Oleh: Isnatul Chasana*
Menjadi perempuan muda usia 25 tahun di Indonesia –dan belum menikah- bukan hal mudah. Tentu saja usia ini, menurut psikologi dalam ilmu perkembangan manusia, sudah termasuk dalam kategori usia dewasa awal (early adulthood).
Usia 25 dinilai sudah matang. Sebab, adulthood yang merupakan kata kerja adultus memiliki arti tumbuh dan mencapai ukuran serta kekuatan yang penuh. Produktivitas yang tinggi menjadi salah satu ciri khas di usia ini.
Seperti disebut dalam International Journal of Child and Gender Studies, orang-orang di rentang usia dewasa awal (sekira 18-40 tahun) telah menyelesaikan masa pertumbuhan dan siap menerima statusnya di lingkungan sosial bersama orang-orang dewasa lainnya.
Siap menerima status di lingkungan sosial, dalam realitasnya, dapat pula diartikan siap menerima segala risiko hidup di tengah lingkungan dengan beragam penilaiannya. Termasuk penilaian atas pencapaian yang diraih dari segala produktivitas apapun.
Saya mengumpulkan beragam curahan hati perempuan muda usia 25 tahun dari tiap obrolan ringan hingga serius yang disampaikan. Barangkali, ada selusin teman yang menceritakan tema tak jauh dari soal pencapaian masa dewasa muda, salah satunya urusan menikah.
Meski tema besarnya soal belum menikah di usia separo abad, tapi kebanyakan justru bukan soal cinta yang jadi masalah. Memang, bicara soal pernikahan bagi beberapa perempuan di abad ini, cinta bukan satu-satunya topik utama.
Rata-rata, yang menggalaukan hati mereka adalah menemukan sosok yang bisa memahami mereka sebagai perempuan yang tetap ingin berkembang.
Artinya, lingkaran pertemanan dan aktivitas di ruang sosial membentuk cara pandang perempuan soal banyak hal, salah satunya pernikahan. Kalis Mardiasih, dalam buku ‘Muslimah yang Diperdebatkan’ mengisahkan beragam pencapaian seorang perempuan di berbagai bidang yang seakan menjadi kurang sah jika belum menikah.
Jangankan memberikan apresiasi atas pencapaian, pertanyaan yang banyak berseliweran dari orang-orang sekitar justru tak jauh-jauh dari ikhwal, “Terus kapan nikahnya kalau sekolah terus?” Atau, “Organisasi terus diurusi, sampai nggak sempat cari jodoh!” Atau “Nyari kaya apa sih sampai nggak nikah-nikah?”
Sederet kalimat tanya penghakiman lain seakan menjadi pembenar bahwa belum sempurna usaha seorang perempuan bila belum menikah. Padahal, ibarat membuat kue tar untuk hidangan istimewa, banyak bahan yang harus disiapkan untuk menuju ibadah sepanjang masa itu.
Sayangnya, masyarakat kita, bahkan lingkungan terdekat seperti keluarga besar pun, tak semua memiliki pandangan yang sama soal alasan perempuan separo abad belum juga memiliki pasangan terikat. Masih berbekal curahan hati banyak teman di lingkaran kerja atau organisasi, kesulitan yang saya tangkap dari curhatan-curhatan itu banyak menyangkut kekhawatiran akan ketidaksiapan masing-masing terhadap kehidupan pasca pernikahan.
Kekhawatiran itu bisa menyoal pola pendidikan dan pengasuhan anak yang sangat kompleks di era digital, ada pula yang menyoal perbedaan sudut pandang tentang perempuan yang beraktivitas di ranah publik. Pembagian pekerjaan rumah tangga antara suami dan istri, perbedaan cara pengambilan keputusan terhadap satu permasalahan, pemahaman soal hal-hal yang dianggap ‘remeh-temeh’ terkait perlakuan terhadap pasangan, atau kemandirian finansial yang tak dapat dipungkiri berperan besar terhadap kehidupan pasca pernikahan.
Hal-hal tersebut tak lantas dimaknai pernikahan harus terjadi dalam bingkai kesempurnaan. Dari cara mereka menyampaikan kerisauan-kerisauan itu, saya menangkap perempuan muda zaman sekarang sangat visioner dan ilmu amaliyah banget, gitu lo.
Mereka tak hanya ingin menikah berdasar pada dalih ‘menghindari zina’, atau karena usia yang tak lagi muda. Lebih dari itu, perempuan menginginkan pernikahan berbasis ilmu dan sekufu. Ya ilmu soal psikologi memahami pasangan (kita bisa belajar banyak dari kajian dokter Aisyah Dahlan soal ini), ya ilmu soal mengelola keuangan, belajar memasak, ilmu parenting, atau ilmu kesehatan dasar untuk di rumah barangkali.
Penyederhanaan pandangan dan kesepakatan dalam memandang hal-hal yang sangat gender juga sangat perlu dimiliki dua orang yang akan menjadi sepasang. Perempuan –juga lelaki – milenial, menginginkan lingkungan yang membuatnya berkembang.
Penelitian Gallup menunjukkan generasi milenial mengutamakan pengembangan diri dalam organisasi yang ia termasuk di dalamnya. Dan bukannya keluarga merupakan salah satu organisasi dengan struktur paling sederhana?
Perempuan –juga lelaki- milenial ingin hal-hal yang dilakukannya dapat menunjang pengembangan skill dan mendapatkan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Perempuan –juga lelaki- juga menghindari adanya doktrinasi atau perintah dan kontrol yang berlebihan. Menyoal pernikahan, pasangan bagi generasi di masa ini adalah pasangan sebagai partner, alih-alih sebagai sosok pengontrol yang menekankan pada doktrinasi ‘perempuan mengikuti dan menuruti sepenuhnya apa kata laki-laki sebagai suami’.
Kemerdekaan hakiki bagi generasi ini ialah kesempatan untuk menjalankan ide yang mereka pikirkan, serta kebebasan berinovasi. Tak berlebihan kiranya bila hal-hal demikian didambakan dalam kehidupan pernikahan.
Perempuan muda masa kini tak ingin menjadi berubah setelah menikah: karena menikah jadi tak bisa bekerja, karena menikah jadi tak sempat aktif di ruang-ruang sosial, karena menikah jadi tak bisa banyak berkiprah di ruang publik. Perempuan muda masa kini mendambakan pasangan sebagai partner untuk saling memberi manfaat.
*Seorang Penulis dan Aktivis Malang
