Site icon Inspirasi Muslimah

Memeluk Mimpi (1): Kuliah ke Luar Negeri, Mungkinkah?

mimpi

Wahyudi Akmaliah

Saya tumbuh di pinggiran Jakarta Timur, tepatnya Cakung Barat dan mengalami proses pembentukan karakter kehidupan (formative years) di Yogyakarta, sejak dari Tsanawiyah (SMP), Aliyah (SMA), S1 dan S2. Sebagai anak kedua dari orangtua yang bercerai sejak kecil, saya tidak memiliki mimpi untuk ke depan menjadi apa, apalagi kemudian untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi ke luar negeri. Namun, kehadiran buku Andrea Hirata dengan judul Laskar Pelangi menyadarkan saya mengenai pentingnya memiliki mimpi tersebut.

Dalam buku itu, Andrea Hirata menjelaskan mengenai mimpi. Menurutnya, “Setiap orang memiliki mimpi. Ada yang mundur dan membuangnya. Ada yang maju dan mengejarnya. Ada pula yang menanti untuk menunggu kehadirannya”. Namun di antara ketiga tipikal itu, Andrea memilih yang kedua, yaitu maju dan mengejar mimpi itu, yaitu pergi ke Eropa. Mimpi inilah yang kemudian ia wujudkan, salah satunya adalah dengan menulis memoar tetralogi Laskar Pelangi.

Awalnya, memoar ini ia tujukan untuk Ibu guru tercinta, yaitu Muslimah Hafsari, ketika ia mengenyam pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Belitong. Memoar ini merupakan bentuk ucapan terimakasih Andrea kepadanya yang telah mendidiknya hingga bisa terbang ke Edensor (Inggris) yang selama ini ia cita-citakan. Saat buku ini menjadi dokumen yang sudah dicetak (diprint) secara pribadi, seorang teman kerjanya di PT Telkom Jawa Barat diam-diam mengirimkannya pada penerbit Bentang; salah satu anak perusahaan Mizan. Buku ini diterima dengan antusias oleh pihak Bentang dan kemudian disambut hangat oleh masyarakat Indonesia, mulai dari guru, pejabat, pecinta sastra, hingga Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Di antara teman-teman yang lain, saya mungkin adalah orang yang terlambat untuk mengenal karya tersebut. Keterlambatan ini didasari oleh ketidakingintahuan dalam diri saya terhadap. Selain ditulis oleh orang yang baru saja menulis novel, menurut saya, karya tersebut masih belum begitu bernilai layaknya tetralogi-nya Pramudya Ananta Toer. Pembandingan ini sebenarnya tidaklah terlalu tepat dan memang tidak sebanding antara karya Andrea Hirata dengan Pramudya Ananta Toer. Selain keduanya merupakan karya yang relatif sangat berbeda dan begitu juga bidikan segmen pembaca yang ingin karya tersebut tawarkan. Namun, perbandingan yang terlalu keras ini justru membuat saya tidak membaca mengenai histeria massa saat menyambut kehadiran buku tersebut. Jika mengingat hal itu sekarang, sungguh, saya sudah gagal menjadi peneliti, karena tidak bisa menangkap fenomena besar yang terjadi di masyarakat.

Seiring berjalan waktu, tiba-tiba ada kondisi yang memaksa saya untuk membaca karya tersebut, yaitu ketika ada seorang teman perempuan yang baru saya kenal memberitahu bahwasanya ada bedah buku itu di MP Book jalan Kaliurang; yang merupakan toko buku milik penerbit Mizan yang berasal dari Bandung. Kalau tidak salah saya bertemu dengan perempuan tersebut di Gedung Bundar UGM. Saat itu, saya baru memiliki laptop dengan merek Acer seharga 6 juta. Kedatangan saya ke sana karena ingin mendapatkan akses internet secara gratis. Saat duduk di salah meja yang kosong itulah saya bertemu dengan perempuan tersebut. Singkat cerita, kami berkenalan dan kemudian ia menginformasikan hal tersebut. Terus terang, ketertarikan saya ini justru karena ingin dekat dengannya, bukan karena acara bedah buku tersebut. Terbersit dalam hati saya, siapa tahu beliau bisa jadi jodoh saya.

