Site icon Inspirasi Muslimah

KH. Bey Arifin: Ulama Pendongeng Kisah Al-Qur’an

Bey Arifin

Wahyu Allah yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an memiliki beberapa tema pokok ajaran, antara lain; aqidah-tauhid, ibadah, muamalah, akhlak, hukum, sejarah dan ilmu  pengetahuan. Namun di antara tema-tema tersebut, yang paling banyak adalah tentang sejarah.

Sebelum Allah mengutus Nabi Muhammad Saw, Allah telah lebih dulu mengutus para Nabi untuk orang-orang sebelum kita. Hal tersebut diabadikan oleh Allah dalam Al-Quran tentang bagaimana kisahnya.

Ada yang mengisahkan tentang keteladanan juga sikap-sikap buruk umat terdahulu, agar kita mengambil pelajaran dari ke semua hal tersebut.

Selain dengan membaca kisah umat terdahulu melalui bacaan Al-Qur’an, mendongengkannya kepada anak-anak kita, menjadi suatu hal yang penting. Sebagai media untuk pendidikan karakter dan mengenalkan mereka dengan para nabi, juga kisah tentang orang-orang saleh. 

Untuk itulah banyak sekali industri kreatif terutama yang bergerak dalam literasi Islam membuat  buku-buku serial dongeng Al-Qur’an. Tentunya hal ini berfungsi untuk mendekatkan kisah Al-Qur’an itu pada mereka sesuai dengan usianya.

Dengan visual dan narasi yang tidak menyimpang dari teks wahyu, dongeng-dongeng Al-Qur’an akan membantu mereka, yakni anak-anak muslim memiliki suatu daya ingat dan imajinasi yang terarah terkait kisah-kisah Al-Qur’an. Dan salah satu ulama yang ahli dalam mendongeng kisah Al-Qur’an dengan apik adalah Bey Arifin.

Sosok KH. Bey Arifin

KH. Bey Arifin lahir di Parak Laweh. Tilatang Kamang, Agam, Sumatera Barat pada 29 September 1917. Dalam pernikahannya ia telah dikaruniai dua belas anak dan 19 cucu. Beliau wafat di Surabaya, Jawa Timur pada 30 April 1995 pada usia 77 tahun.

Beliau menempuh pendidikan di sebuah sekolah Islam, tepatnya Padang Islam College pada 1938 yang sebelumnya menyelesaikan pendidikannya di Volckschool dan Vervolgschool. Selain sebagai mubaligh, Bey Arifin juga terkenal sebagai pengajar. Beliau adalah dosen di berbagai perguruan tinggi Islam di Sumatera, Jawa dan Kalimantan Selatan.

Beliau juga pernah aktif sebagai  imam di Kodam (Komando Daerah Militer) VIII Brawijaya, Jawa Timur sampai ia pensiun pada 1970.

Sebagai penulis, Bey Arifin telah banyak menghasilkan beberapa karya, baik berupa artikel di Koran dan majalah sejak 1940; maupun dalam bentuk buku sejak tahun 1960. Beberapa buku yang pernah ditulis Bey Arifin, antara lain: Rangkaian Kisah-kisah Alquran, Mengenal Tuhan, Hidup Sesudah Mati, Bey Arifin kontra Yusuf Roni, dan  Samudera Al Fatihah.

Bey Arifin juga menerjemahkan buku dari luar, seperti buku karya Muhammas Yusuf Qardhawi, Life Of Prophet Muhammad (Kehidupan Rasulullah) dan karya Abul Hasan Ali Al – Hassani An-Nadwi, Biography Of Propet Muhammad.

*

Seperti kebanyakan orang Minangkabau lainnya beliau juga merantau. Beliau meninggalkan kampung halamannya pada 1939. Sebagai lulusan Islamic Padang College, paling tidak beliau bisa menjadi seorang guru agama Islam. Sedari muda beliau aktif menulis, baik artikel yang dimuat di majalah maupun menulis buku. Guru yang pandai menulis biasanya dianggap mumpuni dan dihormati murid-muridnya.

Dengan menumpang kapal Slout Van Dieman, sebagaimana yang telah dicatat oleh Wajidi dalam Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan, 1901-1942 (2007:56); Bey Arifin yang saat itu berusia 22, berangkat bersama  kawannya, Maisyir Thaib menuju Banjarmasin. Dari kota pelabuhan penting di Kalimantan Selatan itu kemudian mereka menuju daerah Rantau untuk mengajar di Noormal School Islam. Sekolah ini ditujukan untuk mendidik calon guru.

Setelah Jepang menyerah, dengan menumpang perahu Madura, Bey Arifin dan keluarganya meninggalkan Kalimantan menuju Surabaya pada September 1945. Beypun “Terjebak” di Surabaya ketika ada krisis antara kaum Republiken dengan Tentara Sekutu (Inggris).

*

Menurut Totok Juroto dalam Perjalanan Seorang Dai: KH.Bey Arifin (1991:96-98),”Bey Arifin langsung terlibat perang 10 Niovember di Surabaya.” Di masa Revolusi itu, beliau bergabung dengan Laskar Hizbullah. Beliau juga seorang  Juru Dakwah Islam tentara pada periode Revolusi Bey Arifin pernah tinggal di Madiun. 

Era kemerdekaan merupakan masa kejayaan dakwah Bey Arifin. Setelah menjadi guru di Yayasan Al Irsyad Surabaya, beliau memboyong seluruh keluarganya di sana. Eksistensinya semakin tegas karena kemampuan menulisnya.  Beliau tak hanya dakwah di kalangan sipil tetapi juga para Tentara.  Dalam dakwahnya beliau selingi dengan anekdot-anekdot lucu. Karena menjadi imamnya para tentara, beliau diberi pangkat perwira, dimulai dengan letnan, kapten dan akhirnya mayor di bagian Pusat Rohani Islam Angkatan Darat.

Letnan Jenderal Soedirman, ayah dari Mayor Jenderal Basofi Soedirman, mantan Gubernur Jawa Timur, sangat dekat dengan KH Bey Arifin. Bekas tentara dan Teritorium Jawa Timur ini menganggap Bey Arifin sebagai seorang guru.

Dalam buku Biografi dan Autobiografinya, Soedirman menulis catatan pendek dengan judul “Ustdaz  H. Bey Arifin Sebagai Perwira Rohani Dalam Kesatuanku dan Juga Sebagai Guruku”.

Dan salah satu buku beliau yang paling popular dan mengalami cetak ulang berkali-kali sejak tahun 1970an adalah, Rangkaian Kisah-kisah Dalam Al-Qur’an. Buku ini memiliki suatu kekuatan dalam menceritakan kisah berdasarkan Al-Qur’an.  Beliau menyajikannya menjadikan kita  seakan larut dan merasa berada pada zaman tersebut.

Secara pribadi, sejak buku tersebut saya baca pada  tahun 1990an, di masa remaja saya, sampai saya dewasa masih terus mendarasnya. Beliau sangat pantas disebut sebagai ulama pendongeng kisah Al-Qur’an.

Bagikan
Exit mobile version