Site icon Inspirasi Muslimah

Moderasi Islam di Tengah Modernitas

moderasi

Islam merupakan agama yang toleran dengan ajaran tasamuh berbatas pada rukun Islam dan Iman. Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah menjadikan agama ini berprinsip tegas dengan adanya aturan syari’at yang mengikat dan larangan terhadap perkara-perkara yang diharamkan oleh nash.

Milal Bizawie memperhatikan Islam konteks awal dengan konteks kekinian memiliki satu karakteristik yang relevan, yakni mengedepankan jalan tengah tanpa memihak blok kanan mapupun kiri. Islam di sini mampu berkembang dan bersaing dengan agama lain tanpa harus menutup diri dengan tidak menerima keragaman agama masa modern ini.

Seiring berjalannya waktu tiap golongan manusia terus mengalami pemecahan dan membentuk golongan baru yang biasa disebut dengan aliran. Sebagaimana contoh agama nasrani yang terbagi dalam tiga golongan, yaitu Gereja Katolik, Gereja Ortodoks, dan Kristen Protestan.

Begitu pula dengan Islam yang memiliki ragam pemecahan golongan atau yang lebih dikenal dengan istilah aliran; seperti Sunni, Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Jabariyah, Qadariyah, dsb. Perbedaanya di sini keragaman Islam bukanlah suatu perpecahan untuk saling menghancurkan meskipun ada sebagian yang sudah terdoktrin paham yang radikal.

Pada hakikatnya Islam adalah agama yang menerima perbedaan dan memberikan kasih sayang keseluruh golongan manusia tanpa terkecuali. Sirah Nabi Muhammad menjadi contoh tauladan bagi kaum muslim yang mana beliau begitu bijaksana menerima kaum Yahudi, dan Nasrani hidup berdampingan dengan masyarakat muslim Madinah.

Krisis Karakter Islam Modern

Berperangnya Rasul bukan karena agama Islam yang keras atau berpaham seluruh agama selain Islam harus dihancurkan. Problem umat Islam masa kini adalah mulai tertinggalnya nilai-nilai Islam yang saling manyayangi dan menghormati perbedaan. Miris terjadi konfrontasi agama Islam yang saling mengkafirkan antar golongan.

Kesadaran hidup bertoleransi mulai hilang dalam wajah Islam. Umat Islam masa kini cenderung lebih menyukai budaya Barat yang bersifat liberal atau kebebasan dibandingkan budaya Islam sendiri yang mengikat syara’. Mereka lebih menonjolkan kemampuan diri dibandingkan membantu sesama yang kurang mampu. Ada sedikit beda pemahaman langsung mengkafirkan satu sama lain.

Banyak di antara pemuda Islam yang lebih mementingkan ilmu dibandingkan adab, mementingkan diri sendiri, dan kurang peka terhadap masyarakat sekitarnya alias individualis. Fanatik keagamaan semakin menonjol dengan membangun konflik di tengah kerusuhan yang ada.

Pemahaman modern yang serba digital disertai pengetahuan yang berbatas pada teks semata menjadikan pemikiran hanya berlingkar kejumudan. Sekolah yang seharusnya kaya akan macam pengetahuan dibatasi karena ketidakterimaan keberagaman. Ada sebagian doktrin yang melarang persatuan bangsa dengan ketidakterimaan pancasila.

Sudah seharusnya sebagai masyarakat Islam yang kritis tidak melulu menerima informasi digital tanpa filtrasi. Adanya pemahaman radikal menjadi toxic kemurnian ajaran Islam yang damai. Perlu disadari bagi kalangan muda, maupun kalangan tua untuk membuka wawasan lebih bijak bahwa tidak seharusnya semua orang itu berpemahaman sama.

Tidak semua orang memiliki tingkat keimanan dan pengetahuan yang sama. Jangan sampai Islam yang damai menjadi keras dan menyiksa mereka yang masih baru mengenal Islam. Adapun pertikaian yang terjadi, sebagai umat Islam yang mengenal ajaran tasamuh tidak seharusnya ikut terbawa hasutan dan ikut ambil bagian dalam pertikaian.

