Sebelum pandemi, cerita ini berlangsung. Menjadi sangat berarti, ketika aku dengan penuh keberanian mengambil keputusan. Sebuah keputusan yang tidak mudah karena ada perang batin yang menyertai.
Anak sulungku yang duduk di kelas 4 SD, pulang sekolah bersungut-sungut dengan raut wajah yang tampak tidak seperti biasanya. Sambil meletakkan tas sekolah, dia mohon agar aku mengijinkan untuk mengerjakan PR di rumah temannya yang kebetulan anak seorang guru. Ini tak biasanya
Waktu kutanyakan mengapa harus ke sana, jawabannya cukup membuatku merana. Hanya karena aku, ibunya, adalah ibu rumah tangga bukan seorang guru.”Ya, aku memang bukan guru, Nak. Tapi selama ini tidak ada masalah dengan PRmu kan?”. Dia mengangguk, tapi roman kesedihan masih tampak di wajahnya. Ada apa dengan anak ini?
Usai makan siang, kudekati dan kutanya pelan-pelan mengapa dia sesedih itu. Rupanya tadi di sekolah ada acara perkenalan dengan kepala sekolah baru. Beliau masuk di tiap ruang kelas dan mengajukan pertanyaan ringan kepada siswa secara acak. Kebetulan putraku ditanya apa pekerjaan ibunya.
Dia jawab dengan polos bahwa ibunya tidak bekerja tetapi di rumah. Sedangkan teman-temannya ada yang menjawab ibunya seorang dokter, seorang guru, pegawai puskesmas, bekerja sebagai pedagang, dan lainnya. Inilah yang membuatnya sedih dan malu kepada teman-temannya bahwa sang ibu tidak jadi pegawai apa-apa dan tidak bekerja kemana-mana alias di rumah.
Memutuskan Menjadi IRT
Menjadi ibu rumah tangga (IRT) adalah pilihan hidupku. Meski sebelum menikah sempat menjadi guru bagi anak-anak orang lain, namun sekarang memilih untuk menjadi “guru” untuk anak sendiri. Bagi anak seusia anakku belumlah paham untuk apa ibunya memilih menjadi IRT tulen.
Jika ada perasaan minder itu tidak salah. Seiring berjalannya waktu, lambat laun, akhirnya dia menemukan rasa nyaman. Ini terjadi ketika dia menjumpai sebagian temannya yang tidak bisa ketemu ibu mereka saat pulang sekolah karena ibu mereka masih bekerja. Hal ini tentu bukan salah mereka ataupun salah ibu-ibu mereka.
Untuk memberi pengertian kepada anak tak segampang memberi saran kepada seorang teman. Dengan penuh kesabaran, pendekatan dan sengaja kulakukan contoh-contoh ringan yang sekiranya bisa membuat dia bahagia dan nyaman, sehingga bisa menerima bahwa ibunya bukanlah perempuan kantoran atau perempuan pekerja di luar rumah.
Setiap pulang sekolah kusambut dengan ramah dan satu hal yang kuhindari adalah menanyakan tadi ulangan apa atau dapat nilai berapa PRnya. Tanpa ditanyapun, kalau suasana hati gembira dia akan bercerita sendiri misalnya, PR yang semalam dikerjakan sambil didampingi ibu ternyata tidak ada yang salah. Demi membesarkan hatinya agar lebih semangat, tak segan aku selalu melontarkan pujian. Sebaliknya bila ternyata hasilnya kurang bagus aku akan menghibur.
Tutur Aktivitas Ibu Rumah Tangga di Rumah
Meski aku hanya ibu rumah tangga, urusan belajar di rumah atau PR anak, aku selalu terlibat. Menemani belajar dan sesekali memberi soal yang bisa kuambil dari buku sekolah dengan bidang studi yang sesuai dengan jadwal hari itu. Bila suatu hari dia kurang mood dalam belajar tak segan-segan aku selingi dengan cerita-cerita atau dongeng yang mengandung unsur pendidikan. Bahkan kadang ceritanya aku karang sendiri dengan tambahan berbagai bumbu agar lebih menarik.
