“Malam ini kita berjuang lebih berat teman-teman, salah satu teman kita tidak bisa berdinas karena sakit,” Ucap Leader, ketua tim kami di malam itu.
“Siap kak!” Jawab kawanku sigap, dia berdiri tepat didepanku. Terlihat jelas gurat sedih terlukis diwajahnya. Sepertinya, hatinya prihatin dengan kondisi teman-teman semakin banyak yang tumbang di musim pandemi ini. Mungkin Dia juga memikirkan nasib kami, harus berdinas dalam keadaan yang masih was-was menunggu hasil tes swab PCR ulang pasien bed 3 yang belum ada hasil.
Aku hanya diam, pikiranku berkelana pada pesan di group Whattsapp ruangan tadi siang. Kebijakan Gubernur tentang pemberlakuan WFH (Work From Home) bagi beberapa karyawan tertentu. Ahh, andai saja WFH itu berlaku juga untuk kami para perawat, mungkin saat ini aku sedang di rumah sambil menyusui bayi kecilku yang badannya agak hangat karena gerahamnya mulai tumbuh.
***
Ahh, ini semua tidak mungkin. Bagaimana mungkin pekerjaan perawat bisa dikerjakan melalui aplikasi virtual seperti Zoom. Apalagi merawat pasien-pasien dengan kondisi istimewa seperti di ruangan ICU, yang perlu pemantauan super ketat, tidak boleh lalai sekejap pun
“Semoga malam ini aman terkendali, dan kita berdo’a semoga selalu terlindungi walaupun sudah pernah merawat pasien Cocid-19 dengan APD yang tidak standar, hanya Allah sebaik-baik pelindung,” Ucap ketua tim kami dengan mantap dan semangat, sambil melayangkan sebuah tepukan lembut di pundakku yang membuat buyar lamunanku. Heee,, aku tertawa kecil dengan senyuman tertutup masker.
“Ayuk, kita gerak cepat supaya semua pekerjaan terselesaikan dengan baik, pasien sangat membutuhkan kita,” Kata rekan kerjaku.
“Baik kak,” jawabku dengan semangat yang sudah mulai menghangat. Dengan sigap aku berjalan kearah bed-bed pasien mengecek semua obat-obatan yang sedang di pasang pada mesin syringpump.
***
Malam semakin larut, suara gaduh di luar sudah tidak terdengar lagi. Lampu di koridor ICU sudah dimatikan, terlihat dari ruang tunggu beberapa keluarga pasien sudah tertidur pulas. Hanya beberapa perawat intensif saja yang masih mondar-mandir berjalan ke ruangan farmasi untuk mengambil obat-obatan dan Alkes (alat kesehatan).
Di ruangan ICU berkapasitas empat tempat tidur itu, sudah terisi oleh pasien dengan kondisi masih koma dan kritis; yang memerlukan bantuan mesin ventilator dan pemberian berbagai obat-obatan melalui mesin syringpump serta ada satu pasien yang terpasang mesin CRRT, sejenis mesin cuci darah yang beroperasi secara continous dan memerlukan pemantauan ketat oleh perawat.
Detak jam dinding ruangan, serta suara alarm berbagai mesin-mesin saling bertautan silih berganti, menjadi nyanyian pengantar tidur yang lazim kami temukan pada ruangan intensif. Kami bertiga masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing, walau jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 dinihari, jangankan untuk duduk, bersandar saja belum sempat malam itu.
***
Tiba-tiba, temanku yang berada di bed paling ujung, berseru dengan suara tegas dan lantang, “Pasien bed empat asistol, mohon bantuan segera, kawan!” Dengan cekatan Dia segera menekan tombol remot tempat tidur, menyesuaikan posisi pasien untuk melakukan tindakan pompa jantung, setelah sebelumnya dia melakukan perabaan arteri carotis untuk memastikan jantung pasien benar-benar sudah berhenti.
Ketua tim kami segera menyeret troli emergency mendekat ke arah bed pasien, kemudian Dia memberi aba-aba kepadaku untuk menghubungi dokter jaga dan keluarga pasien. Segera Aku berlari mendekati telepon ruangan menelepon dokter jaga yang berada di ruangan ICU sebelah.
Tidak berselang lama dokter jaga tiba. Namun saat doker tiba, jantung pasien sudah kembali berdetak setelah kami berikan penanganan. Aku melirik ke arah pintu masuk ICU belum ada tanda-tanda kedatangan keluarga pasien. Padahal sudah berkali-kali aku coba menghubungi nomor telpon yang tercantum di status, dan juga sudah aku panggil-panggil sepanjang koridor ruang tunggu.
