Oleh: Ummi Lathifah*
Berbicara masalah perempuan memang selalu menarik, karena mereka spesial dan unik. Perempuan memiliki sifat-sifat dasar atau sifat bawaan seperti ingin terlihat cantik, anggun, feminim dan masih banyak yang lainya. Semua itu merupakan sifat bawaan yang dimiliki perempuan. Namun di sisi lain perempuan juga memiliki peran penting dalam berbagai hal, yaitu perannya sebagai istri, Ibu, serta peran dalam bermasyarakat.
Perempuan memiliki peran sebagai seorang istri yang membersamai suami, berjalan beriringan, saling mendukung, saling mengingatkan serta saling menguatkan. Perempuan berperan sebagai seorang Ibu yang harus siap mendidik generasi Rabbani, karena al umm madrosatul ula, Ibu adalah sekolah pertama bagi anak- anaknya.
Perempuan juga memiliki tanggungjawab atas kemaslahatan masyarakat. Ia memiliki peran dan andil dalam upaya amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu, perempuan harus cerdas, berpengetahuan luas, kuat, tangguh, terampil, serta memiliki jiwa juang yang tinggi.
Sosok Perempuan Selalu Menjadi Sorotan
Keberadaan perempuan menjadi daya tarik tersendiri oleh semua kalangan, terlebih menyangkut kehidupan pribadi maupun hal yang berkaitan dengan fisik. Karenanya, Body Shaming seringkali terhadi terhadap kaum perempuan, pelecehan seksual dan masih banyak yang lainnya di tengah kehidupan masyarakat.
Bahkan yang sering terjadi dan banyak ditemui di dalam masyarakat sekitar kita adalah pembulian terhadap perempuan. Bagi mereka yang belum menikah dalam usia yang sudah matang, pasti akan mendapat teror pertanyaan yang bertubi-tubi, yang mana hal itu dapat mengganggu kenyamanan dan psikis perempuan.
Bagi mereka yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tak jarang diremehkan oleh sebagian masyarakat. Karena masih banyak dari mereka beranggapan bahwa perempuan tidak perlu bersekolah tinggi, kalau nantinya akan jadi Ibu rumah tangga juga, sayang ilmunya tidak manfaat. Sungguh pemikiran yang sangat dangkal.
Ada lagi, perempuan yang melahirkan, tetapi tidak dengan cara normal, seringkali mendapat tekanan dari lingkungan sekitar. Mereka menganggap belum menjadi Ibu yang seutuhnya kalau belum pernah merasakan melahirkan secara normal. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dia tidak mau sengsara dalam melahirkan.
Sungguh sangat miris, karena sejatinya mereka hanya bisa berucap tanpa mau tahu keadaan yang sebenarnya. Perempuan yang sudah bertahun-tahun menikah dan belum dianugerahi buah hati, dia juga akan mendapat serangan dari lisan-lisan tak bertanggung jawab, ada yang memojokkan, menghakimi, masih banyak lagi perlakuan lainnya
Perempuan dan Pengalamannya
Wahai para Srikandi, jangan bersedih apabila engkau adalah salah satu yang mengalami hal-hal tersebut, karena Saya pun mengalaminya. Kita tidak sendiri, masih banyak orang yang mau memuliakan kita, menghormati kita serta memahami kita. Kita masih punya Allah yang akan melindungi dan menyayangi kita. Allah memberikan kita cobaan, pasti terdapat hikmah di dalamnya.
Allah memberikan kita kondisi demikian, karena Dia tahu kalau kita mampu melewatinya. Tidak semua orang, kuat dan mampu menjalani takdir yang dipilihkan oleh Nya. Mereka yang selalu menghina dan merendahkan kita, belum tentu akan mampu apabila berada di posisi yang sama seperti kita.
Bangkitlah, berdirilah, sekalipun kau berada di tengah badai. Terus berusaha, hadapi semua, hingga kau mampu mengalahkan dan melewati badai tersebut. Dan disini Saya akan membagikan pengalaman dalam menghadapi bullying dari masyarakat.
Lisan- lisan tajam yang membuat Saya sangat tertekan dan sempat down. tapi itu dulu, karena sekarang Saya sudah mulai bangkit, merangkak dan tertatih untuk kembali berdiri di tengah badai, menghadapinya dengan penuh optimis, karena aku yakin takdir dan rencana yang telah digariskan oleh-Nya adalah pilihan yang terbaik bagiku.
Impian dan Kenyataan
Setiap keluarga memiliki ujiannya masing-masing, dan ujian itu begitu beragam serta berbeda-beda. Pasangan yang menikah, kemudian mengarungi bahtera rumah tangga pasti akan melewati berbagai macam cobaan, hal tersebut layaknya bumbu yang akan menjadikan perjalanan hidup menjadi lebih terasa nikmat. Bukankah masakan tanpa bumbu akan terasa hambar? Begitu pula dengan kehidupan berumah tangga.
Mengarungi bahtera rumah tangga pasti akan merasakan pasang surutnya kehidupan, gelombang dan badai yang sewaktu-waktu siap menerjang, namun semua itu adalah sarana kita untuk selalu berproses menjadi lebih baik. Cobaan yang datang merupakan bentuk kasih sayang Tuhan untuk mendidik dan mengajarkan kepada hamba-Nya tentang makna perjuangan dalam berikhtiar, ikhlas, sabar, do’a dan tawakkal.
*Penulis adalah Mahasiswi Pasca Sarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ibu Rumah Tangga
