Site icon Inspirasi Muslimah

Manajerial Kebutuhan dan Keinginan, Kenapa Enggak?

kebutuhan dan keinginan

Hudiana-Rahmawati

Lifestyle Masa Kini

Jika melihat iklan-iklan di televisi, tentu banyak sekali brand yang mengenalkan kebutuhan atau bahkan keinginan perempuan. Mulai dari kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Perempuan memang  identik dengan sesuatu yang indah, maka tidak perlu kaget apabila perempuan sukanya berbelanja atau membeli barang-barang yang ia butuhkan atau inginkan jika dirasa itu menarik di matanya.

Dengan kemajuan zaman yang semakin maju dalam segala bidang, termasuk dunia per-skincare–an yang terus berupaya untuk menciptakan inovasi supaya wanita lebih cantik, tentu banyak positif dan adapula sisi negatifnya juga. Begitupun dengan model baju, yang setiap bulannya selalu update gaya terbaru.

Kebutuhan ?

Tapi apakah semua itu yang kita butuhkan dari seorang perempuan? Belajar untuk membeli hal-hal yang memang kita butuhkan itu harus punya niat. Niat untuk tidak membeli barang lain selain yang dibutuhkan dan tidak mudah tergoda untuk membeli barang ketika diskon, dan harus bener-bener bisa me-manage uang.

Jika saya pribadi, sebelum uang bulanan datang, kebutuhan yang diperlukan untuk satu bulan kedepan sudah dilist dengan baik, memperhatikan semuanya akan habis. Dan pos pertama yang ditulis dan direalisasikan yaitu pos tabungan. Yup, menabung merupakan hal yang wajib dilakukan diawal karena jika menunggu sisa dari uang belanja tidak akan sisa dan bisa jadi lebih sedikit dari ekspektasi sebelumya.

Pos kedua yaitu pos sedekah, sebagai investasi akhirat. Kita dapat memanfaatkan wadah bekas sebagai tempat tabungan untuk uang menabung. Meskipun ini baru berjalan di awal tahun kemaren, tapi diusahakan untuk istiqomah. Untuk pengalokasian uang sedekah ini, bisa kepada orang-orang tua, orang yang membutuhkan, ketika ada bencana alam atau sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu.

Pos ketiga yaitu kebutuhan, nah di sini perlu ada pengklasifikasian barang yang dibutuhkan, misalnya skincare dengan segala jenisnya, kebutuhan kamar mandi,  kebutuhan perkuliahan, dan yang terakhir yaitu uang jajan. Semua itu harus ada nominalnya, dan untuk uang jajan dapat mengambil sisa dari kebutuhan yang akan dibeli. Jika lebihnya masih banyak, dapat masuk tabungan atau beli barang yang diinginkan atau kebutuhan yang tidak terduga nantinya.

But, tidak setiap kali dapat uang bulanan kita membeli keinginan. Seperti baju, sepatu, tas, dan lainnya. Untuk pembelian barang-barang tersebut, harus dipikirkan dahulu. Melihat kondisi almari yang makin menumpuk atau bertambah banyak, sehingga hal ini perlu pertimbangan apalagi jika barang tersebut hanya keinginan untuk mengikuti tren saat itu. Kalo saya pribadi, selama kuliah ini belum membeli tas sama sekali, karena jahit sendiri, hehe. Jadi lebih hemat dan dapat memanfaatkan kain perca.

Menyederhanakan Gaya Hidup

Sebagai mahasiswa, tentunya banyak gaya hidup yang selalu update mengenai tren pada masa kini. Hal tersebut merupakan tantangan yang sudah pasti kita harus tau mana yang prioritas dan mana yang tidak. Menyederhanakan gaya hidup bukan berati menyengsarakan hidup atau menonjolkan gaya kemiskinan. Akan tetapi ini lebih kepada bagaimana seseorang dapat mengatur apa yang harus ia penuhi, miliki, dan butuhkan.

Menyederhanakan gaya hidup tidak hanya meminimkan jumlah barang yang ada atau hal materi lainnya, tapi masih banyak aspek lainnya. Seperti ngomong seperlunya, memperkaya teman yang berkualitas yang mampu mendukung kita untuk hidup lebih sederhana, tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu, berdamai dengan lingkungan sekitar.

Terdengar kayak nggak ada hubungannya sama sekali, akan tetapi ini juga berdampak pada mental kita dan pikiran kita, kurang lebih dapat meringankan pikiran yang sudah banyak pekerjaan.

Bagaimana Menerapkannya ?

Haii gaess, ini termasuk susah-susah mudah, perlu niat dan tekad yang kuat tentunya untuk melakukan manajerial kebutuhan dan keinginan. Banyak godaan dari teman, media sosial, tempat belanja online, dan lainnya. Contoh sederhananya yaitu perihal makan,  jika kita ingin berhemat dan ingin (misalnya) memakan masakan rumah atau makan nasi. Kita juga harus memberitahu temen yang selalu bersama kita saat itu, supaya dia mengerti dan sedikit mengurangi beban kita untuk menolak ajakan makan di luar.

Meskipun jajanan yang kita beli hanya sedikit, tapi jika tiap hari dan konsisten pasti nominalnya akan bertambah banyak juga pengeluaran kita. Kan mending kalo di tabung, yak an? Tapi ingat juga, kalo kita jangan terlalu pelit dengan diri sendiri. Tubuh kita tetap butuh nutrisi yang sehat supaya badan juga lebih fit.

Biasanya aku pribadi, ketika ingin beli makanan atau minuman, aku mikir-mikir dulu sampai kepengen banget apa enggak. Terus aku lebih memiliki untuk makanan atau minuman yang lebih sehat, seperti jus, susu, dan lainnya. Tapi itu juga lumayan sulit, butuh tekad, ini masih setengah-setengah. Haha  Selain itu, hal penting yang dapat kita lakukan yaitu menjatah atau memberi uang khusus untuk kebutuhan makan dan jajan. Supaya kita terhindar dari dari sikap hedonsime.

Bagikan
Exit mobile version