Ramadan. Sudah biasa bagiku menghabiskan hari-hari pada bulan Ramadhan tanpa keluarga di rumah. Namun tahun ini agak berbeda. Keluarga di rumah tidak hanya sekali dua kali memastikan kabarku baik-baik saja dan tidak lupa menanyakan, ‘Sudah ada kabar boleh pulang belum?’.
Aku tahu, bukan hanya aku yang disodorkan pertanyaan semacam ini oleh keluarga di rumah. Bagaimana tidak, di situasi seperti ini, ketika banyak anak-anak perantauan yang pulang ke kampung halaman, lebih memilih tinggal bersama keluarga, kami tetap disini. Jauh dari orang tua. Tidak bisa sahur dan buka puasa bersama.
Bukannya tidak ingin, tapi ini hanya sebagai wujud kecil abdi kami kepada perintah guru kami. Jadi kami yang harus memberi pengertian lebih kepada keluarga di rumah, agar lebih bersabar dan selalu meminta doa agar kami selalu diberi kesehatan.
Selama Ramadan ini kami mengkaji kitab-kitab edisi Ramadan yang tidak terlalu tebal, agar bisa diselesaikan selama sebulan ini. Teman-teman yang ada di rumah pun bisa ikut mengaji online karena perkembangan teknologi yang sudah secanggih ini. Tapi bagiku, mengaji secara langsung itu lebih menyenangkan. Berhadapan langsung dengan guru, memiliki perasaan lebih khusyu’ ketika mendengar setiap wejangannya. Ya walaupun terkadang tetap ngantuk kalo sudah terlalu khusyu’ hehe. Jangan ditiru ya!
Ramadan pun pamit, berganti dengan Idul Fitri
Baru tahun ini aku merasakan malam takbiran tidak bersama dengan keluarga. Kebanyakan kami yang ada disini pun juga begitu. Baru pertama kali lebaran tidak mudik. Kami memutar otak bagaimana caranya agar momen Idul Fitri ini tidak menjadi hari yang biasa saja, apalagi kami sedang jauh dari orang tua.
Sehari sebelum Idul Fitri, semua repot kesana kemari mempersiapkan dekorasi untuk dipasang di Aula. Ketika malam takbiran, kami bergantian tugas. Ada yang mengisi takbiran, sebagian membantu mempersiapkan dekorasi untuk besok. Kami membuat sendiri. Pokoknya kami tidak ingin berlarut-larut merasa mellow karena tidak bisa mudik. Jam 03.00 dini hari semua selesai dipersiapkan. Kami semua beristirahat agar besok tidak bangun kesiangan untuk mengikuti solat Id.
1 Syawal 1441 H. Takbir sudah menggema. Kami sudah siap dengan dresscode kami. Baju putih, sarung hitam dan jilbab pink. Mukenah juga sudah kami pakai dan segera berkumpul di halaman masjid untuk solat Id berjamaah dengan santri putra. Prosesi solat Id berjalan dengan lancar. Selepas itu, kami langsung menghubungi keluarga di rumah sambil sungkem online.
Hampir seluruh dari kami tidak bisa membendung air mata ketika berkomunikasi dengan keluarga di rumah. Satu per satu pun menyudahi telepon mereka. Sambil menunggu Abah dan Ibu Nyai siap untuk menerima sowan, kami langsung berkumpul di aula, bersiap untuk foto-foto mengabadikan momen ini.
Bukannya kami tidak bahagia..
Tapi kami hanya ingin menikmati setiap detik bersama keluarga terdekat kami saat ini. Yang sudah bersama semenjak sekitar 2 bulan lalu. Menghabiskan waktu bersama, berjuang menahan rindu pada keluarga di rumah. Lumayan lama kami berfoto ria, membuat video ucapan selamat lebaran kepada teman-teman yang ada di rumah. Maklum lah, anak muda kan..
Sepertinya tidak ada habisnya ketika sudah menghadap kamera. Yang penting ketika di posting, tidak ada gerak-gerik yang aneh-aneh kok hehe. Sekitar satu jam lebih kami menunggu di Aula, akhirnya keluarga Abah Kyai sudah bisa untuk kami sowani, bergantian dengan santri putra. Tidak menunggu lama, santri putra pun selesai sowan. Kami bergantian masuk ke ndalem.
Diawali dengan Bu Lurah yang mengucapkan sepatah dua patah kata, mengucapkan selamat lebaran dan memohonkan maaf mewakili kami dalam bahasa krama inggil. Dilanjutkan dengan dawuh dari Abah yang intinya menerima permohonan maaf kami, dan saling meminta maaf serta saling mendoakan.
Di akhir dawuh, beliau menambahkan, “Sekarang kalau ada yang mau pulang, sudah, saya perbolehkan. Tapi semisal ada yang tetap mau disini saja karena kondisi misal belum memungkinkan, juga tidak apa-apa”. Wah, senang rasanya hati kami. Lega. Pertanyaan sedari kemarin yang selalu ditujukan kepada kami, akhirnya kami memiliki jawaban yang diharapkan.
Kami mencukupkan sowan, diakhiri dengan salim kepada Bu Nyai secara bergantian. Saat salim, ibu sambil menitikkan air mata sambil berucap, “Maaf ya nduk, sudah banyak merepotkan kalian”. Kami pun sama, semakin tidak kuat membendung air mata. Bukan, bukan beliau yang banyak merepotkan kami. Kami lah sebagai murid yang sudah seharusnya membalas jasa-jasa guru kami yang sudah banyak mengajarkan kami tentang agama dan banyak hal lainnya.
InsyaAllah tidak ada ruginya ketika kita mematuhi apa yang diperintahkan oleh guru-guru kita. Seperti sekarang ini, hikmah yang dapat diambil adalah kita diajarkan untuk lebih banyak bersabar dan bersyukur.
Penulis sedang belajar mengaji di Yogyakarta
