Site icon Inspirasi Muslimah

Konversi Aya Sofya: Momen Bersejarah Umat Islam

islam

Tepat pada tanggal 27 Juli 2020 kemarin, terjadi sebuah momen bersejarah bagi umat Islam Turki dan seluruh dunia. Hagia Shopia atau Aya Sofya yang sudah 86 tahun dialihfungsikan menjadi museum dan tidak diperkenankan untuk menggelar solat jamaah. Kini kembali dibuka dan tentu ini menjadi sebuah momen bahagia umat muslim ketika dapat melaksanakan solat Jumat di dalamnya.

Corona virus memang masih menjadi momok yang berat bagi umat manusia. Namun, setidaknya konversi Aya Sofya dapat diibaratkan sebagai oase ditengah padang pasir bagi umat muslim sedunia. Tentu saja konversi Aya Sofya menjadi masjid yang sebelumnya berbentuk museum mendapat beragam tanggapan dari berbagai pihak, banyak yang mendukung namun tak sedikit pula yang mengecam. Survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey terkemuka Turki mengumumkan bahwa 80% rakyat Turki setuju atas adanya konversi ini. Namun berbanding terbalik dengan respon Yunani dan Gereja Vatikan yang mengecam tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Turki.

Pro dan Kontra Konversi Aya Sofya

Lahirnya konversi Aya Sofya ternyata memunculkan pro dan kontra di dalamnya. Yunani melalui Kyriakos Mitsotakis selaku Perdana Mentri Yunani mengatakan bahwa dengan adanya konversi Aya Sofya yang dilakukan oleh Turki. Turki telah memutuskan hubungan dan melepaskan nilai-nilai kebudayaan dunia barat. Hubungan antara Turki dan Yunani pun semakin memanas setalah adanya konversi ini setalah sebelumnya ada konflik Yunani-Turki terkait Siprus.

Senada dengan Yunani, Paus Fransiskus pun menyampaikan kekecewaanya saat adanya konversi Aya Sofya. Berbanding terbalik dengan Yunani dan Gereja Vatikan. Siprus Utara melalui Perdana Mentri Ersin Tatar menyampaikan ucapan selamat atas konversi Aya Sofya yang dilakukan oleh Recep Tayyip Erdogan. Walaupun sangat disayangkan ketika negara Organisasi Kerja Islam malah mengambil respon yang cendurung netral dan tidak ikut campur terhadap apa yang dilakukan oleh Turki.

Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Eropa, di Indonesia pun ternyata berbagai macam respon bermunculan. Kata setuju dan tidak setuju merupakan garis besar dari persoalan konversi Aya Sofya ini. Pemerintah Indonesia sendiri sebenarnya mengambil langkah netral dan berhati-hati dalam menyikapi konversi yang dilakukan Turki. Namun, Banyak pendapat yang dikemukakan oleh netizen Indonesia bahwa ini hanya akal-akalan Erdogan saja agar partai AKP kembali mendapatkan kursi di pemerintahan. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa konversi ini merupakan sebuah  kewajiban yang akhirnya ditunaikan di masa Erdogan.

Rahasia di Balik Konversi

Namun dibalik semua pendapat dan opini, ada beberapa hal yang amat menarik perhatian. Ibrahim Kalin selaku juru bicara pemerintahan Turki mengatakan bahwa konversi yang dilakukan ini atas dasar bagaimana Prancis melakukan dwifungsi terhadap situs Notredame dan Sacre Cour. Pada prakteknya dwifungsi yang dilakukan oleh Perancis terhadap bangunan bersejarah memang belum dapat dikatakan berhasil.

Namun, bagaimana Turki mengambil inisiatif konversi ini berdasarkan apa yang dilakukan oleh Perancis dapat dikatakan tepat seperti yang terjadi 86 tahun yang lalu. Ketika Mustafa Kemal Ataturk melakukan sekulerisasi Turki atas dasar bagaimana Perancis melakukan sekulerisasi Kristen di negaranya. Disini kita dapat menarik kesimpulan bahwa apa yang dilakukan Erdogan secara tidak langsung memiliki keterkaitan yang erat akan memori sejarah mereka terhadap Perancis. Di mana dua momen besar Turki dipengaruhi oleh bagaimana Prancis menjalankan roda kepemerintahan mereka.

Hal yang berikutnya adalah statement Erdogan yang mengatakan bahwa konversi ini merupakan salah satu jalan untuk membebaskan Al-Aqsha. Secara tidak langsung, Erdogan dengan ideologi neo-ottomanism yang diusungnya berharap bisa kembali membangkitkan semangat berumat. Adapun dengan upaya pembebasan ini, kita sebagai umat muslim dapat membuktikan bahwa terjadinya dwifungsi terhadap Aya Sofya merupakan pembuktian atau potret betapa damainya umat muslim itu.

Islam yang selama ini dicap sebagai agama yang keras dan memaksa, secara perlahan dapat luntur dengan adanya konversi ini. Walaupun demikian, semua ini dikembalikan lagi kepada umat muslim itu sendiri bagaimana mereka bertindak dan menyikapi berbagai persoalan yang terjadi. Tetapi setidaknya dengan kembalinya fungsi Aya Sofya sebagai masjid, umat muslim mempunyai panggung besar dalam memperlihatkan Islam secara utuh.

Big Power Umat Islam

Kita semua tahu bahwa pada perebutan Konstatinopel yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453. Loukas Notaras yang ketika itu menjadi pendeta agung gereja Katolik barat Aya Sofya mengatakan bahwa lebih baik dirinya melihat turban orang Turki di Konstantinopel dibandingkan dengan mahkota Paus Paulus. Loukas Notaras tentu masih ingat bagaimana peristiwa perang salib IV yang dimana pasukan Katolik Latin melakukan pembantaian terhadap rakyat Konstantinopel. Namun apa yang terjadi saat ini amatlah kontradiktif. Ketika kita mengetahui bagaimana umat Kristen yang beragam aliran dengan sejarah perselisihan yang amat panjang tiba-tiba menjadi satu suara di kala pengembalian status Aya Sofya. Tentulah dari situ muncul tanda tanya besar.

Dan seperti yang telah disebutkan di atas, berbagai pendapat dan respon terhadap kembalinya status Aya Sofya biarlah menjadi urusan pribadi masing-masing. Namun, satu hal yang pasti. Dengan dikembalikannya fungsi Aya Sofya sebagai masjid, ini merupakan salah satu langkah proyek restart umat muslim seluruh dunia dan kekuatan besar untuk meraih kemajuan. Aya Sofya dapat menjadi representasi bahwa agama Islam merupakan agama yang menyebarkan kebaikan dan berisi pesan kedamaian. Adapun umat muslim sendiri memiliki pekerjaan rumah besar untuk menyeimbangkan dan memantaskan diri sebagai muka dari Islam itu sendiri. (Laeli)

Bagikan
Exit mobile version