Site icon Inspirasi Muslimah

Mendidik Anak di Era Digital bagi Orang Tua Milenial

digital

Kemajuan teknologi menciptakan disrupsi pada kehidupan sehari-hari, mulai dari otomatisasi yang mengancam ragam mata pencaharian, hingga bagaimana masyarakat mencerna dan mengabarkan informasi. Dewasa ini, lebih dari setengah populasi di Indonesia sudah terhubung dengan dunia digital termasuk internet. Angka penetrasi Internet makin tinggi dari tahun ke tahun. Eric Schmidt (2018) seorang insinyur dari Google, bahkan memprediksikan bahwa seluruh manusia di dunia akan masuk dalam dunia online.

Teknologi digital terus merangsek kehidupan keluarga saat ini tanpa terbendung. Baik orang tua maupun anak-anak menjadi pengguna media digital dalam berbagai bentuk, seperti komputer, telepon pintar, piranti permainan/game maupun internet. Penggunaan media digital di rumah ternyata tidak sema-mena meningkatkan kualitas kehidupan berkeluarga. Tak jarang anggota keluarga justru terpisahkan karena lebih tertarik menghabiskan waktu dengan perangkat digital mereka daripada berinteraksi bersama. Lebih parah, orang tua dan anak bisa mengalami masalah kecanduan gawai (gadget). Maka orang tua perlu mengembangkan cara baru mendidik anak di era digital (Wicaksono, dkk. 2019).

Seiring perjalanan waktu, arus informasi semakin mudah tersebar. Begitu pula teknologi yang menghantarkan informasi kian cepat perkembangannya. Publik sebagai sasaran atau target penyediaan informasi tentu sangat diuntungkan dengan perkembangan teknologi komunikasi masa kini. Namun, di lain pihak tidak sedikit perusahaan media yang gencar melakukan penyediaan informasi sebagai bisnis menggiurkan yang akhirnya menciptakan industri media.

***

Akan tetapi kenyataan ini tidak diimbangi dengan kecerdasan dalam mengolah informasi (Winerda dan Sapanti, 2019). Kemampuan literasi media yang buruk akan membawa dampak yang buruk terhadap informasi yang diperoleh terkait dengan kebenaran dari informasi tersebut. Maka membangun kesadaran berliterasi media setidaknya akan membantu dalam dunia pendidikan.

Selama bertahun-tahun kita percaya anak-anak generasi Y adalah digital native, kalangan yang lahir bersamaan dengan teknologi digital sehingga otomatis mampu menguasainya. Ternyata, digital native adalah mitos belaka. Kemahiran generasi ini ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain: terpaan teknologi digital, tingkat pendidikan ibu, dan tingkat ekonomi keluarga. Anak-anak yang lahir di keluarga kelas ekonomi dan sosial menengah cenderung lebih mahir, produktif dan memahami keamanan teknologi digital dibandingkan anak-anak kelas bawah yang hanya diajari gawai untuk permainan dan hiburan. Apalagi bila ibunya tidak pernah mendiskusikan teknologi itu (Livingstone, 2009).

Anak-anak sebagaimana generasi sebelumnya membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang tua untuk menggunakan media digital dengan bijaksana. Maka orang tua perlu memahami nilai utama dunia digital yang menyetir kehidupan kita saat ini. Ada tiga nilai penting: kreatiftas, kolaborasi dan berpikir kritis (Kurnia dan Engelbertus Wendratama, 2017). Anak adalah anugerah terindah yang Allah SWT berikan dan merupakan pelengkap manusia ketika sudah berumah tangga, serta harus orang tua syukuri. Rasa syukur yang dapat kedua orang tua lakukan adalah dengan mendidik; menyayangi; mencintai; dan memberikan pendidikan yang layak untuk anak.

***

Anak bukan hanya anugerah terindah yang telah Sang Pencipta berikan, tetapi juga titipan Allah SWT kepada orang tua yang layak dan siap untuk mendidik anak tersebut. Anak baru lahir kodratnya adalah suci dan kondisi anak akan tergantung pada orang tua yang mendidiknya, seperti apa kedua orang tua itu maka anaknya juga akan seperti orang tua tersebut. Rasulullah SAW bersabda, “setiap bayi dilahirkan adalah dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Hadits Shohih Bukhari, No. 1296).

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anak, mengajari, mengarahkan, dan mendidik termasuk saat era digital sekarang ini. Tanggung jawab orang tua meliputi tanggung jawab keimanan, materi, fisik, moral, akal, kejiwaan, sosial, dan seks. Tanggung jawab inilah yang disebut dengan bentuk pendidikan. Tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah untuk membentuk anak-anak menjadi manusia yang sehat; cerdas; berkarakter mulia; berakhlak; serta mampu menjadi generasi kuat dan memiliki masa depan yang cerah.

Agar semua ini terwujud maka orang tua harus mengetahui dan menerapkan pendidikan yang benar sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang berlandaskan syariat Islam sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah Saw dalam berbagai sunahnya. Orang tualah yang berperan penting untuk mengarahkan kehidupan anak kepada kebaikan atau keburukan; kecerdasan atau kebodohan; akhlak karimah atau akhlak jahiliah.

***

Dalam Islam terdapat beberapa istilah yang sangat tepat digunakan sebagai pendekatan dan penguatan pembelajaran, dengan menerapkan model pembelajaran dalam penguatan pendidikan karakter. Dalam rangka membentengi arus globalisasi pada era revolusi industri maupun digital, melalui pengintegrasian proses pembelajaran, dengan konsep antara lain: tilawah menyangkut kemampuan membaca; ta’lim terkait dengan pengembangan kecerdasan intelektual (intellectual quotient); model tarbiyah menyangkut kepedulian dan kasih sayang secara naluriah yang di dalamnya ada asah, asih dan asuh; dan model ta’dib terkait dengan pengembangan kecerdasan emosional (emotional quotien); tazkiyah terkait dengan pengembangan kecerdasan spiritual (spiritual quotient); dan tadlrib dan kecerdasan fisik atau keterampilan (physical quotient atau adversity quotient).

Metode pembelajaran yang menyeluruh dan terintegrasi, sebagai pondasi yang kokoh, dalam pembentukan karakter di era digital, perlunya pendidikan/guru adalah penyalur hikmah dan barokah dari Allah kepada anak didik. Tujuannya adalah agar anak didik mengenal dan bertakwa kepada Allah Swt, dan mengenal fitrahnya sendiri. Pendidikan adalah bantuan untuk menyadarkan, membangkitkan, menumbuhkan, memampukan dan memberdayakan anak didik akan potensi fitrahnya. Upaya untuk mengembangkan kemampuan membaca, dikembakan metode tilawah tujuannya agar anak memiliki kefasihan berbicara dan kepekaan dalam melihat fenomena, khususnya dalam era generasi milenial.

Dalam era digital, pendidikan kita perlu mengembangkan literasi baru yang tentunya kita harus memahami cara penggunaan teknologi tersebut. Proses pendidikan yang baik juga harus dapat memenuhi kebutuhan dalam literasi manusia, menjadi penting untuk bertahan di era revolusi industri ini, tujuannya adalah agar manusia bisa berfungsi dengan baik di lingkungan manusia dan dapat memahami interaksi dengan sesama manusia dalam era yang begitu cepat dalam perkembangan revolusi industri.

Bagikan
Exit mobile version