Kawanku masih berdiri di bagian kepala pasien. Tangannya mengusap lembut kepala pasien sambil menuntun mengucap kalimah thayyibah yang ia bisikkan melalui telinga kanan sesuai dengan status pasien sebagai muslimah.
***
Lima belas menit kemudian, kondisi yang sama kembali terjadi. Gambaran EKG pada monitor kembali flat, dengan segera aku meraba nadi besar pada bagian leher pasien, untuk memastikan kesesuaian dengan monitor. Dengan segera kami kembali memberikan bantuan pompa jantung, dan kali ini kami tambah dengan pemberian obat-obatan sesuai kolaborasi dengan tim medis.
Cucuran keringat di pelipis kawanku terlihat jelas dari pantulan cahaya lampu ruangan yang masih benderang. Para perawat dan dokter sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Allah berkehendak lain, malaikat Izrail sudah Allah perintahkan malam itu–detik itu–untuk mencabut ruhnya. Jika janji dengan Rabnya itu sudah sampai, tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang mampu mengulur waktu perpisahan antara jasad dan raga.
“Kembalilah wahai Ruh yang baik kehadirat Rabb yang maha penyayang, inshaallah husnul khatimah. Maafkan jika ada kekurangan kami selama merawatmu beberapa hari ini,” ucap kawanku sambil membuka dengan perlahan alat-alat medis yang terpasang pada badan pasien. “Aamiinn,” jawabku lirih. Kemudian kawanku bersalawat saat dia mengangkat tangan pasien untuk diposisikan sedekap.
***
Saat kami sedang membereskan jenazah, dari belakang tirai terdengar kegaduhan. Beberapa orang keluarga pasien menerobos masuk ke dalam ruangan ICU kemudian menjerit-jerit histeris, meratapi saat melihat ibunya yang sudah terbujur kaku menjadi jenazah. Di antara mereka ada yang langsung memprotes kami perawat dengan perkataan yang kurang santun serta bahasa tubuh yang kurang menyenangkan.
Mereka menganggap kami terlambat mengabari mereka. Padahal, tim dinas pagi sudah menginformasikan tentang kondisi pasien yang semakin menurun serta mengizinkan anaknya untuk mengaji secara bergantian. Namun tidak ada satupun anak pasien yang mengaji melainkan hanya rekaman muratal yang mereka letakkan pada sisi tempat tidur. Malam itu, mereka memilih tidur di rumah masing-masing.
Jika saja engkau melihat bagaimana aku berlarian dan berteriak-teriak memanggil keluarga pasien sepanjang koridor ruang tunggu; setelah berulang kali aku tekan dua nomor yang tertera di status namun tak kunjung ada jawaban. Ahhh, andai saja kamu tau, bagaimana kami membimbing dan mengantar Ibumu saat di penghujung nyawa, salam perpisahan dengan dunia fana untuk menghadap Rabnya.
Andai engkau tau lutut ini sudah bergetar sejak dari tadi menopang badan yang belum tersentuh kursi. Andai engkau tau uang jaga malam kami yang sudah lima bulan lamanya belum kunjung dibayar. Ahh,, andai saja engkau tau…, tidak perlu kusebutkan satu persatu. Semoga sikap tubuh dan perkataanmu yang mengiris qalbu kami perawat, bisa menjadi pemberat timbangan amal kebaikan kami di yaumil mahsyar nanti.
***
Jam dinding terus merangkak, sekarang sudah menunjukkan pukul 02.00 dinihari, pasien meninggal sudah dijemput oleh petugas kamar jenazah. Situasi ruangan sedikit lebih aman, temanku sudah bisa duduk sejenak di bangku sambil menyusun dokumen pasien yang baru saja meninggal. Sementara ketua tim kami masih sibuk mencari solusi untuk mempertahankan filter mahal mesin CRRT. Aku memohon izin untuk melaksanakan Salat Isya, di saat itulah kesempatan sejenak melirik layar HP; sekedar memastikan tidak ada panggilan darurat yang terlewatkan dari keluargaku di rumah.
Waktupun sudah memasuki sepertiga malam terakhir, kami tim perawat masih setia dan standbay memantau kondisi pasien-pasien di ICU. Baru saja satu bed kosong karena pasien meninggal, kami sudah bersiap untuk menerima pasien yang baru saja di daftarkan dari kamar operasi, pasca bedah kepala karena kecelakaan lalu lintas.
*) Juliana A Hamid
Seorang perawat ICU, ibu dari putri shalihah Hafidzah Aqila