Usai magrib, saya mengendarai motor pitung warna hijau saya ke MP Book Jalan Kaliurang tersebut. Sesampainya di sana, alih-alih bisa bertemu dengannya, banyaknya orang yang hadir dalam bedah buku tersebut, membuat saya kemudian mengurungkan niat untuk masuk ke dalam. Namun, rasa penasaran saya terus tumbuh, apalagi kemudian bertemu dengan Nurhalim Sumirat; kawan sejak mondok di Madrasah Muallimin Muhammadiyah sampai kemudian S1 di UIN Sunan Kalijaga, yang datang bersama istri dan anaknya. Kedatangan Nurhalim ini membuat saya kemudian berupaya untuk bertahan sambil bertanya kepadanya siapa sih sebenarnya Andrea Hirata ini? Mengapa ia dan karyanya begitu masyarakat gemari di tengah minat baca mereka yang tidak pernah kunjung baik. Dalam momen itu, saya mengamati bahwasanya penggemar Andrea ini meliputi semua umur, mulai dari anak-anak, mahasiswa, hingga seorang kakek-kakek yang rela berdesakan di tengah kerumunan ruang bedah buku tersebut yang tidak terlalu besar.

Peristiwa ini membuat saya diam-diam menjilat lidah sendiri. Saya memaksakan diri untuk membeli Laskar Pelangi tersebut dan menyediakan waktu untuk menghabiskan seharian untuk membaca. Saat memegang buku tersebut, prinsip saya cuma satu, bagus atau tidak, yang pasti saya harus selesai untuk membacanya. Begitulah saya berkomitmen untuk membaca buku tersebut. Sementara itu, kehadiran buku-buku lain yang selama ini menjadi teman dalam kesendirian saya dan eksplorasi mencari uang pun sejenak saya singkirkan. Keinginan saya membaca buku in, sekali lagi, hanya satu tujuan, “Apa yang menarik dari buku ini sehingga begitu laku di masyarakat?”

Sehari kemudian, selepas salat magrib di kamar yang seluas 2 x 3 meter, ditemani secangkir kopi saya membuka diri untuk masuk dalam dunia Laskar Pelangi. Lembar demi lembar halaman saya kunyah dan cerna begitu mudahnya. Tentu saja diiringi dengan tingkah laku saya dengan tersenyum sendiri antara kecut dan bahagia, dan kadang-kadang membuat saya tertawa. Kurang lebih sekitar pukul 23.00 saya telah menutup buku ini. Satu kesan yang saya dapatkan ketika selesai membaca buku ini adalah keren banget!. Jadi wajar kalau buku ini digemari oleh banyak orang, karena bisa menyihir pembaca untuk mau meluangkan waktunya mereka untuk membaca.

Ada dua hal yang saya dapat simpulkan mengapa buku ini begitu orang-orang sukai. Pertama, cerita dalam buku ini merupakan pergumulan pengalaman Andrea sendiri. Dengan cerita yang begitu mengalir, mudah, sekaligus nyata membuat orang merasa beririsan (relate) dengan pengalaman Andrea tersebut. Membaca karya tersebut, dengan kata lain, adalah membaca pengalaman sebagian besar masyarakat Indonesia juga; di mana orang merasakan adanya pengalaman filmis dalam cerita yang Andrea suguhkan. Tentu saja porsi pengalaman filmis ini sesuai dengan latarbelakang pengalaman pembaca sebelumnya.

Kedua, cerita yang ia tuturkan memunculkan motivasi pembaca untuk bangkit dari pengalaman terburuknya. Dengan kata lain, membaca buku tersebut bukan hanya mendapatkan informasi atas pengalaman seorang penulis, daya magis yang menyihir orang untuk tidak patah semangat meraih cita-cita yang selama ini hanya mereka endapkan dan kemudian hilang begitu saja. Karya ini menjadi semacam medium menyambungkan semangat yang sempat pudar tersebut agar pembaca bisa seperti Andrea Hirata; di tengah keterbatasan ekonomi sekaligus jauhnya letak geografis ia tinggal dari kota besar yang membuatnya kesulitan untuk mengakses fasilitas seperti buku dan perpustakaan.

