Site icon Inspirasi Muslimah

Mak Mani Ingin Melihat (2)

Ia terus melanjutkan pekerjaannya. Menancapkan paku demi paku pada bambu dengan bantuan palu. Bentuk kandang ayam sudah nyaris sempurna. Bentuknya tidak meleset dari harapan Pak Haji Tohir. Di ujung halaman, Pak Haji Tohir tersenyum puas melihat pekerjaan Pak Sale.

Pada saat memukul paku terakhir, Pak Sale melakukannya begitu hikmat. Sesaat ia sambil menghela napas lega karena pekerjaannya hampir selesai.

“Alhamdulillah.” Syukur Pak Sale melihat kandang ayam pesanan Pak Haji Tohir telah terbentuk dengan kokoh nan indah.

“Sudah selesai, Pak?” Tanya Pak Haji Tohir, sambil mendekati Pak Sale yang sedang duduk tersungkur bersebelahan dengan kandang ayam yang sudah dibangunnya sejak pagi tadi.

“Sudah Pak Haji. tinggal memasukan ayamnya saja ini. saya yakin ayamnya akan betah” Percakapan dengan tawa puas.

“Terima kasih banyak ya, Pak. Ini upahnya” Ucap Pak Haji Tohir sembari menyodorkan amplop berwarna cokelat pada Pak Sale.

***

Tak lama, Pak Sale berpamitan pada Pak Haji Tohir, melangkahkan kakinya menuju warung untuk membeli bahan-bahan makanan yang akan jadi bahan masakan untuk santapan nanti malam bersama Mak Mani. Di tengah perjalanan, Pak Sale membuka amplop pemberian Pak Tohir untuk melihat jumlah upah pekerjaannya.

10 lembar uang 50rb-an ada dalam amplop cokelat itu. “500 rb?” Ucap Pak Sale dengan wajah melongo terheran-heran. Tentu Pak Sale terkejut melihat jumlah upahnya, itu adalah upah terbesar selama karirnya sebagai pengrajin bambu dan kayu.

Dengan wajah riang gembira Pak Sale bergegas ke warung. Segera membeli keperluan bahan makanan yang untuk 1 minggu kedepan dan kemudian bergegas pulang untuk memberikan kabar gembira pada istri tercintanya, Mak Mani.

Matahari mulai meredup, menyisakan warna jingga yang menandakan bahwa malam akan segera tiba. Sesampainya di rumah, Pak Sale duduk di sebelah Mak Mani. Masih dengan wajah heran bercampur bahagia Pak Sale menyampaikan kabar baiknya.

“Aku dapat upah 500rb, Buk, dari Pak Tohir. Tabungan kita selama 11 tahun sudah cukup untuk biaya pengobatan mata. Kau sekarang akan segera bisa melihat, Buk. Melihat dunia ini kembali, melihat aku yang juga semakin tua sama sepertimu, bisa melihat lezatnya makanan sebelum kurasakan dengan lidah. Kau akan segera bisa melihat, Buk.” Ucap Pak Sale dengan nada bahagia sambil meneteskan air mata.

“Alhamdulillah, Pak. Yaa Allah terima kasih. Hari ini sungguh hari yang baik. Aku ingin berbagi kabar baik ini pada anak-anak, Pak.” Syukur Mak Mani dengan wajah berkaca-kaca dan masih tak menyangka bahwa dirinya akan segera bisa melihat.

“Iyaa, Buk. ini sedang ku telepon.” Sahut Pak Sale sembari mengeluarkan telepon genggamnya dan mulai menelepon anak pertamanya Azis. “Halo Zis” Sapa Pak Sale mendengar teleponnya sudah tersambung.

“Pak! aku sedang sibuk, dan akan selalu sibuk jika bapak yang menelepon. Tuuut, ttuuut, tuuuut” Telepon langsung terputus.

***

Pak Sale meratap sedih. Ia tidak tau mengapa anaknya begitu tak menginginkannya dan ibunya. Namun, demi melengkapi kebahagiaan sang istri, Pak Sale beranjak pada nomor lain di ponselnya. Fandi, anaknya yang nomor dua.

“Nomor yang anda tuju tidak aktif, silahkan coba beberapa saat lagi!” hanya suara dari operator yang diterima Pak Sale. Dicobanya berkali-kali tapi tetap sama. Hingga akhirnya pak Sale sampaikan pada Mak Mani bahwa kedua anaknya tak bisa dihubungi.

“Rani, apa kau sudah mencoba menghubungi Rani, Pak?” Tanya Mak Mani sekaligus mengingatkan Pak Sale pada anak perempuan bungsu kesayangan mereka.

Lalu Pak Sale spontan kembali memainkan ponsel jadulnya mencari nomor telepon Rani. “Halo, Assalamualaikum, Pak.” Telepon tersambung dan langsung disambut suara lembut dari ujung telepon. Senyum merekah dari wajah Pak Sale. Mak Mani seakan melihat ekspresi Pak Sale saat ini dan meminta dibesarkan suara panggilannya. “Waalaikumsalam, nak, Rani” Jawab Pak Sale dengan nada terharu sebab telah lama tidak mendengar suara putrinya, hampir 12 tahun.

“Pak, buk, aku sedang terkena musibah. Kebetulan bapak dan ibu menelepon. Aku ingin minta uang untuk menutupi kerugian perusahaan suamiku, dia sangat membutuhkan uang itu agar usahanya tidak bangkrut.” Mendengar berita tersebut, ekspresi Pak Sale dan Mak Mani sontak berubah, bingung menjadi satu-satunya kata yang mampu menggambarkan perasaan Pak Sale saat itu.

“Innalillahi, besok pagi bapakmu akan minta tolong tetangga untuk mengirimi uang padamu nak. tabungan bapak dan ibuk semuanya akan dikrimkan, semoga bisa membantu ya, nak.” Dengan tenang Mak Mani memberikan solusi yang diharapkan anaknya. Namun, Pak Sale terkejut setengah mati mendengar jawaban Mak Mani. Telepon langsung dimatikan oleh Pak Sale.

“Kenapa, buk?” Tanya Pak Sale sedih sedikit marah pada istrinya sembari mengingat beberapa menit lalu ia amat bahagia merasa istrinya akan segera bisa melihat.

“Aku tak lagi ingin bisa melihat, Pak. Kini aku hanya ingin mendengar suara anak-anakku setiap hari. Setiap hari.”

Bagikan
Exit mobile version