Pernikahan merupakan hal yang paling dinantikan dalam kehidupan dua anak manusia berlainan jenis. Adanya ikatan pernikahan menandakan lahirnya kepribadian baru pada diri kedua belah pihak, yaitu suami dan istri.
Untuk mencapai tujuan dari pernikahan, tentunya harus memiliki persiapan mental dan keterampilan dalam menjalani peran sebagai suami dan istri. Dengan demikian, salah satu hal yang harus di perhatikan dalam pernikahan adalah kematangan usia.
Memperhatikan Usia Pernikahan
Usia pernikahan merupakan salah satu aspek penting dalam menentukan kematangan emosi, kematangan jasmani, dan juga kematangan sosial ekonomi. Maka dari itu, pernikahan usia muda rentan terhadap masalah dalam berumah tangga.
Berdasarkan data Badan Pengadilan Agama Mahkamah Agung, kasus perceraian pada 2020, per Agustus jumlahnya mencapai 306.688 kasus. Menurut Humas Pengadilan Jakarta Timur mengatakan bahwa dalam satu bulan, pihaknya menerima 900 laporan. Padahal sebelumnya hanya menerima 450 sampai 500 laporan dalam sebulan; yang artinya kasus perceraian mengalami peningkatan sebanyak 50%.
Setiap pasangan tentu saja tidak ada yang menginginkan namanya perceraian dalam hubungan mereka. Namun, rumitnya permasalahan yang sulit terselesaikan dalam rumah tangga kadang-kadang berakibat pada hubungan ikatan suami dan istri.
Ada beberapa faktor yang dapat memicu perceraian dalam berumah tangga seperti kurangnya kedewasaan pasangan suami istri, permasalahan ekonomi, sering terjadi kesalahpahaman pemikiran pasangan suami istri dan faktor-faktor sosial lainnya.
Jika melihat berita-berita di televisi tentang perceraian para selebritis, masalah komunikasi selalu menjadi alasan nomor satu yang dapat mengakhiri pernikahan mereka. Berdasarkan 100 pakar di bidang kesehatan mental yang menceritakan pengalaman yang dialami pasien mereka menyebutkan bahwa; menurut para suami, sikap tidak menghargai istri kepada suami adalah pemicu hambarnya komunikasi dalam rumah tangga. Sedangkan dari pihak istri sering merasa jengkel pada sikap suami yang sering tidak mendengarkan saran dan keluh kesah mereka.
Perceraian Tidak Menyelesaikan Segalanya
Banyak yang beranggapan bahwa perceraian merupakan jalan terbaik untuk membebaskan pasangan suami istri dari masalah. Namun mereka salah besar, karena pasca perceraian banyak lagi masalah yang menanti, seperti soal pengasuh anak dan pembagian harta.
Ada beberapa hal yang perlu pasangan pikirkan dan pertimbangkan ketika memutuskan untuk bercerai. Pasangan suami istri yang belum memiliki anak, masalah yang akan dihadapi pasca perceraian akan lebih ringan dibanding pasangan yang sudah mendapat keturunan.
Perempuan yang belum punya anak misalnya, mungkin perlu persiapan mental terkait perubahan status dari istri menjadi janda. Menurut psikolog perubahan status dapat menimbulkan depresi. Hanya saja, masing-masing perempuan memiliki caranya sendiri dalam mengungkap depresi itu.
Selain masalah perubahan status yang mengakibatkan depresi, hal lain yang perlu dipikirkan adalah tempat tinggal. Setelah berpisah dengan mantan suami, apakah akan kembali ke rumah orangtua atau tinggal sendirian. Begitupun dengan kebutuhan hidup. Bagi perempuan yang bekerja, mungkin tidak begitu masalah. Namun, bagi perempuan yang tergantung pada penghasilan suami, tentu harus berpikir untuk membiayai hidupnya sehari-hari.
