Beragam analisis dimunculkan oleh pemikir muslim kontemporer dengan spesifikasi keilmuan yang dimilikinya masing-masing mencoba mengidentifikasi sebab kemunduran peradaban umat Islam. Padahal secara normatif Islam mengajarkan “Islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang menandingi ketinggiannya”.
Ketertinggalan peradaban Islam sudah cukup jelas ketika arus modernitas merambah ke dunia Islam; di mana peradaban Islam tidak mampu merespon secara kreatif dalam persoalan modernitas. Ada empat pandangan tokoh yang membahas kemunduran Islam menurut para pemikir Islam yang dinamis.
Umat Islam Mempelajari Epistemologi Tidak Sirkular
Pertama, Muhammad Abid Al-Jabiri menyatakan bahwa kemunduran umat Islam terjadi karena Umat Islam mempelajari epistemologi tidak secara sirkular. Umat Islam cenderung mengedepankan bayani dan irfani dari pada burhani. Padahal seharusnya ketiganya berjalan secara sirkular. Al-Jabiri menunjukan kelemahan epistem bayani dan irfani.
Karena itu, al-Jabiri dapat digolongkan pada kelompok tipologi pada pemikiran reformistik yang menggunakan metode dekontruksi. Kritik epistemologi yang ditawarkan membukakan kepada dunia Islam akan bangunan nalar epistemik yang selama ini beroperasi di tengah peradaban. Nalar yang menyebabkan dalam bahasa al-Jabiri, kesadaran palsu.
Secara teoritis menolak barat dengan segenap modernitasnya. Namun dalam pandangannya yang sangat tepat untuk kegagalan umat Islam dalam mewujudkan kebangkitan Islam yakni adalah ketidaktepatan dalam menyikapi tradisi (turats).
Hal ini menyebabkan hilangnya mata rantai semangat intelektualitas dan sains yang menghubungkan dengantradisi (turas) masa lalu yang gemilang. Menurut al Jabiri tradisi adalah sesuatu yang hadir dan menyertai kekinian kita yang berasal dari masa lalu; apakah itu masa lalu kita atau masa lalu orang lain, ataukah masa lalu tersebut adalah masa lalu yang jauh maupun yang dekat.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dari definisi ini. Pertama bahwa tradisi adalah sesuatu yang menyertai diri kita, yang tetap hadir dalam kesadaran atau ketidaksadaran kita; kehadiran dianggap sisa-sisa masa lalu melainkan sebagai masa lalu dan masa kini yang menyatu dan bersenyawa dengan tindakan dan cara pikir kaum muslimin. Maka tradisi bukan karya-karya para pemikir dan sebuah tulisan yang hanya tersusun rapi di perpustakan; melainkan sebuah realitas sosial dengan tindakan dan cara pikir kaum muslimin.
Tidak Ada Pembebasan Nalar
Kedua, Mohammad Arkoun memiliki perspektif bahwa Islam mengalami kegagalan dalam mewujudkan kebangkitan Islam disebabkan karena tidak ada pembebasan nalar Islam dari kemajuan, kejumudan, keterbatasan, dan ketertutupan. Sehingga Islam tidak mampu menjadi sarana emansipasi manusia.
Arkoun menganggap bahwa problematika tersebut dapat terselesikan dengan dan mencapai pemikiran Islam dengan cara membuka diri dari berbagai perkembangan mutakhir dari pemikiran modern. Arkoun mencita-citakan suatu penggabungan unsur paling berharga dari nalar Islam dan nalar modern.
Nalar modern menurut Arkoun dicirikan dengan sikap kritis dan nasionalismenya. Menurutnya jika Islam ingin mencapai keterbukaan itu ialah dengan dekontruksi episteme dogmatism dan ontodogsisme dalam tubuh umat Islam. Selama sistem berfikir tersebut masih dibiarkan hidup; umat Islam akan terus hidup dalam atmosfir abad pertengahan atau dalam udara skolastik yang tidak sehat dan ketinggalan zaman.
Namun diingat bahwa dekontruksi tidak mungkin dilakukan tanpa persiapan pengetahuan akan sejarah; baik menyangkut tradisi Islam yang masih tersembunyi ataupun tradisi yang sudah tercemar unsur-unsur luar. Arkoun menganggap bahwa ulama-ulama harus mampu mengkaji hukum Islam dengan relevan dengan dunia kontemporer saat ini, agar paradigma umat Islam tidak stagnasi.
Arkoun pun mengkritik sikap umat Islam yang mensakralkan pemikiran pendahulunya, disebut ‘taqdis al afkar al dini’. Pemikiran masa lalu diletakkan di dalam mesin pengawet; sehingga tidak dapat ditinjau ulang atau dikritik, padahal pemikiran sebelumnya juga adalah respon terhadap zaman itu.
