Site icon Inspirasi Muslimah

Sekali Lagi, Kartini Diperkosa Zaman

kartini

Sore itu saya sedang menghabiskan waktu penantian berbuka atau sering kita sebut dengan ngabuburit di salah satu perpustakaan di Maguwoharjo. Suasananya cukup tenang untuk merenungi dosa-dosa dan kebodohan selama ini. Di sudut ruangan saya bertemu dua orang junior saya di kampus. Satu sedang membaca buku “Menekuk Tanpa Menjadi Patah” buku yang menceritakan memoar perempuan penyintas revolusi kebudayaan rezim Mao Zedong, yang lain sedang asik menekuni kalimat-kalimat di buku “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El Saadawi beberapa waktu lalu telah beristirahat selamanya. Lalu saya hanya membaca buku bawaan sendiri kumpulan korespondensi surat-surat Syahrir kepada istrinya dengan judul “Renungan dan Perjuangan”.

Karena sedang membaca buku renungan Syahrir, saya juga ikut termenung dengan pemandangan di depan saya. Dua orang perempuan muda sedang membaca buku menyoal mereka, saya pikir ini tidak terlepas dari euforia hari Kartini. Meski demikian saya percaya mereka perempuan-perempuan yang progresif, bagaimana tidak perut mereka boleh berpuasa tapi kepala jangan sampai.

21 April adalah hari Kartini, yang merupakan tanggal lahirnya pada 21 April 1879 di Jepara. Raden Adjeng Kartini lahir dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat seorang patih yang mendapat amanah menjadi bupati Jepara setelah memadu ibu R.A Kartini yang bernama Ngasirah dari kalangan rakyat biasa. Sebab waktu itu pemerintahan Hindia Belanda memberlakukan peraturan bahwa seorang Bupati wajib menikahi wanita dari kalangan bangsawan, maka R.M.A.A Sosroningrat menikahi Raden Adjeng Woerjan keturunan langsung dari raja Madura R.N.T Tjitrowikromo. Bahkan ibu Kartini harus memanggil Ndoro kepada Kartini.

***

Hari Kartini selalu kita rayakan setiap tahun, seringkali dengan memakai kebaya dan sanggul sebagai bentuk manifestasi semangat Kartini, sesempit itu. Kartini hidup pada zaman yang meniadakan keadilan dan hak-hak sebagai manusia. Bahkan sampai ia wafat hingga saat ini, zaman sudah berganti-ganti namun ia masih saja dalam pingitan pikiran distorsi generasi dan perdebatan golongan yang menjengkelkan itu.  Kartini selalu menjadi perebutan di setiap zaman, ia tidak pernah kita lihat sebagai dia yang sesungguhnya. Setidaknya ada beberapa fase transformasi zaman dalam memperkosa eksistensi Kartini.

Kartini hidup dalam adat dan zaman yang kuno, ia merasa terbatasi dalam hal belajar akibat budaya pingitan. Sebab pada masa itu seorang gadis yang sudah memasuki umur 12 tahun tidak boleh keluar rumah, terkunci dalam kamar, dan hanya menunggu lelaki yang menjemputnya sebagai istri yang entah keberapa. Terlihat dari kekesalannya dalam sebuah surat yang ia kirim kepada sahabat penanya Stela Zeehandelaar seorang gadis aktivis sosialis.

“…Jalan kehidupan gadis Jawa itu sudah dibatasi dan diatur menurut pola tertentu. Kami tidak boleh punya cita-cita. Satu-satunya impian yang boleh kami kandung ialah: hari ini atau esok dijadikan istri seorang pria yang ke sekian!…”

Ia menegaskan juga bahwa dalam masyarakat jawa persetujuan wanita tidak perlu, ayahnya bisa kapan saja memberi kabar bahwa ia sudah menikah dengan seorang pria dan ia hanya bisa menurut. Hal ini juga sudah ia alami dari tragedi ibunya, tercerabut hak-haknya sedari kecil, seorang perempuan muda dibungkam dengan cara dinikahkan. Maka bagi Pramoedya Ananta Toer, sosok Kartini adalah prototipe manusia Indonesia yang sudah memiliki spirit anti-feodalisme dan sekaligus anti-kolonialisme dalam pikiran maupun tindakannya.

***

Namun demikian Kartini memilki dukungan yang cukup kuat dan beberapa karya dalam memenuhi kebutuhan serta membentuk kerangka intelektualitasnya; Kakaknya Sosrokartono adalah ahli mistik dan filsafat Jawa; kemudian Multatuli atau Douwes Dekker lewat karyanya Surat-Surat Cinta Maltatuli dan Max Havelaar yang membuka matanya bahwa betapa buruk kebijakan tanam paksa (Cultuurstelsel); G. Goekoop de Jong van Beek en Donk, yang menulis buku Hilda van Suylenburg (1898) memberi inspirasi Kartini tentang perjuangan wanita dalam masyarakat; Pandita Ramabai seorang aktivis hak dan Pendidikan perempuan dan pelopor emansipasi perempuan di India juga seorang reformis sosial; yang terakhir adalah salah satu sahabat penanya Stela Zeehandelaar.

Lalu sahabat penanya yang lain J.H Abendanon seorang Menteri kebudayaan, agama, dan kerajinan Hindia Belanda membukukan kumpulan korespondensi surat-surat Kartini pada tahun 1911 yang berjudul asli “Door Duisternis Tot Licht”. Terjemahan oleh Armijn Pane pada tahun 1968. Hal ini tidak terlepas dari kepentingan politik etis pemerintah Hindia Belanda sejak 17 September 1901 untuk menyamarkan keserakahan dan kebobrokan sistem tanam paksa yang telah merenggut 100.000 nyawa bumiputra.

