“Semoga ada masa di mana sekolah libur panjaaang!”
“Aamiin!”
Pengharapan yang aku rasa wajar. Meskipun terkesan seperti kelakar, tetapi dengan banyaknya yang menyahuti dengan kata ‘aamiin’, itu sudah cukup menunjukkan bahwa kami—para—pelajar pun perlu istirahat sejenak. Semisal, hari Minggu yang sedikit lebih lama, empat puluh delapan jam, mungkin. Atau justru, hari Senin yang diperpendek menjadi tiga jam saja.
Ada juga yang berharap kalau setiap hari itu hanya ada pelajaran olahraga atau kesenian saja. Matematika, Kimia, Fisika, Bahasa Inggris … tentu saja semua yang memaksa otak untuk berpikir lebih keras itu harus dihapuskan. Tidak perlu naif, karena semua pelajar pasti pernah memimpikan hal ini. Namun, bagaimana jika doa itu Allah kabulkan? Hari Minggu tidak lagi dua puluh empat atau empat puluh delapan jam, tetapi menjadi setahun, dua tahun, atau bahkan tiga tahun ke depan. Bagaimana rasanya?
Andai aku tahu jika esok kami semua tak lagi bisa saling menyapa, berkelakar membagi kisah jenaka, atau duduk bersaama menikmati WIFI dengan menghidu aroma kopi sampai pagi, tentu aku akan menghampiri mereka. Tak akan pernah aku menyia-nyiakan apa pun yang terjadi pada hari ini. Sesederhana apa pun hal itu, sungguh akan kunikmati setiap hal yang mungkin akan berakhir sebagai memori.
Andai aku tahu bahwa segalanya akan rumit karena sebuah masa yang disebut pandemi, tentu aku tak akan pernah menyia-nyiakan masa indahku di bangku sekolah. Membolos, abai pelajaran, tentu semua itu tak akan pernah aku lakukan.
Andai aku pun tahu jika akan ada badai di tengah cuaca yang sebelumnya sangat tenang, sudah pasti akan kulakukan banyak hal. Banyak hal yang sangat berharga.
***
“Ah!” Dito mengempaskan badan tambunnya ke atas kasur. Buku paket Kimia menutup kepalanya, hingga suaranya yang berat terdengar semakin berat. “Kalau gini terus, nggak kuat aku, Bro.”
“Sama.” Pram lebih memilih memainkan jarinya di atas stick playstation daripada mengotak-atik tugas yang terkirim di WhatsApp-nya.
Jika dihitung, ini sudah bulan kedelapan kami tidak lagi pernah bertatap muka dengan teman-teman satu kelas, satu sekolah, dengan para guru juga. Semua hari terasa seperti hari Minggu. Semua tanggal di kalender seakan-akan berubah warna dari hitam menjadi merah. Hal ini harusnya menyenangkan, kami harusnya bersyukur. Nyatanya, ini semua tampak mengerikan. Sangat mengerikan.
Aku sendiri pun lelah. Sepanjang hari harus menatap ponsel. Mengerjakan setumpuk tugas yang kadang tidak mampu memahaminya. Ketika duduk di tepian jendela kamar seperti ini, aku kadang tidak menyadari kapan matahari mulai tenggelam dan kembali terbit. Semua hal terasa sangat melelahkan. Padahal, seharian hanya diam, berkegiatan di dalam rumah.
“Aku rindu Anton. Kamu rindu nggak, Dim?”
Aku terdiam sesaat. Mendengar pertanyaan Dito, hatiku rasanya sakit. Anton adalah teman sekelas kami. Siswa pintar, pendiam, tetapi selalu terkena bully oleh kami. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kami setiap hari mengerjainya. Menyuruhnya berlari ke kantin untuk membelikan kami makanan, menyuruhnya mengerjakan semua pekerjaan rumah kami, atau menghajarnya habis-habisan hanya sekadar untuk meluapkan emosi kami.
***
Anton yang miskin, tidak berdaya, tidak ada yang membela, dia meninggal sebulan lalu, gantung diri di rumahnya. Alasannya sederhana. Bukan karena tekanan dari bullying kami, bukan pula karena tiada teman yang membela. Hanya karena ponsel. Iya, ponsel yang dianggap sebagian orang adalah benda murah, ternyata tidak begitu bagi Anton. Bapaknya yang hanya bekerja sebagai pengumpul barang bekas, untuk makan saja susah, bagaimana dengan ponsel?
“Andai nggak ada kelas daring, Anton mungkin masih hidup,” ujar Dito sambil menerawang ke langit-langit kamarku. “Kita bahkan belum sempat minta maaf padanya.”
Itu benar. Itu mungkin satu-satunya sebab mengapa hati kami selalu gelisah. Tidak ada yang harus disalahkan atas semua ini. Sungguh tidak ada. Keadaan memang sedang sulit, dunia sedang bergejolak melawan wabah yang entah. Kami tak bisa berbuat apa-apa.
“Dua bulan lagi kita wisuda kelulusan. Masa SMA sudah tamat,” kata Pram. “Rasanya, aku trauma untuk lanjut sekolah kalau begini caranya.”
“Sama.” Dito menimpali. “Bagaimana denganmu, Dimas?”
Aku? Aku pun tidak tahu apa hari esok wabah itu akan membiarkanku hidup.
Hari ini, dari jendela kamar yang aku tempati selama lebih dari sepuluh tahun, langit terlihat mendung, suram, berguntur dengan air yang terus menetes. Apakah langit juga sedang berduka seperti kami?
Suatu hari, di waktu yang tepat aku yakin, Tuhan akan menyiapkan kembali pertemuan untuk kami semua. Namun, bukan sebuah pertemuan untuk menceritakan sebuah kisah baru, tetapi berbagi cerita, bernostalgia tentang kisah hari ini. Sebuah kisah utuh yang membuat kami semua rindu, meski jarak tidaklah jauh.
Editor: Rifky Aritama
Penulis novel, cerpen, puisi asal Kota Pahlawan, dan pegiat literasi di A3 Community.
