Site icon Inspirasi Muslimah

Perempuan, Makhluk Tuhan Paling Super

bandingkan

Oleh : Hendra Hari Wahyudi*)

Rahmania, perempuan, merupakan makhluk yang sering dibilang lemah, namun mereka mempunyai kekuatan yang terkadang melebihi lelaki. Kaum hawa mampu bertahan di tengah himpitan keadaan, ia bisa bangkit dan terkadang juga melawan, melawan kelemahan yang ada padanya. Tulisan ini merupakan ungkapan rasa cinta dan bangga saya terhadap kaum perempuan, meski ada seorang ibu yang cinta serta pengorbanannya tak kan pernah tergantikan oleh apapun. Tapi, kali ini saya ingin berbagi mengenai hebatnya seorang istri yang terkadang terlupakan perannya dikehidupan keluarga.

Cobaan dunia bagi seorang lelaki adalah wanita, disamping tahta dan harta. Namun, wanita yang menjadi seorang istri yang shalehah merupakan harta yang paling berharga yang menjadi perhiasan terindah. Bang Haji Rhoma Irama juga pernah menulis lagu tentang istri shaleha, sebagaimana hadits Rasulullah:

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah.” (HR Muslim no. 1467).

Istri yang hadir bersama takdir, kini telah menjadi seorang ibu dari darah dagingku. Di luar dugaan, kami diberikan amanah dua putra dalam sekali proses kelahiran. Namanya wanita, pasti sensitif bersama hati dan perasaan yang ada pada dirinya. Apalagi ini pertama kali ia merasakan kehamilan, dan mengetahui kandungannya berisi dua bayi dalam kandungan. Tetes air mata pun keluar dari mata indahnya seusai melakukan Ultrasonography (USG), sebab ia khawatir bagaimana nanti membesarkan kedua buah hati apalagi ini pengalaman pertama kali mengandung.

Dalam usia kandungan delapan bulan, ia masih dalam proses study]i (kuliah) yang di mana ia harus menempuh jarak kurang lebih 35 km dengan waktu tempuh sekitar satu babak permainan sepakbola (45 menit) seorang diri, meski terkadang kutemani ia saat ada waktu jeda (kosong). Dalam hati selalu menanti kabar ketika ia pergi belajar, meski sudah terpantau melalui sinyal Global Positioning System (GPS).

Dari itu semua, membuatku teringat akan quote yang berbunyi “Woman must not depend upon the protection of man, but must be taught to protect herself.” dari Susan Brownell Anthony, seorang pejuang kesetaraan gender asal Amerika pada abad ke-19, Susan B. Anthony sendiri memiliki kepercayaan bahwa semua manusia itu setara di mata Tuhan.

Menurutnya, wanita tak harus bergantung pada perlindungan dari seorang laki-laki, melainkan harus diajarkan cara untuk melindungi dirinya sendiri. Dan hal itu yang membuatku yakin ketika istri mengatakan ia kuat menjaga kandungannya meski menempuh perjalanan jauh. Dan ini menegaskan bahwa perempuan sebenarnya bukanlah makhluk yang lemah, ia mempunyai kekuatan yang hebat di balik kelembutan sikap dan perasaannya.

Muslimah, Perempuan Hebat

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا ، وَصَامَتْ شَهْرَهَا ، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا ، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا ، قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila wanita shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepada wanita tersebut, masuklah ke surga dari pintu surga mana saja kamu mau.”

Maka kehebatan wanita adalah ia dapat masuk surga dari pintu manapun yang ia mau, ketika ia mampu menjaga shalatnya, menjaga dirinya, taat pada suaminya, dan berpuasa saat bulan Ramadhan. Seorang wanita muslimah pastilah ia mampu melakukan hal itu, apalagi di telapak kakinya terbentang surga. Ini menandakan kehebatan seorang ibu (perempuan muslimah), jadi ia bukanlah makhluk yang lemah yang tak berdaya, justru merekalah salah satu sumber kehidupan dan peradaban.

Sumber kehidupan yang di mana ia mengandung, menyusui, merawat, hingga mendidik anaknya sehingga mereka mengetahui adab. Meski adapula peran lelaki (ayah) di sana, namun tetaplah seorang ibu memiliki peran penting. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Dan Rasullulah juga pernah bersabda dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

Seperti itulah kehebatan seorang perempuan, baik sebagai istri atau seorang ibu. Melihat kenyataan yang ada, ketika istri mengandung hingga kini membesarkan kedua buah hati. Saya merasa bahwa mungkin memasuki surga dari berbagai pintu itu bisa ia raih, begitupula para istri dan ibu muslimah di berbagai penjuru bumi. Lelah dan letih dari jerih payahnya hampir tak terasa ketika hadir senyuman dari bibir anaknya, dialah ibu dan juga istriku dan pastinya dirasakan oleh ibu-ibu dan istri-istri yang lainnya.

Perempuan muslimah baik sebagai ibu ataupun istri, merekalah muslimah super yang pastinya tak luput dari kekurangan sebagaimana kodrat manusia. Tapi, di balik kekurangan yang ada pada mereka, tersimpan kekuatan hebat yang terkadang bisa membuat kita kagum, bahkan doanya bisa menggetarkan pintu langit. Abu Hurairah r.a. pernah meriwayatkan sebuah hadits, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:

 ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ. رواه الترمذي.

“Tiga macam doa yang akan dikabulkan yang tidak ada keraguan padanya adalah doa orang yang terzalimi, doa musafir (orang yang sedang berpergian), dan doa (keburukan) dari bapak kepada anaknya.” (H.R. At-Tirmidzi).

Oleh karena itu Rahmania, mari kita berbakti kepada kedua orangtua kita, terutama ibu. Kita akan tetap menjadi anak-anak di mata kedua orangtua kita, manfaatkan sisa umur untuk lebih berbuat baik kepada mereka (orangtua), sebelum mereka kembali (meninggal) atau mungkin kita yang pamit duluan. Semoga ibu kita serta istri kita termasuk perempuan yang super dan hebat, hebat fisiknya, hebat hatinya, dan hebat pula imannya.

*) Hendra Hari Wahyudi : guru, jurnalis, kader Muhammadiyah dan penikmat sepakbola asal Lamongan.

Bagikan
Exit mobile version