Bagi pasangan yang memiliki anak, tentu saja permasalahannya jauh lebih rumit. Mereka tidak hanya memikirkan kesehatan mentalnya sendiri, tapi juga harus memikirkan kesehatan mental sang anak. Terutama jika usia anak TK dan SD, mereka cenderung mengalami perubahan perilaku setelah perceraian orang tuannya. Mereka bisa jadi akan lebih susah terkendali dan jadi pemurung.
Maka dari itu, sebelum memutuskan bercerai sebaiknya pasangan suami istri harus memikirkan secara matang.
Bimbingan Pernikahan Calon Pengantin
Meningkatnya kasus perceraian setiap tahun tentu saja membuat Menteri agama Fachrul Razi prihatin. Karena itu, Kemenag akan terus meningkatkan kualitas bimbingan perkawinan (bimwin) dan program Pusaka Sakinah.
Program bimwin sendiri berlangsung selama dua hari. Materinya tentu saja harus berkaitan dengan bagaimana membangun keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Selain itu juga membahas tentang kesehatan reproduksi, dan cara membangun generasi yang berkualitas.
Sebelumnya program ini hanya mampu menarget 7-10% calon pengantin (catin) dari sekitar dua juta peristiwa pernikahan dalam setahun. Maka dari itu, Kemenag berusaha mengembangkan metode bimbingan virtual. Gagasan ini diharapkan dapat menargetkan 40% catin dan target berikutnya akan menarget seluruh calon pengantin.
Pertahankan Pernikahan, Bangun Komunikasi
Sudah menjadi rahasia umum bahwa komunikasi adalah solusi yang paling tepat untuk menghadapi badai pernikahan. Namun semakin sering bersama, komunikasi justru semakin jarang dilakukan karena kesibukan yang padat dan lainnya.
Tidak ada permasalahan tanpa solusi, begitupun dengan pernikahan. Ada beberapa cara yang dapat suami istri lakukan agar komunikasi dalam sebuah hubungan menjadi lebih baik
Pertama, sedikit bicara, banyak mendengar.
Dalam sebuah hubungan, sangat penting untuk saling mendengarkan dan mengerti keinginan pasangan. Bukan sekedar ingin didengar, tapi tidak mau mendengarkan dan mengerti keadaan pasangan. Semakin anda saling mendengarkan, maka akan tercipta hubungan yang baik pula antara keduannya.
Seperti yang disebutkan oleh Imam Hatim Ibnu Hibban Al-busti dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala menyampaikan, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinga daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara.”
Kedua, ungkapkan perasaan dengan jujur.
Jika anda sulit untuk berkata jujur terhadap pasangan, komunikasi tidak akan berjalan efektif, tidak dapat menemukan solusi untuk mengatasi masalah, dan hubungan pun akan semakin merenggang. Memang tidak mudah untuk bersikap jujur dan terbuka mengenai perasaan terhadap orang lain, namun kejujuran akan membantu memperbaiki sebuah hubungan.
Ketiga, maksimalkan waktu anda.
Jadwal yang padah membuat intensitas komunikasi dengan pasangan makin berkurang. Untuk itu, cobalah untuk menyisakan sekitar 15-20 menit tiap harinya untuk melakukan diskusi, baik untuk membahas masa depan, masalah pribadi atau mendebatkan sesuatu. Cara ini efektif untuk membuat komuniaksi diantara pasangan tetap hidup.
Keempat, menggali lebih dalam.
Membuka topik percakapan yang menarik menjadi hal yang tidak mudah. Dibandingkan dengan menanyakan suatu hal yang hanya memiliki jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, lebih baik mulailah dengan pertanyaan terbuka. Seperti memperdebatkan berita terupdate, atau merencanakan liburan. Buatlah topik yang memicu rasa ingin tahu yang membuat percakapan terus mengalir.
Mahasiswa semester 4 di Universitas Al-Azhar Indonesia jurusan Pendidikan Agama Islam.
