Site icon Inspirasi Muslimah

Kekerasan: Bayang-bayang Dunia Pendidikan

Kekerasan

Roy Waluyo

Akibat kekerasan. Dunia pendidikan tanah air kembali berduka. Beberapa hari yang lalu terdengar kabar, adanya kasus kematian dari mahasiswa PTS di Surakarta akibat ulah seniornya sendiri dalam kegiatan Pendidikan Latihan Dasar/Diklatsar yang diadakan oleh Resimen Mahasiswa/Menwa. Kejadian ini bukan hanya menyisakan duka, namun mencoreng sekaligus menampar wajah pendidikan kita. Pasalnya kejadian seperti ini bukan yang pertama kali.

Ruang aman yang dipertanyakan

Mungkin kita tidak habis pikir, kenapa di lembaga pendidikan yang nota bene merupakan tempat berkumpulnya orang-orang intelek, masih terjadi praktik kekerasan. Kenapa suasana kehidupan kampus yang akademis tidak otomatis membuat mereka berpikir dan bertindak rasional. tentu mereka bukan orang-orang bodoh, karena setiap calon mahasiswa perlu melewati proses seleksi akademik yang ketat.

Praktik kekerasan di perguruan tinggi telah merusak citra kampus. Mahasiswa yang identik dengan kutu buku, berganti jadi monster sangar dan menakutkan. Tentu saja hal ini membuat khawatir banyak orang tua. Bila di kampus, para senior bangga karena merasa telah lebih lama menjadi mahasiswa. Lalu apa bedanya dengan napi yang ada di penjara.

Saya sempat berpikir, apa mungkin para mahasiswa tidak mampu menciptakan model pembinaan baru untuk juniornya. Rasanya tidak mungkin. Bukankah mahasiswa seharusnya cukup kreatif untuk menciptakan model-model baru dalam mengadakan suatu kegiatan. Lihatlah lembaran sejarah bangsa ini. Bagaimana peran besar mahasiswa mulai dari masa kemerdekaan sampai masa reformasi. Mereka hadir dengan gagasan-gagasan cemerlang. Tapi nyatanya, pola-pola tersebut justru sebagai warisan “fast food” dari para oknum senior dungu tetap saja digunakan. Meski sudah tidak relevan dengan kondisi kekinian. Harusnya mereka berpikir strategi menghadapi kompetisi global yang semakin ketat. Menyiapkan diri sedini mungkin, agar ketika lulus nanti tidak jadi pengangguran. Termasuk re-orientasi pola-pola pembinaan agar tidak melulu menggunakan kekerasan.

Algoritma kekerasan

Kita lahir dan tumbuh dalam suasana yang begitu akrab dengan kekerasan. Parade ini menghiasi setiap sudut rangkaian kehidupan kita. Baik melalui media maupun di dunia nyata. Di Indonesia banyak film yang menyajikan adegan kekerasan, seperti tawuran antar pelajar, sopir angkot dan ojek online. Bahkan antar ormas. Begitu kaya memori kita dengan referensi tentang kekerasan.

Kekerasan dalam arti yang lebih luas, bahkan dilakukan oleh orang atau pihak yang memiliki otoritas sebagai pelindung. Di rumah, ada orang tua melakukan kekerasan kepada anaknya. Suami kepada istrinya. Kakak ke adiknya. Di sekolah ada juga kasus kekerasan oleh oknum guru terhadap siswanya. Atau sebaliknya, oknum siswa terhadap gurunya.

Bahkan beberapa waktu lalu sempat viral aksi kekerasan yang justru dipertontonkan oleh oknum aparat, padahal mereka seharusnya mengayomi masyarakat. Oknum Polisi “smackdown” mahasiswa. Videonya dalam kualitas baik, masih mudah di akses di kanal youtube. Sangat mungkin video tersebut ditonton oleh siapapun tanpa batasan usia. Dan sialnya ini akan menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan pendidikan seorang anak.

Tak terkecuali di lembaga pendidikan.  Tempat yang semestinya menjadi referensi perilaku beradab. Suasana akademis tak serta merta membuat warganya imun terhadap perilaku kekerasan. Meski sudah sejak lama pemerintah melalui Permendikbud telah melarang perpeloncoan di masa orientasi, nyatanya praktik kekerasan terus berulang.

Sebagai bentuk dominasi, mahasiswa baru akan “dikerjai” oleh seniornya. Ada yang terang-terangan, lebih banyak lagi yang terselubung melalui kegiatan kemahasiswaan. Kekerasan melahirkan kekerasan. Mahasiswa yang melakukan kekerasan hari ini adalah korban kekerasan masa sebelumnya. Ini akan terus berulang.

Karena begitu sering menyaksikan repetisi kekerasan dalam waktu yang lama, maka tanpa sadar terinternalisasi dalam alam bawah sadar kita. Efeknya seseorang menjadi permisif terhadap laku kekerasan. Fenomena efek ilusi kebenaran ini timbul karena adanya perasaan familier. Pada saat kita mendengar suatu informasi berulang-ulang, secara otomatis informasi itu familier dan akrab dengan kita. Dan otak manusia menerjemahkan perasaan familier ini sebagai kebenaran.

Ciptakan bersama

Ini menjadi tugas kita bersama memutus gen kekerasan. Bagaimana pemerintah, lembaga pendidikan dan para orang tua bersinergi memutus mata laku kekerasan di dunia pendidikan. Menjadikan rumah dan Lembaga pendidikan tempat paling steril dari segala tindak kekerasan.

Sebelum peserta didik terjun ke masyarakat, keluarga dan lembaga pendidikan merupakan ruang stategis untuk internalisasi nilai-nilai kehidupan yang beradab. Melalui pendidikan keteladanan. Para pendidik bukan hanya mengajarkan, tapi menjadi contoh berbagai kebaikan. Pendidikan kontekstual, bukan tekstual, agar tidak ada jarak. Karena kenyaataannya ditengah masyarakat, konflik horizontal yang berujung kekerasan sering kali tidak melulu konfrontasi antara benar dan salah, melainkan antara benar dan benar.

Konflik yang terjadi lebih banyak dilatarbelakangi perbedaan perspektif dari suatu perbedaan. Bahkan dari relasi perbedaan yang timbul secara alamiah. Kita terbiasa berpikir biner. Padahal antara hitam dan putih ada abu-abu.

Selain kontraproduktif dengan tujuan pendidikan, hanya akan menyisakan luka dan dendam. Pada kenyataannya, jalan kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah. Tanpanya, dunia memang terdengar berlebihan dan seperti mimpi.  Namun kalau tidak pernah kita mulai, selamanya akan tetap jadi mimpi.

Editor: Iefone Shiflana Habiba

Bagikan
Exit mobile version