Site icon Inspirasi Muslimah

Menemukan Keluarga Baru di Perantauan

rantau

Muhammad Fariz Kurniawan

Mendengar kata merantau, biasanya identik dengan perpindahan seseorang atau orang-orang ke Jakarta. Namun, keluarga kecil saya justru mengalami hal yang sebaliknya. Kami harus meninggalkan handai taulan di Jakarta dan merantau ke provinsi paling selatan di Pulau Sumatra, yakni Lampung.

Singkat cerita, keluarga saya mulai menginjakkan kakinya di Lampung sejak dekade 90-an. Pekerjaan papa menjadi alasan mengapa keluarga saya meninggalkan riuh rendahnya Jakarta. Pada saat itu, papa saya mendapat penugasan sebagai PNS di Provinsi Lampung. Tepatnya di Kota Bandar Lampung.

Sebenarnya keluarga saya tidak benar-benar sendirian pada saat itu. Ada keluarga pakde saya di Bandar Lampung. Mereka merantau ke Lampung karena alasan yang sama dengan keluarga saya, yakni faktor pekerjaan bude sebagai PNS. Akan tetapi, mereka kemudian memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

Pasca kepindahan keluarga pakde tersebut, keluarga saya praktis benar-benar sendirian. Beruntung, ka kemudian mendapat banyak relasi di tanah perantauan seiring dengan berjalannya waktu. Beberapa di antaranya bahkan sudah terasa seperti saudara sendiri.

***

Bu Masta dan keluarganya merupakan salah satu relasi yang sudah saya anggap sebagai ‘keluarga’ di Lampung. Rumahnya sangat dekat dengan rumah saya. Di samping itu, mereka sering mengajak keluarga saya jalan-jalan. Entah itu pergi ke suatu tempat wisata atau sekedar makan-makan saja.

Dari semua pengalaman bertetangga dengan Bu Masta dan keluarga, ada satu yang terasa sangat berkesan di benak saya. Yakni mudik ke kampung halamannya yang terletak di di daerah Bandar Jaya, Lampung Tengah. Momen tersebut terjadi pada saat Lebaran di tahun 2011.

Pada awalnya, anak Bu Masta -Om Kiwah- mengajak saya untuk mengunjungi Bandar Jaya. Tanpa berpikir panjang, keluarga saya sendiri mengiyakan ajakan tersebut. Hitung-hitung sebagai pelampiasan karena keluarga saya tak melakukan tradisi ‘mulang tiyuh’ alias mudik ke Jakarta seperti biasanya.

Tak disangka, keluarga Bu Masta menyuruh keluarga saya untuk menginap. Saya pribadi jelas merasa canggung. Pasalnya, saya belum pernah menginap di rumah orang lain selain rumah mbah di Jakarta. Meskipun demikian, saya dan keluarga tetap menerima tawaran tersebut.

Kurang lebih 2 hari 1 malam keluarga saya menghabiskan waktu di Bandar Jaya. Selain menginap dan menikmati nuansa perkampungan, keluarga saya juga diajak untuk bersilaturahmi ke beberapa handai taulan Bu Masta. Beliau dan keluarganya memperlakukan keluarga saya layaknya saudara kandung.

Setelahnya, giliran keluarga Bu Masta yang mengunjungi rumah mbah saya di Jakarta. Setidaknya mereka pernah bertandang sebanyak dua kali. Di samping itu, mereka juga pernah menjenguk mama saya yang dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta.  

***

Selain keluarga Bu Masta, keluarga saya juga memiliki relasi yang telah dianggap sebagai ‘saudara’ di daerah Sidomulyo, Lampung Selatan. Relasi tersebut merupakan teman dari kakak Papa saya di Takeran, Jawa Timur. Namanya adalah Pak Piran.

Hubungan keluarga saya dengan Pak Piran bermula dari suatu kejadian yang tidak terduga. Pada suatu waktu, Pak Piran pernah berkunjung ke tempat papa saya bekerja. Berdasarkan cerita papa, kejadian tersebut berlangsung pada sekitar tahun 1996-1997.

Bermula dari pertemuan di kantor papa, hubungan Pak Piran dengan keluarga saya kemudian memasuki tahap yang lebih intens. Keluarga Pak Piran kerap mengunjungi rumah saya di setiap tahun. Lalu keluarga saya juga membalas dengan mengunjungi rumah beliau.

Ketika bertandang ke rumah Pak Piran, keluarga saya kerap memperoleh perlakuan yang teramat istimewa. Banyak buah tangan setelah selesai berkunjung. Entah itu berupa makanan, beras, atau hasil perkebunan lainnya. Jumlah atau kuantitasnya bahkan bisa mencapai beberapa karung.

Sayangnya, Pak Piran sudah berpulang ke Rahmatullah sejak tahun 2020. Meskipun demikian, silaturahmi keluarga saya dengan keluarga Pak Piran masih terus terjaga hingga saat ini. Istri Pak Piran sempat mengunjungi rumah saya dan membawa beras sekitar 40 kilogram pada bulan Maret 2021.

Di samping itu, saya juga memiliki banyak tetangga yang begitu menaruh perhatian kepada keluarga saya. Sebut saja Tante Mega dan juga Tante Erna. Mereka berdua kerap mengirim makanan ke rumah. Lalu ada juga Bu Leman-tetangga dari gang lain -yang terkadang mengirim makanan juga.

Lalu, beberapa tetangga dari Bandar Lampung -selain keluarga Bu Masta- juga pernah mengunjungi kampung halaman saya di Jakarta. Beberapa di antaranya bahkan pernah sampai menginap di rumah mbah saya. Dalam hal ini, mama saya yang menginisiasi hal tersebut.

***

Banyaknya relasi yang terbangun tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran orang tua saya, terutama mama. Sewaktu masih hidup, mama tergolong aktif serta supel di dalam pergaulan antar tetangga maupun saudara. Beliau kerap terlibat di dalam banyak kegiatan sosial seperti Posyandu dan sebagainya.

Tidak mengherankan jika banyak orang yang merasa kehilangan sewaktu mama saya meninggal. Pada saat keluarga saya berada di Jakarta untuk pemakaman mama, tetangga di Bandar Lampung sampai mengadakan acara tahlilan selama beberapa hari. Padahal keluarga saya tidak pernah meminta akan hal tersebut.

Saya sendiri tidak pernah menyangka akan inisiatif yang dilakukan oleh para tetangga tersebut. Saya benar-benar merasa terharu. Adapun pencetus dari acara tahlilan tersebut adalah Ustadz Subhan. Beliau merupakan relasi sekaligus anak asuh dari orang tua saya di Bandar Lampung.

Untuk saat ini, saya memiliki satu anggota ‘keluarga’ di Bandar Lampung. Dia adalah Sarnubi, teman satu sekolah dari adik saya. Awalnya, Sarnubi merupakan penjaga mushala di lingkungan rumah saya. Kemudian dia memutuskan untuk menempati sekaligus menjaga rumah saya hingga tulisan ini dibuat.

Pada akhirnya merantau tidak selalu terasa pahit atau menyedihkan. Jika bisa membawa atau menyesuaikan diri, bisa jadi kita akan menemukan ‘keluarga baru’ yang tak terduga. Ah, ingin rasanya menyebrangi Selat Sunda kembali untuk bertemu dengan tetangga maupun teman yang ada di Bandar Lampung.

Bagikan
Exit mobile version