Site icon Inspirasi Muslimah

Pentingnya Edukasi Makanan Halal Hingga ke Akar Rumput

makanan halal

Bertambahnya pengetahuan dan kesadaran itu kadang malah menambah beban.  Dulu bapak saya sering bilang, jangan menjadi bodoh.  Menjadi bodoh itu susah.  Tetapi ternyata menambah pengetahuan untuk tidak menjadi bodoh itu juga menciptakan kesusahan juga.  Itu yang saya rasakan sebagai beban. (hehe)

Pengetahuan tentang makanan halal, salah satunya.  Dulu, saya tidak begitu peduli dengan tuntunan makanan halal.  Begitu saya mengikuti kajian, pemahaman saya terbuka.  Saya  ingin berubah.  Saya ingin makanan yang masuk ke dalam tubuh saya dan keluarga terjaga kehalalannya.  Baik dari cara mendapatkannya maupun jenis bahan makanannya.  Apalagi ketika memahami ayat dan hadis berikut,

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168).

Selain itu, Rasulullah saw juga bersabda dalam hadits berikut ini,

“Dari Abu Hurairah ra, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu suci dan tidak menerima kecuali yang suci.” Dan Allah memerintahkan orang mukmin sebagaimana memerintahkan kepada para rasul dalam firman, “Wahai para rasul, makanlah yang baik-baik dan lakukan kesalehan.” Dan Allah berfirman, “Wahai orang beriman, makanlah dari rezeki yang kami berikan yang baik-baik.” Kemudian Rasulullah SAW menyebut seseorang yang melakukan perjalanan panjang hingga rambutnya kusut dan berdebu, sambil menadahkan tangannya ke langit menyeru, “Ya Tuhan, Ya Tuhan,” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberikan makan dengan yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan?” (HR. Bukhari).

***

Memahami ayat dan hadis ini membuat saya gelisah.  Ingin berubah.  Saya pun bertekad kuat untuk berubah.  Hingga beberapa kejadian saya alami.

 “Mohon maaf, Mbak.  Ini sudah ada label halalnya?” tanya saya kepada penjaga toko bahan kue.  Saya sedang membeli mentega curah yang dikemas lagi oleh toko itu dari kemasan besarnya.  Memasang muka seramah mungkin.  Saya rendahkan nada suara saya serendah mungkin.  Karena saya sudah punya feeling kalau si mbak penjaga toko belum terbiasa mendapatkan pertanyaan ini.

“Sudah pasti halal,” jawabnya ketus.  Saya langsung patah semangat melihat muka si mbak.  Selebihnya ia marah.  Menggerundel yang tidak jelas.  Akhirnya dengan terpaksa saya beli saja mentega itu.  Alih-alih meminta tolong si mbak untuk melihatkan label halal pada kemasan besarnya, melihat muka si mbak dan mendengar gerundelannya saja saya sudah tidak bersemangat.

Itu tadi pengalaman pahit saya.  Cerita beban pertama.  Selanjutnya bisa ditebak.  Saya tidak berani memakai mentega itu untuk memasak.  Karena ragu.  Saya memutuskan lebih baik tidak ke toko itu lagi.  Padahal toko itu paling dekat rumah saya. 

Benar, saat saya mau membuat kue lain, saya mau bersusah payah ke toko yang lebih jauh.  Pemiliknya saya yakin muslim.  Ia melayani dengan sangat ramah.  Waktu saya tanya apakah ada pelembut dan pengembang kue.  Bapak pemilik toko langsung mengambilkan.  Saya teliti sebentar dan tidak ada label halalnya. 

Lagi-Lagi Tak Ada Label Halal

“Maaf, Pak.  Ada produk lain yang ada label halalnya?” lagi-lagi saya tanya dengan hati-hati.  Bapak itu termenung.  Lalu mencari-cari produk yang lain.

“Eh,  tidak ada, Mbak,” jawab Bapak pemilik toko. 

