Site icon Inspirasi Muslimah

Metamorfosa Aluna

aluna

Secangkir espresso hangat menemani gadis itu pagi ini. Aromanya sungguh nikmat, mengundang siapapun untuk meneguknya. Tidak, bukan gadis lagi sebenarnya. Ia sudah menjadi seorang istri. Ya, tepatnya dua bulan lalu Aluna sudah melepas masa lajangnya setelah resmi dipersunting oleh seseorang yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, Satria. Tanpa proses pacaran layaknya orang-orang, Aluna kadang masih merasa tidak percaya mereka bisa sampai di titik ini. Karena meskipun sudah lama saling mengenal, butuh      waktu yang tidak sedikit bagi Satria untuk meyakinkan Aluna akan keseriusannya untuk melangkah ke jenjang rumah tangga.

Apakah selama ini Aluna tidak mencintai Satria? Tidak. Sebenarnya ia pun memiliki rasa yang sama. Tapi entah kenapa ia terlalu takut. Takut menikah. Terdengar konyol memang. Tapi itulah kenyataannya. Ia takut jika setelah menikah nanti akan terjebak dengan berbagai stereotip seputar pernikahan yang kebanyakan ia dengar dari orang-orang di sekitar. Ia takut hidupnya berubah drastis setelah pernikahan.

Tapi ternyata setelah dua bulan menjalani kehidupan rumah tangga bersama pasangan hidupnya, perlahan Aluna menikmati semua itu. Rasa takutnya pun berangsur sirna. Toh hidupnya normal-normal saja dan baik-baik saja setelah menikah. Terlebih pria yang ia nikahi pun bukanlah orang asing lagi baginya. Rasanya kebahagiaan Aluna sudah cukup lengkap. 

***

Tiba-tiba Aluna tertegun, dahinya berkerut, seketika ia merasa gelisah. Segera ia bergegas ke kamarnya. Sesampainya di kamar tatapannya tertuju pada satu benda kecil yang masih terbungkus segel di atas meja riasnya. Sebuah testpack yang dua hari lalu dibelikan temannya. Teringat percakapannya dengan temannya beberapa hari lalu.

“Kamu hamil ya, Na?” tanya Risti.

“Apaan sih, enggak kok.”  jawab Aluna yakin.

“Tapi badan kamu kelihatan beda aja, coba testpack deh, kalo ga berani beli tar aku beliin ya, hehe…” kata Risti.

Aluna hanya tersenyum tak ingin menanggapi. Tapi lama kelamaan ia mulai cemas. Apa iya ya?

Dan hari ini kecemasan itu berlanjut. Semakin berlarut larut. Ragu-ragu ia meraih benda kecil itu dengan gemetar. Hingga akhirnya memberanikan diri untuk menggunakannya. Jantungnya berdegup kencang saat perlahan alat itu bekerja dan memperlihatkan dua garis merah yang terpampang nyata di hadapannya. Air matanya pun tak terbendung lagi. Ia menangis sejadi-jadinya. Akan tetapi bukan tangis bahagia seperti halnya para pasangan pengantin baru. Tangisnya adalah tangis kecewa, karena mendapati hal yang sangat tak diinginkan.

***

Aluna mengurung diri di kamarnya. Tangisnya masih tak kunjung usai. Hingga suaminya mengetuk pintu kamar dan mendapati dirinya tengah berlinang air mata. Ia terkejut melihat istri tercintanya seperti itu. 

“Kamu kenapa sayang?” tanya Satria bingung.

“Aku positif.” Aluna menjawab lirih.

“Alhamdulillah, itu artinya kita akan segera dikaruniai keturunan, seorang bayi kecil tak lama lagi akan hadir di tengah-tengah kita sayang.” Seru Satria girang.

Tapi Aluna tak menjawab. Tangisnya kembali meledak, semakin menjadi-jadi. Satria semakin kebingungan. Apa yang salah dengan semua ini?

