Site icon Inspirasi Muslimah

Poligami Ali bin Abi Thalib dan Asumsi yang Ahistoris

ali bin abi thalib

Ali bin Abi Thalib adalah satu di antara sahabat Nabi yang berpoligami. Meski begitu –seolah mengikuti jejak Nabi Muhammad saw.–, Ali ra. hanya melakukan poligami setelah istri pertamanya, Fatimah binti Muhammad, wafat.

***

Hingga beberapa waktu yang lalu, saya (masih) berasumsi bahwa Ali bin Abi Thalib hanya menikah dengan Fatimah binti Muhammad. Bukan tak beralasan. Pasalnya, narasi yang seringkali muncul ketika membicarakan kehidupan keluarga Ali ra. adalah dinamika keluarganya dengan Fatimah ra. dan larangan eksplisit Nabi saw. ketika terbuka peluang bagi Ali untuk berpoligami.

Larangan itu terdokumentasikan dalam hadits berikut:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول وهو على المنبر: إن بني هشام بن المغيرة استأذنوا في أن ينكحوا ابنتهم علي بن أبي طالب، فلا آذن، ثم لا آذن، ثم لا آذن، إلا أن يريد ابن أبي طالب أن يطلق ابنتي وينكح ابنتهم، فإنما هي بضعة مني، يريبني ما رابها، ويؤذيني ما آذاها

Artinya, “Aku (Miswar bin Makhramah mendengar Rasulullah saw. berkata di atas mimbar. Sesungguhnya keluarga Hisyam bin al-Mughirah meminta izinku untuk menikahkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Aku tidak izinkan. Aku tidak izinkan, Aku tidak izinkan. Kecuali jika Ali bin Abi Thalib lebih memilih menceraikan putriku dan menikah dengan putri mereka (keluarga Hisyam). Sesungguhnya putriku adalah darah dagingku, menyusahkannya berarti menyusahkanku dan menyakitinya berarti menyakitiku”.

Dalam hadits tersebut, Nabi memberi dua pilihan tegas: menceraikan Fatimah untuk menikah dengan anggota keluarga Hisyam atau menjaga perasaan Nabi dan Fatimah dengan tidak menikahi perempuan lain. Setidaknya, selama Nabi Muhammad dan Fatimah masih hidup.

Karena penasaran, saya iseng bertanya ke beberapa teman mengenai kehidupan keluarga Ali bin Abi Thalib. Ternyata banyak di antara mereka yang (juga) belum tahu bahwa istri Abu Turab –panggilan Nabi kepada Ali– bukan hanya Fatimah. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari tahu fakta sejarahnya.

Sekilas Tentang Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib adalah satu di antara sedikit orang yang mula-mula masuk Islam. Ibn Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah (Juz 7, hlm. 222) mengkategorikan sebagai berikut: Khadijah binti Khuwailid sebagai perempuan pertama yang masuk Islam, Zaid bin Haritsah yang pertama dari kalangan budak, Abu Bakar ash-Shidiq dari kalangan laki-laki yang merdeka, dan Ali bin Abi Thalib masuk Islam di usianya yang masih sangat muda.

Awalnya, Ali ra. menyembunyikan keislamannya karena takut pada ayahnya. Akan tetapi, Abu Thalib malah memerintahkan putranya untuk mengikuti dan mendukung perjuangan Nabi Muhammad (Juz 7, hlm. 223).

Peran dan kontribusi Ali ra. untuk Islam tentu tidak boleh dipandang sebelah mata. Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala’ mengutip suatu riwayat hadits di mana Nabi Muhammad mengibaratkan hubungannya dengan Ali ra. seperti Nabi Musa dan Nabi Harun. Bedanya, Ali bukanlah nabi (Juz 2, hlm. 498).

Pernikahan Ali dan Fatimah

Mengutip pendapat ibn Abbas, at-Thabari dalam kitab Tarikh Ar-Rusul wa Al-Muluk menyebut bahwa Fatimah lahir ketika ayahnya, Muhammad bin Abdullah, berusia tiga puluh lima tahun, atau lima tahun sebelum beliau diutus menjadi Nabi (Juz 11, hlm. 597). Fatimah binti Muhammad menikah dengan Ali bin Abi Thalib lima bulan terhitung sejak perjalanan hijrah Nabi saw. dari Makkah ke Madinah (Juz 11, hlm. 598).

Ali bin Abi Thalib lahir tahun 599 M, adapun Nabi hijrah tahun 622 M. Artinya, Ali ra. menikahi Fathimah ra. kurang lebih ketika ia berusia 23 tahun. Sementara itu, Fatimah ra. yang lahir tahun 605 M dipersunting oleh Ali ra. pada usia antara 17 atau 18 tahun.

Pernikahannya dengan Fatimah binti Muhammad dapat dibilang tidak berlangsung lama. Alasannya karena tak berselang lama setelah Nabi Muhammad saw. wafat, giliran Fatimah yang dipanggil menghadap Sang Kuasa. Ada beragam pendapat kapan Fatimah ra. wafat. Ada yang menyebut tiga bulan selepas Nabi wafat. Pendapat lain menyebut lima, atau enam, bahkan delapan bulan setelahnya. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Perbedaan pendapat tentang wafatnya Fatimah ra. itu berpengaruh pada hitungan masa kehidupan keluarganya dengan Ali ra. Hitungan sederhananya, keduanya mengarungi bahtera rumah tangga selama kurang lebih 10 (sepuluh) tahun. Dari Fatimah ra., Ali bin Abi Thalib punya dua putra, yakni Hasan dan Husein. Sementara dua putrinya adalah Zainab dan Ummu Kultsum.

Ali Menikah Lagi

Setelah Fatimah binti Muhammad wafat, Ali bin Abi Thalib menikah lagi. Ia menikah dengan Ummul Banin, Laila binti Mas’ud, Asma binti Umais, Ummu Habibah, Umamah binti Ash, Ummu Said, Khaulah binti Ja’far, dan Mahyat.

Total ada sembilan perempuan yang diperistri Ali. Oleh karena ada pembatasan jumlah istri (dalam satu waktu) sebagaimana termaktub dalam Q.S. an-Nisa: 3, pernikahan Ali dengan delapan istri lainnya tidak terjadi pada waktu yang bersamaan. Beberapa di antara mereka merupakan janda dan bekas budak, sebut misalnya Asma binti Umais dan Khaulah binti Ja’far.

Asma binti Umais kali pertama menikah dengan Ja’far bin Abi Thalib. Setelah suaminya meninggal, ia diperistri Abu Bakar ash-Shidiq. Ia kemudian menikah dengan Ali bin Abi Thalib setelah Abu Bakar meninggal pada tahun 634 M. Asma binti Umais tergolong perempuan yang cerdas. Darinya lahir putra bernama Yahya dan Aunan (Adz-Dzahabi: Juz 3, hlm. 518-519).

Adapun tentang Khaulah binti Ja’far, hubungannya dengan Ali bin Abi Thalib bermula pasca Perang Yamamah. Waktu itu, Bani Hanifah menjadi salah satu aktor pemberontakan terhadap Islam. Mereka kemudian ditumpas habis. Khaulah adalah salah satu yang selamat. Oleh Abu Bakar ash-Shidiq, ia diberikan kepada Ali bin Abi Thalib. Setelah beberapa waktu menjadi budak, ia kemudian dibebaskan, dan selanjutnya diperistri oleh Ali ra. Dari rahimnya lahir putra yang tangguh bernama Muhammad al-Hanafiyah. (Adz-Dzahabi: Juz 5, hlm. 55).

Bagikan
Exit mobile version