Studi Islam yang Masih Prematur
Ketiga, Ibrahim M. Abu Rabi Melirik studi Islam yang telah banyak dibincangkan pada saat ini menjadi problematika studi Islam yang masih dikatakan prematur jika dianggap selesai. Maka dari itu abu rabi menegaskan bahwa studi Islam tidak mampu memposisikan dan membedakan ranah kebangkitan Islam itu sendiri.
Apakah kebangkitan itu bersifat doktrinal, filosofis, atau historis-politis. Tema sentral ide kebangkitan Islam terletak pada konsep i’datul Islam, yakni keinginan Masyarakat muslim untuk mengembalikan peran dunia Islam dalam peraturan global peradaban Islam . Akibatnya abu rabi lebih melihat dari sisi sosial-politik umat Islam.
Artinya, ketertinggalan umat Islam atas Barat suatu hal yang imajiner, tetapi merupakan fakta sekaligus tantangan yang sampai saat ini harus diselesaikan. Abu Rabi juga menegaskan bahwa umat Islam krisis perspektif dan metodologi studi Islam; dengan begitu umat Islam harus membedakan pemikiran Islam atau studi Islam itu sendiri.
Dengan merujuk pada pendapat Ibnu Khaldun, Abu Rabi’ meyakini bahwa studi Islam berbeda dengan Islam. Jika Islam merujuk kepada wahyu yang kekal dan agama yang suci, maka pemikiran atau studi Islam merujuk pada seluruh perkembangan ilmu pengetahuan Muslim seperti penafsiran alQur’an, hadis, fikih, kalam, sufi dan sebagainnya, dengan begitu pemikiran studi Islam terbuka sehingga dapat dikritisi dan dikembangkan.
Terpaku pada Pemikiran Konservatif
Keempat, Nurcholis Madjid memandang kemunduran Islam dari hasil beberapa problematika yang dilihatnya. Nurcholis Madjid menegaskan bahwa kemunduran Islam dilihat dari bagaimana umat Islam masih terpaku oleh pemikiran konservatif, tidak memiliki ide kreatifitas dan stagnasi pada kejumudan; sehingga umat Islam tidak mampu keluar ke arah rekontruksi dalam melawan ketertinggalan berpikir oleh Barat.
Dalam hal kemunduran Nurcholish Madjid lebih menngkritik mengenai pemahaman umat Islam terhadap dasar atau landasan Islam itu sendiri; karena kebanyakan dari umat Islam tidak memahami tentang dasar dasar agama dan lebih condong kepada tradisi.
Nurcholis Madjid menegaskan bahwa Islam bukan alat yang menjadi ideologi pemahaman atau penjelasan dunia atau bahkan sebagai sekedar keyakinan spritual belaka saja. Namun secara bertahap Islam menekankan sifatnya sebagai sebuah ideologi bagi perubahan dunia.
Nurcholis Majid Melawan Kejumudan Berfikir
Dari pemikiran dan pandangan keempat tokoh yang berangkat dari sebuah kegelisahan yang sama. Kegelisahan yang ditunjukan adalah bentuk rekontruksi umat Islam agar dapat mencapai kejayaan seperti dahulu.
Pemikiran keempat yang dibangun atas pemikiran reformis dalam mewujudkan kebangkitan Islam yang sudah lama di angan-angan oleh Umat Islam. Dari pemikiran keempat tokoh, Saya lebih cenderung dari pemikiran Nurcholis Madjid, karena ia menegaskan bahwa umat Islam belum selesai dalam memahami dasar agama Islam dan memahami realitas kehidupan.
Nurcholis Madjid juga menawarkan dari beberapa problematika umat Islam yang terkurung dalam kejumudan. Salah satunya umat Islam harus mampu melepaskan diri dari sikap-sikap yang tidak kondusif bagi pembangun dan modernisasi, yang dihasilkan oleh cetakan lingkungan agraris kita. Secara positif, kita harus menciptakan sikap baru mental yang “ilmiah”.
Adapun tanggapan Nurcholis Majid tentang modernisasi; ia menyatakan kita sepenuhnya berpendapat bahwa modernisasi ialah rasionalisasi yang ditopang oleh dimensi-dimensi moral, dengan berpijak adanya perinsip iman kepada Tuhan.
Akan tetapi kita juga sepenuhnya mengenal pengertian yang menyatakan bahwa modernisasi adalah westernisasi. Sebab westernisasi merupakan suatu total way of life, di mana faktor paling menonjol sekularisme dengan segala percabangannya.
Banyak penawaran dari Nurcholis Madjid yang mampu menjawab problematika kegagalan mat Islam meraih kebangkitan secara komprehensif, kemudian dilanjutkan secara nyata agar menghasilkan manifestasi kebangkitan Islam.
.
Sedang menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam. Tinggal di pondok Hajjah Nuriyah Shabran dan menjadi guru privat agama. Pernah meraih medali perunggu dalam lomba MTQ tingkat nasional Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dan sekarang menjadi Sekretaris Umum PK IMM Shabran.
