Site icon Inspirasi Muslimah

Nyala Cinta di Kompor Bapak

bapak

Ini kali ketiga kulihat ibu tercenung di depan kompor. Air di dalam panci alumunium menggelegak. Nyaris tandas. Uap mengulung-gulung ke langit-langit dapur.

“Bu…”

Tak ada jawaban.

Ibu tak bergeming. Pandangannya tepat tertuju ke api yang menjilat-jilat pantat panci yang hitam legam. Matanya basah. Kelopaknya sayu. Ahh.. Ibu… entah berapa malam ia tak tidur nyenyak.

Kusentuh pundaknya pelan. “Bu… Sudah mendidih. Ratih matikan ya…” kuputar kenop pematik.

“Eh… Aduh. Maaf. Lupa. Ya Allah. Airnya habis. Ibu tambah lagi, ya.” Ibu baru akan beranjak berdiri ketika kucegah.

“Cukup kok. Cuma buat teh, kan. Sini, biar Ratih yang buat. Ibu tidur saja.”

Ibu, lagi-lagi tak menjawab. Tidak juga membantah. Berjalan terhuyun menuju kamar.

Aku mengambil panci dari atas kompor dan menuangkan airnya ke dalam 2 gelas belimbing. Masing-masing berisi setengahnya. Sisanya dipenuhi oleh air teko.

Selama sebulan, hanya 2 gelas yang tersaji. Satu dari sekian banyak hal yang berubah di rumah ini.

Setelah mengantar segelas teh hangat ke kamar ibu. Aku duduk lagi di ruang makan. Menikmati Teh Tambi. Bapak membelinya langsung dari petani di Wonosobo.

Ya, bapak. Teh kesukaan bapak yang lalu menjadi kesukaan kami semua.

—

Pagi itu kucoba bangun lebih awal. Ingin membuat sarapan istimewa untuk ibu. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Api di kompor sulit sekali menyala. Semakin sering kuputar kenop pematik, semakin tak ada tanda-tanda si merah muncul di tungku.

Cek selang, aman. Cek regulator, aman. Terus cek sumbu, juga bersih. Kenapa pula di saat genting begini!

Ibu masuk ke dapur ketika aku masih sibuk meniup-niup lempeng pembakar. Cengengesan, kuceritakan jika kompornya ngambek. Ibu ikut tertawa dan membantu merapikan sisa-sisa bencana di sana.

Dengan telaten, dicuci setiap bagiannya. Lalu dilap kering satu-persatu.

“Kompor tua. Harus pakai hati. Ditekan dulu kenopnya, kalau sudah muncul titik api, baru diputar. Nah… nyala.”

Seingatku, kompor ini sudah ada sejak aku kecil, sekarang butuh dipensiunkan. Mas Totok, tetangga yang ahli reparasi itu sering kali dipanggil ke rumah. Ada saja rewelnya. Bisa sehari tiga kali. Sudah seperti minum obat.

“Ndak ada susah-susahnya, kan. Sabar. Makanya sering-sering masak. Jangan cuma ngandalin orang lain. Kalau ibu nggak ada…”

“Ibuu!! Ampun, Bu. Ibu sehat, kuat, panjang umur, amin!” Cepat-cepat kulangitkan doa yang panjang. Kepergian bapak sudah sangat menyakitkan. Jangan lagi ibuku ini. Jangan. Demi Tuhan, jangan!

Kupeluk wanita setengah abad itu dari belakang. Mencoba menghangatkan hatinya. Helai rambut yang mulai memutih. Kulit berkerut.

Pulihkan jiwanya, ya Rabb. Lapangkan dadanya.

—

Sore itu, sepulang dari puskesmas, kuparkirkan motor di depan toko elektronik. Tadi gajian. Setelah 3 bulan. Bekerja sebagai perawat honorer di masa sulit begini memang tak seberapa penghasilannya. Dengan ditambah tabungan, sepertinya cukup untuk membeli kompor 2 tungku. Ya, kompor kami satu-satunya hanya 1 tunggu, maka jika sedang mogok, tak ada pilihan selain harus dipaksa kerja.

