Site icon Inspirasi Muslimah

Mengosongkan Untuk Mengisinya Lagi

isi

Hari minggu ini adalah jadwal saya membersihkan barang-barang yang ‘sepertinya’ tak kami gunakan lagi. Rumah kami termasuk type yang minimalis sehingga tidak memungkinkan untuk menampung banyak jenis barang. Setiap kali ingin mengisi beberapa barang baru, harus memiliki kerelaan hati melepas barang lain untuk keluar. Sebuah konsekuensi logis jika kami tetap menginginkan hunian ini tidak terasa sumpek.

Dua tahun masa pandemi ini selain menambah jumlah angka berat badan saya, ups, juga menambah jumlah buku yang kami miliki. Karena saya dan dua anak saya suka membaca, jadi sebagian besar waktu di rumah kami pergunakan semaksimal mungkin dengan melahap buku-buku yang bisa kami dapatkan di online shop. Jumlah buku yang bertambah, otomatis memerlukan tempat penyimpanan yang bertambah pula. Perlu berhitung ulang untuk memutuskan membeli rak baru atau menyingkirkan benda yang tidak terpakai agar buku-buku tersebut mendapat tempat penyimpanan yang layak.

Setelah memperhatikan dan menimbang, akhirnya saya memutuskan untuk menyingkirkan benda-benda yang tak lagi terpakai. Beberapa mainan lama, buku-buku pelajaran dari kelas sebelumnya dan beberapa kotak yang saya pikir cukup cantik sehingga dapat kami simpan untuk menjaga kemungkinan akan saya manfaatkan sewaktu-waktu, terpaksa kami singkirkan.

Romantisme Kenangan Pada Benda

Cukup lama saya harus berkutat dengan dengan romantisme kenangan, duduk terpaku memandang kembali beberapa benda yang cukup sentimentil. Entah berapa jam waktu yang saya buang untuk sekedar bernostalgia sampai akhirnya mendapatkan space yang cukup untuk meletakkan buku-buku yang saat ini lebih mendapat tempat di hati saya dan anak-anak. Sebuah pengorbanan besar yang harus saya lakukan demi mendapatkan ruang baru untuk hal yang baru.

 Beberapa saat setelah itu saya kembali tercenung, menyayangkan tindakan pembersihan yang saya lakukan. Bagaimanapun barang-barang yang saya singkirkan tadi masih menyisakan ‘rasa’ di hati. Bagaimana jika suatu saat saya memerlukan barang-barang tadi, dan di pasaran sudah sulit untuk menemukannya? Duh, eman banget deh kalau main buang begitu saja.

Cukup lama sampai kemudian saya menyadari bahwa proses pembersihan tadi bukanlah tanpa alasan, bukanlah tanpa pertimbangan. Semua benda yang kami pilih untuk dibuang benar-benar telah melewati seleksi ketat mengenai kelayakan serta manfaat keberlanjutannya. Kalau memang sudah tidak layak dan tak ada alasan lagi untuk mempertahankan, ya memang harus menyingkirkannya. Toh pada akhirnya setelah pembersihan tersebut tercipta banyak ruang kosong yang bisa kami isi dengan hal-hal baru.

Teknologi Belajar Untuk Anak

Saya jadi teringat dengan salah satu siswa les yang memulai kegiatan belajarnya di bimbel yang saya kelola ini dalam keadaan sama sekali belum bisa membaca, di usianya yang seharusnya sudah sangat pantas duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Mamanya bercerita bahwa sudah beberapa kali anak ini berpindah tempat les, tapi tak satupun dapat membuatnya mengingat akan huruf yang bisa mereka rangkai menjadi kata dan kalimat.

Setelah observasi dengan beberapa kali pertemuan pembuka, saya menemukan fakta bahwa anak tersebut terlalu banyak menghabiskan waktu bersama ponsel pintarnya. Memori kepalanya penuh dengan hal-hal yang dia lihat di You Tube.  

Berdasarkan fakta tersebut maka langkah awal yang saya ambil adalah meminta kepada orang tuanya untuk tidak membawakan ponsel saat sedang les. Hal ini bertujuan untuk  pelan-pelan membersihkan isi kepalanya dari segala hal yang terkait dengan apa yang dia rekam dari You Tube. Dengan begitu, space memori yang mereka gunakan untuk menyimpan ingatan tentang isi aplikasi tersebut perlahan akan kosong karena tak lagi mengingat dan mengisi kembali.

Ruang Kosong Pemulih Otak

Berawal dari menjauhkan ponsel hanya saat sedang les, berlanjut dengan menjauhkan ponsel saat si anak sedang bermain. Akhirnya sedikit demi sedikit focus anak tersebut  akan You Tube, mulai tergeser. Memori kepalanya mulai terisi dengan hal-hal lain yang sengaja mereka isikan ke dalam memorinya. Materi-materi les dan pelajaran di sekolah pun pelan-pelan bisa diingatnya. Selain itu, dia mulai bisa belajar dengan wajar dan mulai menikmati dunia lain seperti asyiknya berinteraksi dengan teman-teman serta orang lain yang dia temui secara langsung di dunia nyata.

Terkadang, dalam hidup kita perlu mengosongkan sesuatu, terlebih lagi yang sudah overload, agar bisa mengisinya dengan hal lain. Bagaimanapun kapasitas tampungan kita terbatas, tak bisa semua hal kita tampung begitu saja. Kalaupun pada akhirnya semua hal kita paksa untuk bisa masuk ke dalam otak kita, maka kepala akan terasa penuh dan dada sesak. Semua hal tersebut serasa berebut ruang dalam diri kita.

Seperti halnya saat kita mengisi rumah dengan barang-barang baru. Jika di dalam rumah telah ada barang-barang lama, kemudian ditambah dengan barang-barang baru, maka ruang kosong di dalam rumah akan berkurang, begitu seterusnya. Lain halnya jika saat memasukkan barang baru, disertai dengan mengeluarkan barang lama. Begitupun yang terjadi dengan diri kita.

Editor: Kholifatul Husna

Penulis: Dinul Qoyimah

Bagikan
Exit mobile version