Perempuan acapkali terkenal sebagai makhluk paling perasa. Saking perasanya, terdapat anggapan bahwa perempuan mengedepankan rasa daripada logika. Sesuatu yang menjadi perdebatan di banyak kalangan, meskipun pada kenyataannya perempuan dan laki-laki mendapat karunia dua anugerah yang sama besarnya: akal dan hati.
Jatuh cinta adalah salah satu perkara paling rumit di dunia. Prosesnya melibatkan berbagai neurotransmiter di dalam tubuh. Sebut saja dopamin, norepinefrin, dan PEA (phenylethylamine) yang kemudian berlanjut pada lingkaran umpan balik yang melibatkan brain reward system, yang juga melibatkan berbagai neurotransmiter lainnya. Rumit bukan? Yang jelas, jatuh cinta melibatkan perasaan dua (atau mungkin satu, ups) insan manusia di dalamnya. Ah, lagi-lagi perasaan. Lantas di mana tempat logika?
Pertama kali merasakan debaran di dada, logika bingung bertanya, “Hei, apa yang terjadi?” Sebagian lagi sibuk menyangkal, “Ah, enggalah. Engga mungkin.” Sebagian besar sisanya justru tak peka atau pura-pura tak mau tahu karena begitu tajamnya peningkatan kadar dopamin, memunculkan rasa senang lebih dari biasanya. Itu ketika perasaan masuk tanpa permisi pada logika.
***
Masalahnya, kasus tanpa permisi ini sering terjadi. Karena perasaan begitu halus, menyelinap melewati sela-sela pintu. Maka ketika logika mengetuk, ia baru menyadari rasa telah terlebih dahulu masuk. Terlambat. Terutama bila realita tak sesuai asa. Memaksa logika mengurai benang kusutnya. Kemudian manusia baru merutuki diri, “Mengapa tak kupakai logikaku sejak awal?”
Pertanyaannya, apakah mungkin manusia jatuh cinta dengan terlebih dahulu permisi pada logika? Lebih mengerucut, mungkinkah kita, perempuan, makhluk yang ‘dikenal’ paling perasa, jatuh cinta dengan (mengedepankan) logika?
Ada yang bilang, pengalaman pertama jatuh cinta adalah pengalaman yang paling bodoh. Wajar, lha wong baru pertama kali. Seringkali, rasa lebih dominan berperan hingga berakhir pada kecewa atau lebih ekstrim lagi marah.
Pengalaman kedua, ketiga, atau seterusnya ada yang masih memiliki pengalaman serupa. Berujung kecewa. Akan tetapi, ada pula yang berujung bahagia. Bukan, bukan karena berhasil atau diterima, tetapi karena telah mampu mengambil kendali diri. Mengutip dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, telah mampu menyelaraskan harapan dengan realita yang terjadi.
***
Mengambil kendali diri tentu bukanlah perkara yang mudah. Dalam sebuah hadits yang riwayat Ahmad, Rasulullaah SAW bersabda, “Sungguh hati manusia itu lebih berbolak-balik melebihi tungku bila airnya mendidih.”
Nah, gejolak hati rupanya lebih heboh dibandingkan air yang mendidih. Sedetik sebelumnya A, sepersekian detik selanjutnya sudah B. Air yang sebelumnya ada di permukaan tungku bisa tiba-tiba berpindah ke dasar. Maka, satu-satunya cara untuk mengambil kendali diri adalah dengan menempatkan logika sebelum gejolak hati terjadi. Ya, sebelum kadar dopamin meningkat tinggi dan mengambil alih kendali diri. Tentu hal ini butuh latihan berulang kali. Semakin sering terpapar maka akan semakin terlatih.