Apapun merknya, yang penting murah. Begitu yang kukatakan pada penjaga toko. Maka jatuhlah pada kompor cantik berwarna hitam, dengan stiker biru di depannya. Kubawa pulang pelan-pelan. Dengan cara dijapit di antara kaki. Semoga ibu suka. Semoga ibu senang. Itu yang kurapal berulang-ulang di sepanjang jalan pulang.

—

Tapi harapan tinggal kenangan.

Ibu sedang rewang di rumah tetangga, ketika kompor terpasang manis di dapur dibantu Mas Totok. Saat melihat ada barang baru di sana, ibu justru muntap.

“Ratih! Ini kompor siapa?”

“Punya ibu,” kataku sambil melongok di pintu kamar.

“Ibu Nggah Butuh yang Baru! Kembalikan!” teriak ibu tiba-tiba. Aku tersentak. Tak pernah kulihat beliau semarah itu sebelumnya.

“Tapi itu buat ibu. Ratih yang beli,” kucoba mengiba. Mendekati ibu yang bagai patung tegak berdiri di tengah ruangan.

“Nggak mau… Nggak mau… Ya Allah…” Suara ibu bergetar. Air mata menganak sungai di pipi yang dipenuhi gurat usia. Kupeluk ibu. Kupeluk belahan jiwaku.

—

Waktu terus bergulung. Ibu tetap berkilah. Masih kokoh pendiriannya untuk memakai kompor lama. Meski dibujuk rayu.

Hingga di malam dingin. Saat ingin menyeduh teh. Kompor kesayangan tak lagi mau menyala. Sudah dilakukan berbagai cara, tak sedikitpun apinya keluar.

Memanggil Mas Totok jelas bukan pilihan bijak karena hujan sedang melebat di luar sana.

Hati-hati kutawarkan kompor hitam yang masih mengkilap di ujung ruangan sana. Ibu takut-takut mengangguk. Tak ada perdebatan. Karena tak ada api, itu berarti tak ada teh panas malam ini.

Ibu menyesap Teh Tambi. Pelan. Khidmat. Terpengkur lama dengan mata berkaca-kaca.

“Teh kesukaan bapak,” lirihnya kemudian.

“Iya, teh kesukaan bapak. Enak,” kusahut dengan takjub pula. Selera bapak memang tak pernah salah.

“Ratih, bukan ibu ndak suka kompor barunya,” ibu memulai pembicaraan yang ditahannya berhari belakang, “tapi…” Suaranya tertahan. Menghilang pelan-pelan. Derap air jatuh di atap semakin rapat. Kaca jendela bergetar. Sepertinya angin sedang mengamuk di luar sana.

“Kompor tua itu… Dibeli bapak di hari setahun pernikahan. Kata bapak, itu permohonan maaf karena saat menikah tidak bisa kasih mahar yang layak. Juga sebagai ucapan terima kasih karena ibu percaya kalau bapak bisa dapat kerja dan mandiri. Waktu itu, hidup kita susah. Kerja bapak serabutan. Kompor itu, barang mewah pertama yang ada di rumah ini.”

“Setelah bapak sakit-sakitan. Lalu pergi. Kompor itu jadi yang paling dekat dengan ibu. Ada cinta, kasih sayang, welas asih yang bapak tinggalkan. Mengubah daun jadi sayur. Lalu, mengubah air kotor jadi jernih dan bisa diminum. Mengubah angan-angan jadi harapan dan doa.”

—

Aku menahan isak.

“Maafkan Ratih, Bu…” hanya itu yang keluar dari mulutku. Lidah kelu. Dada ngilu.

Kami menangis lama di sana. Mengundang kenangan. Merayakan rindu. Hingga tak ada lagi yang tersisa. Biarkan air mata yang berbicara.

Akhirnya kami sepakat untuk mensejajarkan 2 kompor itu di dapur. Jika kompor lama sedang bermasalah, maka kompor baru itulah yang digunakan. Atau bahkan digunakan secara bersamaan jika sedang memasak banyak agar selesai lebih cepat.

Ibu, mengikat erat cintanya di dalam titik-titik kecil api di kompor bapak. Menyalakan sumbu apinya, berarti menyalakan cinta yang selalu sempurna dari seorang lelaki penuh dedikasi untuk istri dan keluarga.

Bagikan
Exit mobile version