“Kamu ga ngerti,” jawab Aluna terbata-bata, “Aku takut hamil, aku takut melahirkan, aku takut jadi ibu…”

Aluna perlahan menjelaskan ketakutannya. Ia sangat takut hamil, ia tak bisa membayangkan ada makhluk hidup tumbuh membesar dalam perutnya. Belum lagi seiring membesarnya janin, perutnya pun akan turut melar membesar, tidakkah itu mengerikan? Apakah itu menyakitkan? Belum lagi ia mendengar banyak cerita bahwa melahirkan itu sangat menyakitkan. Sebuah proses perjuangan mempertaruhkan hidup dan mati. Karena itu ia sangat shock ketika mengetahui bahwa dirinya tengah berbadan dua.

***

Mendengar itu semua Satria geleng-geleng kepala. Ia tersenyum lantas memeluk istrinya. Mencoba menenangkan dan memberinya pengertian. Betapa diluar sana banyak sekali pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah namun belum dikaruniai keturunan. Begitu beruntungnya mereka berdua yang tak perlu menunggu terlalu lama sudah diberi kepercayaan Tuhan untuk mengemban tanggung jawab sebagai orang tua.

Tangis Aluna pun mulai mereda. Setelah ia mencerna perkataan suaminya, sedikit demi sedikit ia mencoba memahami. Bahwa sepertinya memang hal ini lumrah karena ia tak bisa melawan kodratnya sebagai seorang wanita. Akhirnya ia berusaha menguatkan diri dan mengumpulkan keberaniannya. Ia bertekad untuk bisa melaluinya dengan kuat dan ikhlas.  

Hari-hari selanjutnya berusaha ia lewati. Bukan tanpa tantangan. Diawali dengan mual-mual khas trimester awal. Aluna heran, entah kenapa aroma nasi hangat yang mengepul dan biasanya menggugah selera tiba-tiba saja baunya begitu menyebalkan. Membuatnya ingin muntah. Bahkan bakso yang merupakan makanan favoritnya sekalipun kini tak lagi membangkitkan selera baginya. Membayangkannya saja ia merasa kesal. Aluna sedih karena begitu banyak makanan yang ia sukai di hadapannya kini tak mampu lagi membuatnya ingin segera melahap semua. Padahal perutnya lapar, tapi tak ada makanan yang selamat bisa masuk ke perutnya. Sepanjang hari rasanya seperti mabuk perjalanan. Pusing, oleng.

Tak hanya itu, berat badannya mulai naik drastis, pipinya makin membulat. Ia merasa tubuhnya makin tak enak dilihat. Tak ada lagi tubuh langsingnya yang menjadi idaman banyak wanita. Lebih parahnya lagi menuju trimester kedua cairan tubuhnya meningkat. Kaki dan tangannya bengkak. Ditambah dengan kesemutan yang tak kunjung reda. Rasanya lengkaplah sudah penderitaan Aluna. Kapan semua ini akan berakhir? Pikirnya. Ia heran mengapa begitu banyak wanita ingin hamil padahal rasanya sangat tidak enak menurutnya. Tapi entah kenapa setiap kali janin di perutnya bergerak, ada rasa yang berbeda, bahkan ketika janinnya sibuk menendang-nendang perut Aluna, rasanya lucu. Dan Aluna selalu menantikan saat-saat itu. Jika janinnya cukup lama tak bergerak, ada rasa rindu sekaligus khawatir. Apakah si makhluk hidup dalam perutnya itu baik-baik saja? Perlahan tapi pasti Aluna mulai mencintainya.    

Setiap bulannya ia rutin pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilannya. Hingga di bulan ketujuh ia terkejut karena posisi bayinya yang sungsang. Bulan kedelapan si bayi melintang. Aluna mulai putus asa namun keajaiban muncul di bulan kesembilan, posisi bayinya kembali normal. Aluna tak henti-hentinya bersyukur, meskipun langkahnya semakin berat seiring perutnya yang semakin membesar, dan napasnya yang makin tersengal-sengal karena janinnya semakin memenuhi perutnya, tak memberinya ruang untuk bernafas dengan leluasa, membuat tubuhnya semakin mudah lelah. Lama kelamaan ia mulai terbiasa dengan semua itu dan bersahabat dengan rasa sakitnya.          

