Site icon Inspirasi Muslimah

Pak, Bu, Jangan Tutup Pintu Berkahmu

pintu berkah

Bagi insan yang sudah memasuki usia berumah tangga, menikah sangat dianjurkan. Selain karena sunah Rosul, menikah akan lebih menentramkan hati bagi diri dan keluarga kedua pihak. Dalam hal ini rida orang tua tetaplah yang utama meski yang terjadi di lapangan ada saja kendalanya untuk mendapatkan rida tersebut.

Tidak salah jika orang tua yang memiliki anak sudah dewasa, berharap sang anak segera memasuki jenjang pernikahan. Apakah si anak sendiri sudah siap atau belum. Jika tidak, sedangkan sudah tiba saatnya dan layak melepas kesendirian, ada semacam kekhawatiran ini itu yang melingkupi perasaan orang tua. Sebab melepas kesendirian di sini tentu demi kemaslahatan bersama. Orang tua maupun anak.

“Sejak saya menikah hingga memiliki dua buah hati, Bapakku belum bisa berubah sikap, Bulik. Seolah tak berkenan aku menikah usai wisuda,” suatu hari ada WhatsApp masuk di gawaiku.

“Padahal saya ingin anak-anakku mengenal baik simbahnya. Mungkin saya ada salah, tetapi anak-anakku ingin bercengkerama dengan kakeknya, kok belum bisa,” lanjutnya.

Sebagai ibu yang juga memiliki anak yang sudah dewasa, aku sendiri akan merasa sedih jika hal ini terjadi pada keluargaku. Andai aku berada di posisi dia, juga sedih. Mengapa justru hubungan dengan sang ayah memburuk sejak mengambil keputusan untuk menikah? Bukankah saat menikah orang tua hadir dan merestui?

Di satu sisi si anak tidak ingin terjerumus dalam kemudaratan, lalu mohon restu untuk menikah. Di sisi lain ada sebagian orang tua yang seolah ‘menuntut balik’ apa saja yang telah dikorbankan demi anak ketika menuntut ilmu setinggi-tingginya. Tidak berlebihan andai benar ada yang demikian, mengingat tidak semua kemampuan finansial orang tua sama.

Meski beberapa kali dia mencurahkan isi hati, aku tak mampu memberi solusi muluk-muluk karena itu ranah pribadi dia dengan orang tuanya. Selain harus bersabar, kuminta dia untuk introspeksi dan memohon ampun pada bapaknya. Terlepas siapa yang salah siapa yang keliru, memohon ampun pada orang tua, itulah yang terbaik.

Hubungan anak dengan orang tua yang kurang harmonis akan sangat berpengaruh bagi keduanya. Ini bisa disebabkan oleh bermacam sebab. Ada yang karena sedikit salah paham atau karena hal-hal yang terlalu prinsip. Bila masing-masing sadar dan mau membuka diri, kemungkinan hubungan yang kurang harmonis tadi akan menjadi manis.

Ada banyak cara untuk memperbaiki hubungan. Cara bagi orang yang satu belum tentu bisa diterapkan pada orang lain. Oleh karena itu, dibutuhkan kejelian dalam menyikapi karakter anak maupun karakter orang tua itu sendiri. Misalnya dengan rajin bersilaturahmi membawa keluarga untuk mengunjungi orang tua. Bila tinggal berjauhan mungkin dengan sering-sering berkomunikasi sekadar menanyakan kabar bisa jadi salah satu solusi.

Nyaris tidak ada orang tua yang mengolok-olok kasih sayang, cinta, dan pengorbanan yang telah diberikan ke anak. Itu sudah kodrati. Jika suatu saat ada sedikit masalah, tentu kurang etis andaikan sampai diunggah di media sosial. Akan lebih tepat sasaran jika langsung ke anak, apa mau orang tua, apa yang dikehendaki dan lain-lain.

Tidak semua rahasia diri dan keluarga harus dibuka di ranah publik. Juga tidak semua uneg-uneg diungkap di khalayak. Sebab tidak semua pembaca memiliki empati yang sama terhadap kita. Ada saat di mana anak terbentur situasi yang sulit. Seakan mau menoleh ke kiri dan ke kanan saja tak mampu. Apakah orang tua masih egois menyalahkan anak hanya karena anak terkesan ‘terpaksa kurang peduli’?

Banyak orang tua yang berharap usai menuntut ilmu, sang anak lalu bekerja sesuai keilmuannya dan syukur-syukur hidup mapan. Demikian juga sebaliknya bagi anak. Harapannya dengan mapan akan mampu membantu ekonomi orang tua yang sudah tidak seproduktif dulu.

Kadang harapan tinggal harapan dan itu tidak salah. Masih ada banyak kesempatan dalam berbakti kepada orang tua meski sudah menikah. Berbakti banyak jenisnya, tidak hanya membantu biaya hidup, tapi juga peduli akan keberadaannya. Jika memang orang tua sudah berkecukupan bahkan lebih harta bendanya, bantuan finansial itu jelas tidak berlaku. Justru sering kita jumpai keluarga anak masih mendapat suntikan dana segar dari orang tua.

Sebagai anak yang mengerti dan paham akan kewajiban birrul walidain, dia harus berusaha mencari penyebab mengapa sikap orang tuanya berubah. Datang dan bertemu, mohon doa kebaikan, mohon ampunan atas apa yang telah membuat orang tua kecewa, dan berbicara dari hati ke hati barangkali ada banyak hal yang harus diperbaiki.

Orang tua akan luluh hatinya jika sebagai anak mau merendah, mengakui kekeliruan, dan berusaha mengambil hatinya. Setinggi apa ilmu, sepanjang apa deretan gelar, dan seluas apa wawasan yang dimiliki anak, orang tua tetaplah di atas segalanya setelah Sang Khalik. Jam terbang pengalaman hidup dan jatuh bangun dalam menghadapi liku-likunya, tak bisa dipandang remeh.

Bermasalah dengan orang tua itu menyedihkan. Akan lebih sedih lagi jika orang tua terlanjur sakit hati lalu membenci dan menyumpahi anak sendiri hanya karena terbawa perasaan. Ibarat pintu rumah sudah tertutup rapat tak boleh dimasuki dan anak seolah kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri. Nauzubillah.

Tidak ada rida Allah tanpa rida orang tua. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya dalam membolak-balikkan hati setiap hamba. Pak, Bu, jangan tutup dulu pintu berkahmu untuk anak-anakmu.

Bagikan
Exit mobile version