Site icon Inspirasi Muslimah

Menguatkan Kembali Pendidikan dalam Keluarga

pendidikan dalam keluarga

Roy-Waluyo

Tulisan ini pertama saya ketik saat perjalanan arus balik berapa waktu lalu. Ketika saya melihat ada begitu banyak sopir dan penumpang dengan entengnya melempar sampah dari kaca jendela mobil. Sekilas nampak sepele, yang dilempar itu hanya puntung rokok, kemasan air mineral atau bungkus makanan ringan. Tapi bayangkan jika hal tersebut dilakukan ribuan pengguna jalan raya. Betapa banyak sampah yang akan berserakan. Saya berpikir bila sampah-sampah yang belum sempat dibersihkan itu  keburu diguyur hujan, kemana ia akan  bermuara?

Kebanyakan kita melihat penyimpangan dari sisi kuantitas. Dari sisi besarnya kerugian yang timbul. Guru yang keluar sebelum jam pelajarannya selesai, abg yang  naik motor bertiga termasuk buang sampah sembarangan dianggap sebagai hal yang biasa. Kalau pejabat korupsi baru kita menyebutnya sebagai tindakan kejahatan. Padahal sama-sama penyimpangan terhadap nilai, norma atau aturan dan pada prinsipnya sekecil apapun penyimpangan tetap penyimpangan. Sangat mungkin ia untuk ber-eskalasi menjadi penyimpangan besar. Bagi seseorang yang sudah terbiasa melakukan penyimpangan kecil, untuk melakukan penyimpangan besar hanyalah masalah kesempatan.

Berbagai bentuk penyimpangan dapat menjadi indikator gagalnya pendidikan. Berbicara tentang pendidikan, yang muncul di benak kita adalah tentang institusi bernama sekolah. Sejak lama kita telah  menyerahkan tanggung jawab dan urusan pendidikan kepada guru. Kita lupa bahwa pendidikan berawal dari keluarga dan hakikatnya setiap orang tua adalah guru. Orang tua berperan dalam pembentukan karakter anak. Bila terjadi penyimpangan dan kenakalan, orang tua memiliki andil dan konrtribusi di dalamnya.

Keluarga adalah institusi pendidikan pertama yang memiliki peran penting dalam tumbuh kembang seorang anak.  Menurut Benyamin S. Bloom, pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0-4 tahun mencapai 50%.  Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka, segala tumbuhkembang anak baik fisik maupun mental tidak akan berkembang secara optimal.

Peran orang tua dalam keluarga sama pentingnya dengan peran guru di sekolah, bahkan lebih. Dalam keluarga, orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Maka selayaknya pendidik, para orang tua perlu mempersiapkan diri dengan matang. Kita tahu untuk menjadi guru, seseorang harus menempuh pendidikan S1 paling cepat empat tahun. Belum lagi kalau harus melanjutkan S2 atau S3. Lalu berapa lama waktu yang kita habiskan untuk mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua?

Kesiapan seseorang untuk menjadi orang tua sangat relatif. Tidak melulu dilihat dari usia yang sudah tua atau mandiri secara finansial. Faktor kestabilan emosi juga sangat penting termasuk mengerti psikologi anak. Menurut penelitian, semakin matang usia istri dan suami saat menikah maka akan semakin matang kesiapannya menjadi orang tua dan semakin baik pula stimulasi psikososial yang mereka berikan. Hal ini meningkatkan peluang perkembangan sosial anak untuk menjadi lebih baik (Setyowati dkk, 2017).

Banyak  orang tua menerapkan pendidikan dalam keluarganya, hanya dengan cara mempraktekan pendidikan yang sama seperti yang  ia dapatkan semasa kecil. Secara esensi, pendidikan memang sama. Masalahnya tantangan hari ini begitu kompleks. Perkembangan teknologi begitu pesat. Sampai-sampai kita tidak bisa beradaptasi dengan seluruh kemajuan yang ada. Pada zamannya televisi pernah “dimusuhi” karena dianggap menggangu aktifitas belajar anak. Namun kehadiran smartphone dengan berbagai fitur canggihnya menjadi tantangan tersendiri dalam proses pendidikan seorang anak.  Smartphone bukan hanya membuat anak tidak fokus belajar tetapi bersifat adiktif sehingga membuat anak susah lepas darinya.

Pendidikan bukan hanya tentang materi apa yang disampaikan tapi juga tentang metode. Kita perlu secara kreatif melakukan pendekatan yang berbeda. Kita tidak mungkin mengisolasi anak-anak kita dari kemajuan teknologi. Karena mau atau tidak, suatu saat nanti anak kita akan bersentuhan dengan teknologi. Teknologi akan menjadi bagian dari kesehariannya. Yang perlu kita  lakukan adalah menyiapkan sedini mungkin agar “otot-otot” mereka siap untuk mengeliminasi berbagai efek negatifnya.

Umumnya seorang anak berada di sekolah  paling lama 8 jam. Artinya anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Tentu saja pendidikan itu harus integratif dan kolaboratif. Ada kesinambungan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Bukan sebaliknya, orang tua justru merusak nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah. Apa jadinya kalau di sekolah, guru menjelaskan tentang bahaya rokok termasuk menceritakan begitu banyak racun yang terkandung dalam sebatang rokok. Tetapi di rumah, orang tua justru mempertontonkan keasyikannya menghisap rokok.

Pendidikan dalam keluarga adalah tentang keteladanan. Segala tindakan dan perkataan orang tua, termasuk diamnya merupakan bagian dari pendidikan. Melihat begitu pentingnya peran orang tua, pernahkah kita secara khusus mempersiapkan diri? Berapa banyak buku dan jurnal yang sudah kita baca? Sudahkah kita belajar psikologi? Berapa banyak kelas parenting yang sudah kita ikuti?

Pendidikan keluarga merupakan struktur dasar bagi pendidikan anak dan sekolah adalah super strukturnya. Ketika kita tidak siap jadi orang tua, anak akan kehilangan sosok teladan. Fungsi pendidikan dalam keluarga tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Selanjutnya akan hadir begitu banyak intervensi dan teladan di luar sana yang akan mempengaruhi tumbuhkembang dan pembentukan karakter anak. Dan intervensi itu tidak sepenunhya baik.

Bagikan
Exit mobile version