***

Pagi ini Aluna terbangun dengan tubuh yang terasa remuk seperti biasa. Tapi ada yang berbeda. Ia merasa sedikit sakit di perutnya. Terasa seperti kram, namun kemudian hilang. Beberapa jam kemudian rasa sakit itu muncul lagi. Ia bertanya-tanya, apakah ini pertanda ia akan melahirkan? Rasa mulas yang ia rasakan mulai menguat, namun datang dan pergi. Ia pun memberitahu suaminya.

“Sayang, kenapa ya perut aku sakit terus? Ini aneh, kadang sakit kadang enggak.”

“Kita ke bidan aja yuk sayang, takutnya sudah waktunya kamu melahirkan.” Jawab Satria cemas. 

Mereka pun menuju bidan terdekat. Baru pembukaan dua. Tapi karena ini kehamilan pertama dan mereka sangat cemas, akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu saja disana. Kontraksi yang dirasakan Aluna semakin lama semakin intens dan semakin hebat. Semakin lama rasanya semakin membuatnya menderita. Tubuhnya kini basah oleh keringat, dan semakin tegang karena menahan rasa sakit. Ingin rasanya ia menjerit tapi akhirnya ia hanya bisa beristighfar saja sembari menangis. Rasanya tak tahu lagi apakah umurnya masih panjang atau mungkin ia akan meregang nyawa saat itu juga. Ia hanya bisa pasrah dan berdoa semoga semua ini segera berlalu. Berharap bayinya bisa lahir dengan selamat. Begini ternyata rasanya perjuangan menjadi seorang ibu. 

Aluna rasanya sudah tidak tahu lagi seberapa banyak sakit yang  dirasakannya. Kini entah kenapa tiba-tiba saja seperti ada dorongan dari dalam perutnya, mendorong-dorong dengan kuat sehingga sang bidan segera mengambil langkah-langkah penanganan. Membantunya mengantarkan sang bayi kecil lahir ke dunia. 

“Ooee..ooee…” tangisan bayi Aluna memecah semua ketegangan.

“Alhamdulillah…” Satria spontan memeluk Aluna yang masih terkulai lemas. 

“Dia sudah lahir?” tanya Aluna, “Dia selamat kan sayang? Dia baik-baik saja?”

“Iya sayang, bayi perempuan kita sudah lahir, selamat, tak kurang satu apapun.” 

Aluna merasa lega. Ia menatap putrinya dengan takjub.  Semua rasa sakitnya lenyap entah kemana. Terlebih ketika ia bisa menimang dan menyusui bayinya untuk pertama kali. Ada rasa haru dan bahagia tak terbendung di hatinya. Tangan yang mungil, kaki yang kecil, paras yang manis. Betapa sempurnanya bayi yang sudah dilahirkannya ke dunia. Bagaimana bisa ia menolak anugerah luar biasa yang diberikan Tuhan kepadanya. Aluna menyesal sempat tidak menginginkan kehadiran bayinya itu.           

Perlahan pola pikirnya berubah dan ia membuka mata hatinya. Membebaskan dirinya dari rasa takut akan hal-hal yang belum terjadi dan belum ia alami. Hidup ternyata lebih indah jika dijalani dengan hati yang lapang dan ikhlas. Tak akan ia biarkan lagi dirinya hidup dalam sangkar kecemasan yang akhirnya mengungkungnya dalam ketakutan. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Kembali ia tatap malaikat kecil dihadapannya itu dengan berjuta cinta yang sepertinya tak akan pernah habis hingga ia kelak ia menghembuskan nafas terakhirnya. 

“Nak, panggil aku ibu.” Gumamnya lirih. 

Especially for all women in the world,

You’re awesome!

Bagikan
Exit mobile version