Site icon Inspirasi Muslimah

Salah Kaprah ASI Eksklusif

drakor

Perkembangan teknologi informasi sudah banyak membantu para orang tua baru untuk mendapatkan banyak informasi terkait pengasuhan, salah satunya tentang pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif.  Informasi tentang ASI Eksklusif sudah sangat banyak beredar melalui berita, artikel, jurnal dan media sosial hanya bermodalkan kuota internet. Namun sayangnya masih banyak orang tua yang salah kaprah dalam memahami tentang pemberian ASI Eksklusif.

ASI Eksklusif menurut World Health Organization (WHO, 2011) adalah memberikan hanya ASI saja tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan, kecuali obat dan vitamin. Namun bukan berarti setelah pemberian ASI eksklusif pemberian ASI dihentikan; akan tetapi tetap diberikan kepada bayi sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih.

“Bu, saya baru melahirkan 2 hari yang lalu tapi ASI saya tidak keluar, bisa bantu saya mendapatkan donor ASI?.”, “Mbak, saya ASI Eksklusif tapi kok ini produksi ASI saya mulai menurun ya? Padahal saya tetap memerah ASI saat bekerja tapi anak saya tidak mau menyusui langsung ke payudara saya, anak saya lebih senang minum melalui botol dot”.  Itu sebagian besar keluhan yang dilayangkan oleh klien yang mengkontak ke nomor konseling AIMI Lampung yang saya dapati saat membahasnya dengan pengurus.

Tantangan Ibu Muda saat Menyusui

Ya saat ini menyusui sudah menjadi life style bagi para ibu muda, namun masih banyak yang salah kaprah tentang ASI Eksklusif ini. Para ibu muda bisa dengan bangganya “memamerkan” hasil perahannya yang berkulkas-kulkas; tanpa mempertimbangkan hal tersebut membuat ibu lain insecure merasa ASInya tidak berkualitas dan sedikit. Padahal tanda-tanda kecukupan ASInya pada bayinya sudah terpenuhi. 

Tidak sedikit para Ibu yang berjuang mencari donor ASI saat menghadapi berbagai tantangan menyusui yang bukan disebabkan karena indikasi medis. Para Ibu muda masih banyak yang mencari jalan pintas untuk bisa sukses ASI Eksklusif tanpa melalui tahap evaluasi manajemen laktasi bersama dengan orang-orang yang kompeten seperti konselor menyusui.

Menurut saya sejatinya proses menyusui bukan hanya sekedar memberikan ASI karena di sana ada proses asah, asih dan asuh.  Bagaimana kita bisa mengasah kemampuan sensorik dan motorik bayi jika kita tidak pernah menstimulusnya dengan menyusui langsung ke payudara ibu? Apakah kita bisa mengasihinya jika tidak ada bonding antara ibu dan anak karena botol dot sudah menghalangi kasih sayang tersalurkan melalui menyusui? Lantas bagaimana kita bisa mengasuhnya jika kita tidak cepat beradaptasi dengan perkembangan anak karena kurangnya interaksi langsung sejak bayi?

Persiapan Menyusui Sejak Kehamilan

Para orang tua seharusnya sudah bisa mempersiapkan proses menyusui sejak proses kehamilan. Sehingga orang tua sudah mendapatkan informasi bahwa bayi masih membawa cadangan makanan sendiri selama 3×24 jam sejak persalinan. Maka dari itu orang tua tidak perlu khawatir jika ASI “belum keluar” selama ibu terus menerus menyusui  untuk menstimulus hormon prolaktin yang membantu produksi ASI.

Orang tua dapat mengetahui bahwa yang terpenting pada awal-awal menyusui adalah bayi harus memenuhi tanda-tanda kecukupan ASI; melalui frekuensi buang air kecil (BAK), frekuensi buang air besar (BAB) dan kenaikan berat badan bayi. Bukan melihat dari seberapa banyak ASI yang mengucur atau hasil perahan ibu.  Ibu dapat mengetahui semua itu saat mengikuti kelas menyusui, salah satunya yang sering dilakukan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Jangan pernah membayangkan bahwa pada awal-awal persalinan ASI akan mengucur seperti air mancur. Karena pada awal persalinan ukuran lambung bayi masih sangat kecil. Hal ini yang membuat produksi ASI menyesuaikan dengan kebutuhan lambungnya yang hanya sebesar kelereng.  Hal terpenting adalah membuat ibu rileks dan happy pada saat menyusui; sehingga hormon oksitosin juga dapat membantu memproduksi ASI selain hormon prolaktin.

Pertanyan lain yang sering muncul dari para klien antara lain; “Ibu, harus bagaimana jika ASI tetap tidak mau “keluar” saat lebih dari 3×24 jam?Kapan bayi boleh diberikan susu formula?”.  Maka yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah mencari bantuan kepada konselor menyusui untuk dilakukan evaluasi manajemen laktasinya terlebih dahulu; bukan dengan langsung memberikan susu formula secara sembarangan tanpa penegakan diagnosa adanya indikasi medis pada ibu atau anak oleh pihak yang berkompeten.

Susu formula memang bukanlah “racun” namun pemberiannya harus di bawah pengawasan pihak yang berkompeten. Tidak dengan sembarangan membeli dan memberikan kepada bayi seperti yang kebanyakan terjadi di tengah masyarakat kita.

***

Maka penting sekali orang tua membangun supporting system untuk memberikan dukungan menyusui untuk kesuksesan program ASI Eksklusif. Selain itu proses menyusui harus menjadi isu bersama. Menyusui bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu/istri tapi juga seluruh masyarakat mulai dari ayah/suami, keluarga, tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, komunitas/organisasi masyarakat dan pemerintah.  Sehingga supporting system untuk menyukseskan program ASI Ekslusif berjalan secara massif.

Orang tua juga secara aktif mempersiapkan diri untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya melalui kelas menyusui, pelatihan atau seminar yang membantu orang tua untuk mempersiapkan keterampilan menyusui sejak masa kehamilan atau sebelum kehamilan. So apakah Anda dan lingkungan Anda sudah mendukung untuk kesuksesan ASI Eksklusif?

Bagikan
Exit mobile version