“Maaf ya, Pak.  Kalau saya cerewet.  Karena menurut saya kehalalan bahan yang saya konsumsi itu sangat penting,” saya mencoba mencairkan suasana.  Saya berharap akan terjadi diskusi dengan bapak ini.

“Ndak papa, Mbak.  Saya malah senang.  Selama ini tidak pernah ada pembeli yang teliti seperti Mbak.  Saya juga jadi kurang peduli dengan itu.  Padahal saya tahu kalau makanan kita harus jelas halalnya,” jawab bapak itu lagi.  Selanjutnya kami terlibat diskusi tentang pentingnya produk halal. 

Bagi saya, ini lebih menyenangkan.  Meskipun cukup membebani pikiran saya.  Cerita beban kedua.  Bapak ini mau menerima masukan dan sadar akan kewajibannya menjual bahan-bahan yang halal.  Tanggapannya adem tanpa meledak-ledak seperti si mbak penjaga toko pada cerita beban pertama.

Selang beberapa lama saya membutuhkan bahan lain.  Saya datang kepada bapak ini lagi.  Tetapi bahan kue yang saya cari tidak ada.  Ia menunjukkan toko yang lengkap di kota.  Saya pun ke sana.  Toko dengan pelayan yang banyak.  Karena tokonya juga ramai pengunjung. 

“Maaf, Mas.  Ini ada label halalnya?” tanya saya pada penjaga toko.

“Ehm…ehm…,”  penjaga toko tidak memberi jawaban.  Wajahnya ditekuk menunjukkan rasa tidak suka.  Alarm trauma pada mbak penjaga toko pada cerita beban pertama, seolah aktif.  Ini cerita beban ketiga yang saya alami.

“Ada apa, Mbak? Ada yang bisa dibantu?” tanya Koko pemilik toko beranjak dari meja kasir.  Suaranya ramah.  Menonaktifkan alarm trauma saya.  Saya sedang menanyakan hak saya sebagai konsumen.  Hak untuk mendapatkan informasi kehalalan produk.

***

“Maaf ya, Ko.  Saya tadi menanyakan produk ini apakah ada label halalnya?” tanya saya sembari menunjukkan produk dalam kemasan curah.

“Di, tolong kamu cek di kemasan besarnya,” perintah koko pada penjaga toko tadi.  Segera penjaga toko berlalu menuju gudang.

“Maaf ya, Ko,” kata saya.

“Oh tidak apa-apa, Mbak.  Itu berkaitan dengan keyakinan.  Tidak masalah, Mbak.  Kewajiban kami harus melayani,” jawabnya ramah.  Saya tahu koko ini menjaga bisnisnya.

Penjaga toko datang dengan membawa kardus kemasan besar produk tadi.  Memberitahukan kepada saya adanya label halal tertera di sana.  Meski saya tahu ia masih sewot karena ada tambahan pekerjaannya, saya merasa punya jaminan dari koko sebagai pemilik toko.

Cerita beban  yang saya alami di atas, mungkin bukan hanya saya yang mengalami.  Saya yang tinggal di kota yang tidak kecil ini saja harus mengalaminya.  Ketika saya pulang kampung ke rumah ibu, dan menanyakan produk halal ketika membeli bahan pangan, bukan hanya muka sewot dari penjaga toko yang saya dapatkan.  Gerundelan bahwa ‘semua produk ya pasti halal, makanan saja kok rewel, menyusahkan, ribet, hingga lebih sadis lagi sok alim’, sudah pernah saya terima. 

Fakta di masyarakat ini sangat memprihatinkan.  Rata-rata orang yang saya temui pada apa yang saya alami tadi adalah muslim.  Seharusnya paham akan ayat dan hadis di atas.  Namun, banyak yang belum paham.  Sudah begitu, keinginan untuk menjadi paham pun minim.  Mereka seperti merasakan hal yang sama dengan saya.  Bahwa menjadi paham akan lebih menambah beban pada hidupnya.  Tapi dengan versi yang lain.

Bagikan
Exit mobile version