Lalu keluarga Van Deveenter memframing Kartini dalam gerakan sosialnya mendirikan Yayasan Kartini. Bahkan salah satu surat kabar De Tijd (The Time) edisi Juni 1911 merespon dengan nada arogan; “lihatlah, kami orang belanda bisa melahirkan pribadi yang pintar dan tercerahkan”. Kartini sebagai korban objek narasi dari kepentingan politik Hindia Belanda dalam mempertahankan kekuasaannya di Parlemen kerajaan Belanda.

***

Pada masa Orde Lama di bawah kekuasaan Soekarno, semangat Kartini meluas masuk dalam sendi-sendi kesadaran rakyat. Jauh sebelum itu, sebenarnya sudah ada kongres perempuan pertama bersama Jong Java yang menampilkan episode Kartini bersama Sujatin Kartowijono seorang aktivis perempuan. Lalu Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) sayap organisasi perempuan Partai Komunis Indonesia. Di sini semangat Kartini mendapat tempat dan hak namun juga terbatasi di bawah kepentingan negara.

Paradoks Soekarno dalam mengakomodir gerakan perempuan sangat terlihat menjadikan mereka alat politik demi mempropagandakan gerakan kerakyatan. Selain itu juga keputusan Presiden (Keppres) No. 106/1964 tidak sejalan dengan cita-cita tertinggi Kartini dalam perjalanan spiritualitasnya. Tertuang dalam suratnya “Panggil Aku Kartini, Itulah Namaku” (Kartini, surat 25 Mei 1899, kepada Estelle Zeehandelaar); “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah” (Surat Kartini kepada Ny Abendanon, 1 Agustus 1903).

Saya pikir hari spesial yang dengan memakai kebaya dan sanggul yang besar di atas kepala namun tidak dengan isi kepalanya bukanlah amanat yang Kartini kepada kita. Terlebih perdebatan posisi Kartini yang pro gerakan feminis atau bukan itu sangat keliru. Kartini adalah Hamba Tuhan yang memperjuangkan keadilan di muka bumi ini, kita saja yang memperkosa perjuangannya berkali-kali setiap tahunnya.

***

Orde Baru juga demikian, semangat Kartini kembali dipingit dikerdilkan juga disempitkan sesempit baju kebaya yang digunakan untuk memperingati hari kebangkitan pikiran modern anak bangsa. Juga gerakan-gerakan perempuan dikebiri, perempuan dikembalikan pada ruang-ruang privat, perempuan hanya boleh berada dalam ranah domestik saja.

Jika ada yang berani menolak dan melawan maka akan mendapat tuduhan sebagai Gerwani antek-antek PKI. Ketakutan pada PKI pasca pemberontakan Madiun 1948 dan juga G30S/PKI 1965 berimbas kepada bara api semangat Kartini yang mulai padam pengaruhnya, perempuan kembali menjadi komoditi dan objek biologis.

Meski begitu, memasuki akhir-akhir kekuasaan Orde Baru meratifikasi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convetion on the Elemination of All Forms Of Discrimination Against Women-CEDAW). Hal ini masih kita rasakan sampai sekarang. Hari kartini hanya menjadi semacam festival kebudayaan. Bahkan pelajaran Kartini di sekolah dasar hanya sebatas judul bukunya saja “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Tertulis dengan typografi yang indah di atas sebuah kertas karton di dinding kelas, cukup begitu saja.

***

Lalu pasca Reformasi sebagai harapan Kartini akan terpandang menjadi ia seutuhnya, ternyata tidak. Walau gerakan perempuan merambah sedemikian rupa pasca reformasi menanggapi isu pelanggaran HAM besar-besaran terhadap etnis Tionghoa yang menjadi korban pemerkosaan maka lahir Komnas Perempuan. Tapi Kartini tidak juga bisa menjadi diri sendiri, menjadi Hamba Allah yang ia maksud.

Ia menjadi perdebatan panas antar golongan, mencoba memperebutkan eksitensinya dalam memihak suatu kepentingan. Kartini sudah lama istirahat di bawah kekuasaan Orde Baru. Sekarang Kartini kembali menjadi objek politik untuk memuaskan hasrat nafsu kita demi keunggulan kelompok pikiran masing-masing golongan.

Senaif itu kita dalam melihat Kartini, kita sibuk menonjolkan emansipasi dan kepedulian kita kepada perempuan tapi di lain sisi dengan cara yang paling sunyi kita juga yang mematahkan dan mendiskreditkan perempuan dengan cara masing-masing termasuk saya dan termasuk mereka yang berteriak “hidup perempuan yang melawan”.

Kita sibuk menghias diri bak Kartini tapi enggan kembali membaca pesan-pesan dan buah pikir yang ia lahirkan. Gagal mengikuti caranya melawan. Kita gagal belajar cara ia membaca situasi dan menulis keresahan. Kini kartini hanya bisa terkenang secara visual tidak dengan kesadaran intelektual. Ia gagal menjadi Kartini sesuai namanya, ia gagal menjadi Hamba Allah yang ia impikan di tahun-tahun terakhir hayatnya. Ia diperkosa sepanjang zaman, Kartini istirahatlah dalam pelukan Tuhan.

Bagikan
Exit mobile version