Untuk mempermudah kendali diri, kita dapat menggunakan suatu ‘alat’ sebagai perantara logika. Yang dimaksud alat di sini adalah komponen penilaian yang akan membantu kita untuk menentukan apakah seseorang dapat kita persilakan masuk ke dalam pintu hati atau sebaliknya kita izinkan untuk mencari pintu hati yang lain. Bahasa mudahnya alat ini dapat diterjemahkan sebagai ‘kriteria’. Kali ini, tolong jangan bicarakan kriteria seperti baik, saleh, rajin menabung. Itu terlalu umum dan bisa membuat bingung. Buatlah kriteria yang memungkinkan untuk dijadikan tolok ukur.
***
Kriteria bersifat personal, artinya unik, tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya. Jangan menggunakan kriteria orang lain sebagai kriteriamu, juga jangan memaksakan kriteriamu untuk jadi kriteria orang lain. Dalam menentukan kriteria, pertimbangkanlah situasi diri sendiri dan orang tua. Sebuah contoh sederhana, apabila kamu adalah wanita yang bekerja, maka salah satu hal yang menjadi kriteriamu adalah, “Apakah orang tersebut mengizinkanmu bekerja?” Contoh lainnya, bila restu orang tua mutlak harus ada di awal, maka tanyakanlah apakah orang tua setuju dengan orang tersebut atau tidak.
Kriteria juga bersifat feasible, artinya memungkinkan untuk dijadikan tolok ukur penilaian. Contohnya kriteria ‘saleh’ bukan sebuah kriteria yang feasible. Untuk menjadikannya feasible, maka ganti kriteria saleh dengan kriteria konsisten melaksanakan salat lima waktu secara tepat waktu. Contoh lain, kriteria ‘baik’ juga bukan kriteria yang feasible. Gantilah dengan kriteria yang lebih mudah dinilai, misalnya mendengarkan lawan bicara dengan seksama ketika berkomunikasi.
Dengan menyusun kriteria yang personal dan feasible, secara tidak langsung telah menjadikan kriteria yang disusun lebih spesifik dan tentunya tidak membuat bingung. Kriteria ini juga bermanfaat apabila dalam waktu bersamaan terdapat beberapa rasa yang ingin masuk ke pintu hatimu. Tak perlu ragu, gunakan logika sebelum rasa terlanjur masuk tanpa permisi.
***
Bila diilustrasikan, kurang lebih seperti ini situasi antara Rasa, Logika, dan Pintu Hati. Ketika Rasa datang mencoba masuk ke dalam Pintu Hati, Logika berkata kepada Rasa, “Eits, eits, tunggu dulu. Anda siapa? Mau ke mana?”
Rasa menjawab, “Saya Rasa. Saya ingin masuk ke dalam Pintu Hati itu.”
Logika mencegahnya, “Tunggu dulu, biar saya ketuk pintunya.”
“Tok, tok, tok,” Logika mengetuk Pintu Hati.
Pintu Hati membukakan pintunya, “Ada apa?”
Logika menjawab, “Ada Rasa yang ingin masuk. Apakah engkau mengizinkannya masuk, Pintu Hati?”
Pintu Hati mengalihkan pandangannya kepada Rasa, “Rasa, bolehkah aku berdiskusi terlebih dahulu dengan Logika?”
Bila ia adalah Rasa yang bijak, maka ia tak kan ragu untuk mengangguk, “Ya, boleh Pintu Hati.”
Nah!
Sumber:
Ardian, Jiemi [@jiemiardian]. (2021, 12 April). Ada yang harapannya selaras dengan realita, dan ada yang menyelaraskan harapannya dengan realita [Foto Instagram]. Diakses melalui https://www.instagram.com/p/CNjz3jLnbtQ/, 23 April 2021
Fisher, Maryanne. The Science Behind Falling in Love. Psychology Today. Diakses melalui https://www.psychologytoday.com/us/blog/loves-evolver/201302/the-science-behind-falling-in-love?amp, 23 April 2021.
Musnad Ahmad Hadits Nomor 22699.
Seorang dokter yang senang berbagi ide sederhana