Islam yang sejati adalah yang moderat, yang tidak memihak namun membagikan kedamaian. Konsep ini menjadi ciri khas dasar Islam Rahmatan Lil al-Amin yang mana membawa rahmat bagi seluruh makhluk. Sebagai muslim yang moderat kita harus menunjukkan ajaran Islam yang sesungguhnya beraspek kebaikan dan kedamaian.

Rekontruksi Pemahaman Islam Moderat

Moderasi Islam merupakan wacana penting di kehidupan masa kini. Moderasi berasal dari kata moderat yang berarti tengah-tengah; kemudian Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya.

Kedua kata ini digabung memiliki makna bahwa agama Islam adalah agama yang tidak memihak, agama yang berada di tengah tanpa memihak pertikaian kanan maupun kiri. Islam memiliki prinsip yang akan terus dijalankan oleh pengikutnya tanpa harus membelokkan diri ketika ada yang tidak sepemahaman.

Begitu pula sebaliknya tidak akan melarang agama lain yang sedang menjalankan perintah Tuhannya. Berangkat dari penyatuan budaya pribumi dengan disisipkan wawasan keIslaman; maka Islam Nusantara hadir membawa nuansa baru bagi kaum muslim yang notabennya moderasi Islam di Indonesia.

Islam Nusantara menunjukkan nilai toleransi keberagaman yang membangun keharmonisan sosial, budaya, dan agama dalam konteks ke-Indonesiaan. KeIslaman yang berciri penyatuan budaya lokal ini sebagai citra Islam yang damai dan menerima perbedaan.

Sebagai umat Islam yang moderat tidak seharusnya saling curiga dan mudah terhasut oleh persebaran berita-berita instan yang tersedia di media sosial. Kemudahan teknologi sebenarnya bukan solusi yang tepat menyelesaikan pekerjaan manusia, sebab teknologi sendiri bisa menjadi akar masalah masyarakat modern.

*

Tindakan solutif untuk problematik umat masa kini sebenarnya sudah termaktub dalam firman-firman Allah. Umat Islam masa kini seharusnya lebih dapat berkiprah dalam pemahaman sumber-sumber hukum Islam secara tekstual dan kontekstual.

Sebagaimana QS. Al-Hujurat ayat 4 yang menawarkan cara agar tidak mudah terkontiminasi persebaran hoax di era modern, yakni

اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Dikutip dari keterangan Tafsir Ibn Katsir bahwa latar belakang ayat ini berasal dari riwayat hadis dari kisah al-Harits sahabat Nabi Muhammad yang tertuduh tidak mau membayar zakat sebab tersebarnya hoax yang berasal dari al-Walid ibn ‘Uqbah. Pada masa itu al-Walid diutus Rasul mengambil zakat al-Harits.

Di tengah perjalanan al-Walid kembali dan memberikan laporan palsu kepada Nabi Muhammad bahwa al-Harits tidak mau membayar zakat. Maka turunlah ayat ini sebagai pengingat Rasul agar tidak langsung mempercayai berita atau laporan yang datang; melainkan fatabayyanu, yakni menelitinya apakah berita yang sampai benar atau sekedar berita palsu.

Jalur terbaik dari riwayat ini milik Imam Ahmad yang musnadnya berasal dari jalur suku Bani al-Musthaliq, yakni al-Harits ibn Dhirar al-Khuza’i ayah dari Juwairiyah binti al-Harits Ummil Mu’minin r.a. Dengan demikian, pemahaman teks dan konteks sangat diperlukan era modernitas ini agar umat Islam tidak mudah berprasangka buruk.

Sejatinya Islam yang sebenarnya adalah agama yang berperangai kedamaian tanpa memihak kubu kanan maupun kiri saat terjadi polemik keagamaan. Sudah saatnya Islam membumi yang mampu menengahi ragam perbedaan baik ras, suku, agama, sosial, dan budaya. Islam masa kini adalah Islam yang bijak dengan tidak menutup diri dalam fanatisme.

Bagikan
Exit mobile version