Kedekatan ibu terhadap anak tidak bisa diragukan ketulusannya. Baik ibu pekerja di luar maupun IRT. Sudah menjadi kodrat seorang ibu untuk “berbagi nyawa” dengan anak-anaknya. Apalagi peran seorang ibu tidak bisa dianggap remeh bagi pendidikan anak, kasih sayang dan suri tauladan utama bagi anak, di samping peran seorang ayah yang sama porsinya.
Banyak hal mendasar yang harus dan bisa dilakukan IRT di rumah. Yaitu mendidik, merawat, melindungi, mengayomi dan menghibur di kala anak sedih serta memberi contoh dalam hal agama, dan masih banyak lagi lainnya. Meskipun terlalu sibuk dengan aneka pekerjaan rumah, masalah pendidikan atau hal-hal yang ada hubungannya dengan perkembangan anak, tetap menjadi prioritas utama. Termasuk pendidikan rohaninya.
Tidak semua ibu bisa membersamai anak di setiap saat. Memantau dan mendampingi selama anak tumbuh kembang dari fase ke fase berikutnya merupakan kenikmatan yang patut kita syukuri. Nikmat waktu yang tidak semua ibu memperolehnya. Ketika ada yang bertanya kenapa aku tak kerja, kujawab dengan ringan bahwa aku ingin fokus merawat dan membesarkan anak dengan tangan sendiri.
Kelebihan Lainnya
Secara ekonomi, mungkin IRT tidak seberuntung ibu pekerja di luar. Apalagi yang (maaf) suami berpenghasilan pas-pasan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi IRT untuk mewujudkan “kecerdasan tersembunyi” demi menopang ketahanan ekonomi rumah tangga.
Seperti di era pandemi ini. Didukung teknologi canggih, banyak IRT yang membongkar kembali hobi-hobi lama menjadi sesuatu yang bisa menambah penghasilan. Misalnya yang hobi menjahit, bisa menerima jahitan atau memberi les privat jahit menjahit. Yang hobi masak, juga bisa menjual hasil masakan lewat online dengan berbagai menu yang tengah mewabah akhir-akhir ini. Dari hobi-hobi sederhana, bila dikelola dengan cerdas akan membawa hasil yang sepadan bahkan lebih.
Menjadi seorang IRT tak bisa dipandang sebelah mata. Dalam hal ini dukungan dan kerja sama suami sangat dibutuhkan demi masa depan anak yang gemilang. Dari seabreg kegiatan IRT, diharapkan ada komunikasi dan kerjasama dengan suami. Bahu membahu.
Ada kebahagiaan tersendiri di pihak suami, karena istri tak terikat waktu dan siap sedia setiap saat. Demikian juga sebaliknya. IRT lebih bebas dan leluasa menjalankan ibadah-ibadah sunah(tentu seijin suami). Umpamanya, ingin berpuasa sunah, shalat sunnah di jam-jam kantor, baca Al-Qur’an setiap usai sholat wajib dan lain sebagainya. Semua bisa dilakukan di rumah tanpa dikerjar waktu. Tanpa diketahui oleh selain keluarga, sehingga godaan untuk memunculkan riya dan ujub atas ibadah yang dilakukan menjadi lebih sulit.
Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga
Aku bangga dan tidak menyesal menjadi (hanya) ibu rumah tangga. Ini pilihanku dan aku bahagia. Bagiku, bahagia bukan dari banyaknya materi, tapi materi yang cukup atau pas-pasan tidak akan menghalangiku untuk senantiasa melantunkan syukur kepada Sang Penggenggam Takdir.
Meski aku tidak mampu memberi sejumlah nominal demi menebus setiap keinginan anak, namun aku punya waktu dan kasih sayang melimpah untuk mereka. Apapun kulakukan demi membentengi anak-anak dari paparan pengaruh lingkungan yang kurang mendukung. Aku akan selalu “merangkul” mereka dengan segenap kasih dan rapalan doa-doa.
Perjalanan hidup seorang IRT bukan tanpa aral melintang. Meski terkadang, stigma sosial di masyarakat kadang menekan perasaan.
Sebagai IRT, ada kebahagiaan tersendiri yang kurasakan ketika punya kesempatan membersamai anak-anakku tumbuh hingga dewasa. Dari mereka kutahu, mereka merasa bangga memiliki ibu yang hanya di rumah yang selalu siap membantu menyelesaikan persolan demi persoalan yang mereka hadapi, dengan cara sederhana sesederhana ibu rumah tangga.
Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.