Andrea juga menceritakan tentang sebuah cita-cita yang tinggi dan tampak sulit untuk terjangkau tapi sebenarnya bisa diraih. Untuk meraihnya tentu saja sama resepnya seperti cerita keberhasilan yang lain, belajar lebih keras dan tekun, hidup lebih disiplin, memiliki minat yang kuat ingin tahu, dan tentu saja memiliki sifat rendah hati yang dalam bahwasanya semua itu tidak bisa tercapai tanpa ada kehendak Sang Maha Kuasa. Karena itu, setiap kali membaca buku Laskar Pelangi, setiap itu pula semangat saya dalam hidup menjadi menyala. Bagi saya, buku tersebut bukan hanya kaya informasi mengenai cerminan dunia pendidikan kita saat ini yang begitu mengenaskan di pelosok daerah nusantara; tapi juga menjadi spirit untuk menggapai asa di tengah kepungan keterbatasan yang membuat seolah tidak bisa melakukan apapun meraih cita. Buku ini seakan menegaskan, di tengah keterbatasan dan kesusahan hidup kerapkali seluruh potensi yang kita miliki itu bisa muncul dan menjadi kekuatan untuk bangkit melawan keterbatasan itu.

Dalam buku ini ada satu kalimat yang sangat kuat dari Andrea Hirata. Kalimat inilah yang membuat saya selalu terngiang-ngiang bahkan hingga saat ini, yaitu “Janganlah pernah takut bermimpi. Bermimpilah! Karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”. Ungkapan kalimat tersebut bukan hanya indah; melainkan memiliki daya pendorong orang untuk merealisasikan cita-cita tersebut. Ajakan untuk merealisasikannya adalah dengan memulai untuk bermimpi saja terlebih dahulu. Sebab mimpi sendiri adalah bunga tidur yang gratis, bisa dimiliki oleh semua orang; meskipun kenyataan dan pragmatis hidup seringkali membuyarkan hal tersebut. Setidaknya, bagi saya, buku ini memberikan semacam asa bagi banyak orang, termasuk saya; untuk mengejar mimpi yang sempat tertunda tersebut. Salah satu mimpi saya saat itu adalah semoga satu waktu saya bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan gratis.

Saat kuliah S2 di Pascasajarna Ilmu Religi dan Budaya pada tahun 2006, ada beberapa kakak kelas baru saja pulang dari Asia Research Institute (ARI) National University of Singapore (NUS) setelah menempuh program fellowship selama tiga bulan untuk memperdalam riset tesis mereka. Dengan malu-malu, saya bertanya kepada mereka mengenai pengalamannya di Singapura tersebut sekaligus sejumlah persyaratan yang dibutuhkan. Meskipun saat itu, rasanya sangat sulit bagi saya untuk menggapainya di tengah kemampuan bahasa Inggris saya yang masih level pemula.

Namun, cerita sejumlah kakak kelas tersebut menumbuhkan harapan saya, mengingat tidak perlu ada persyaratan standar kemampuan bahasa Inggris sebagai prasyarat. Hal utama yang menjadi persyaratan adalah memiliki proposal riset berbahasa Inggris. Jika proposalnya dinilai layak, maka akan masuk seleksi untuk dipilih. Nah, tingkat persaingannya ini sangat ketat. Belum tentu, proposal bagus akan dipilih; mengingat ketersediaan dosen di NUS yang sesuai dengan bidang yang kita geluti. Mendengarkan cerita kakak kelas tersebut saya hanya membatin, “Semoga saya bisa memiliki pengalaman seperti kakak kelas ini Ya Allah, bisa tinggal selama tiga bulan di Singapura”.

Bagikan
Exit mobile version