bahkan dengan ragam keterlibatan organiasi yang diikuti.
Pendidikan merupakan gerakan yang terbukti merangsang kesadaran kaum perempuan bahwa gerakan–gerakan feminis yang perempuan perjuangkan dalam mempertahankan haknya untuk memiliki kesamaan dan kesetaraan dengan kaum laki-laki Minangkabau. Perempuan-perempuan terpelajar yang orang tuanya sekolahkan di sekolah berkemajuan dengan bangganya mendirikan sekolah khusus perempuan dan sekolah keterampilan yang tidak hanya mengajarkan mereka bagaimana mengurus rumah tangga yang baik. Tetapi juga mengajarkan mereka untuk belajar agama, tulis baca dan berhitung huruf latin.
Rohana Kudus menjadi pelopor gerakan perempuan berkemajuan di Minangkabau. Ia ingin suaranya didengar oleh perempuan di luar Minangkabau. Maka pada usia 28 tahun Rohana Kudus menerbitkan surat kabar yang bernama Soenting Melajoe. Namun, Rohana merasa perputaran zaman tidak akan pernah mengubah perempuan untuk menyamai laki laki.
Tidak hanya itu, terbitnya Putri Hindia Belanda di Bandung yang terbit dua kali dalam satu bulan atas inisiasi golongan atas seperti R.A Tjoko Adikusumo dan lain–lainnya. Terbut di Kota Padang pada tanggal 10 Juli 1912, Surat Sunting Melayu yang terbit tiga kali seminggu merupakan salah satu peran Rohana Kudus dalam sumbangsihnya terhadap pemikiran kaum perempuan. Bahkan bentuk gerakan dalam mengangkat harkat martabat kaum perempuan Minang.
Tak hanya demikian Rohana Kudus bersama dengan 60 orang perempuan, termasuk istri para tokoh adat dan agama Koto Gadang, menggagas pembentukan Vereeniging “Karajinan amai satia” di Kota Gadang, tepat pada tanggal 11 Februari 1911. Dan Rohana Kudus pun terpilih sebagai presidennya. Perkumpulan Kerajinan Amai Satia ini bertujuan untuk memajukan peran perempuan Minangkabau. Usaha ini mereka tempuh melalui jalur perekonomian dalam rangka mencapai kemuliaan seluruh bangsa. Guna mewujudkan hak tersebut Vereeniging Karadjinan Amai Satia membuka sekolah yang bernama Sekolah Karadjinan Amai Satia.
Sekolah Karadjinan Ama Satia ini merupakan sekolah perempuan pertama di Minangkabau. Berlokasi di Kota Gadang, mata pelajaran yang para pegajar berikanpun berupa pelajaran membaca, menulis huruf Arab, Arab Melayu, dan latin tingkat dasar. Pelajaran lainnya yakni pelajaran tentang adat istiadat, agama, pendidikan rohani dan pendidikan akhlak.
Sekolah Kerajinan Ama Satia ini mengangkat peran perempuan Minangkabau melalui Rohana Kudus dan teman–teman perempuan lainnya dalam memberikan peran keterlibatan perempuan Minang. Serta menunjukkan adanya kesetaraan gender antara laki–laki dan perempuan Minangkabau. Keterlibatan ibu–ibu dalam sekolah ini memperlihatkan bahwa perempuan minangkabau melalui gerakan pendidikan yang digagas Rohana Kudus mengantarkan akan cita–cita kesetaraan gender antara kaum adam dan hawa di bumi yang penuh dengan budaya adat istiadat nan kental.
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Univeristas Muhammadiyah Yogyakarta. IG : riski_alamri.
