Site icon Inspirasi Muslimah

Jangan Ge-er Jadi Ibu Zaman Sekarang!

ibu

Beberapa waktu yang lalu, mata saya menangkap suatu postingan di Instagram, yang isinya tentang menjadi Ibu di tahun 2023. Singkatnya, tulisan tadi menunjukkan bahwa menjadi Ibu di tahun 2023 itu berarti harus bisa memastikan kondisi anak secara fisik, psikologis, sosial, emosional, spiritual dalam kondisi prima tanpa terkena makanan proses, terpapar gadget seminimal mungkin, harus bisa berempati tapi tidak terlalu lembek dan lain sebagainya.

Postingan itu tentu membuat saya manggut-manggut karena relate dengan yang saya rasakan. Kemudian terbetik perasaan, “Kaan, jadi ibu di era sekarang itu tidak mudah lhe. Tuntutane akeh og“

Wajar kan kalau saya merasa seperti itu. Apalagi perjalanan bermedsos saya tidak jauh-jauh dari membaca komentar para ibu-ibu, yang mungkin seusia saya, di banyak postingan Instagram. Tentu postingan yang sempat tertangkap mata itu semacam memvalidasi apa yang saya rasakan ini.

Tapi, sedetik kemudian, saya kok merasa langsung diceramahi panjang lebar oleh emak saya, mungkin mewakili para ibu senior yang sudah purna dalam merawat anak kecil mereka. “Lha dipikir kene biyen opo ndak soro?” Atau “Memangnya kita-kita dulu mudah dan gampang gitu jadi Ibu?”

Hehehe. Yaa, saya tidak tahu soalnya pada waktu itu kan saya belum jadi ibu ya. Tapi kan zaman sekarang tuntutannya seorang ibu itu buanyak sekali kok. Menurut pendapat saya dalam hati sih ini. Tapi, akhirnya, daripada saya dianggap anak durhaka, saya kemudian ingat-ingat dan saya pikir-pikir, apa yang diomelkan emak saya itu ada benarnya juga.

Pertama, dalam hal pekerjaan rumah, kita sudah sangat dimudahkan dengan berbagai alat rumah tangga modern. Coba, di masa sekarang, Apa ada ibu-ibu muda yang tangannya kekar gara-gara keseringan ngulek atau menimba air? Kalaupun ada, yaah paling sedikit sekali. Yang banyak itu pasti yang jempol tangannya berkulit ari tebal, aka kapalen, karena sering berolahraga jari di permukaan gadget.

Kedua, stigma masyarakat sekarang sudah banyak sekali berubah jika kita bandingkan waktu ibu-ibu kita. Sekarang, kalau kita lebih memilih laundry daripada mengecek baju sendiri, kita pasti masih bisa memberi pembenaran. “Kan, aku lebih memilih dengan anakku” atau “Kan aku bekerja jadi ya ndak nutut waktunya” atau bahkan “Aku kan juga butuh me time” dan alasan-alasan lain. Dan pasti ada yang menerima pembenaran itu, minimal diri kita sendiri sih.

Kalau zaman dulu, mana ada? Kalaupun ada, sepertinya persentasenya sangat kecil. Saya ingat, dulu Ibu saya bisa setengah hari sendiri kalau sedang cuci-cuci. Tanpa bisa mengerjakan yang lain. Dan jarang sekali meminta bantuan bapak. Karena, yaa kita kan tahu bagaimana stigma masyarakat saat itu tentang pekerjaan rumah tangga ya. Pasti mikirnya, daripada ribut mending dikerjakan sendiri.

Nah, kalau sekarang, kita bisa mengakses banyak sekali postingan tentang pentingnya kasih sayang suami kepada istri. Ehem. Yang bisa diungkapkan dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Ehem. Dan bisa langsung ia tunjukkan kepada yang bersangkutan. Uhuyy. Nah, kan, sekali lagi, ibu di era sekarang sangat dimudahkan dengan stigma masyarakat yang mulai bergeser.

Mungkin akan ada yang protes, “Lah kan saya bekerja. Ya ndak bisa kalau tidak kerja sama,” dan banyak ucapan lain yang senada. Oke. Itu ada benarnya. Tapi, sekali lagi, perubahan stigma itu sedikit banyak membantu kita. Bekerja memang menyita waktu kita, tapi kita tentu mendapat kompensasi lain juga, kan. Semacam aktualisasi diri yang bercuan. Hohoho. Lagi pula, kalau ngotot bahwa kita lebih berat gara-gara bekerja, kita bisa ditimpuk bantal oleh emak-emak  pekerja pabrik.

Ketiga, kalau ingat postingan yang memvalidasi di atas, dan kita pikir-pikir lagi, sebenarnya siapa yang memberi tuntutan banyak kepada kita? Iya sih, memang kita ingin memberikan yang terbaik. Tapi, sebenarnya banyak tuntutan itu dari siapa? Dari kita sendiri kan? Karena kita ingin anak kita berada pada kondisi terbaik, jadilah kita pingin ini pingin itu, pingin anak kita jadi begini dan begitu.

Kadang, keinginan itu semakin menjadi tuntutan ketika kita melihat komen dan postingan para emak lain yang bisa begini dan begitu. Jadinya yaa, kita tak mau kalah dong. Harus bisa juga! Keinginan kita sendiri, menuntut diri sendiri tapi juga mengeluh sendiri. Kalau saya pikir-pikir, saya jadi ribet sendiri.

Untuk ibu-ibu zaman now macam saya yang sangat terpengaruh postingan dan komentar medsos, sebenarnya solusinya sangat mudah dan simpel sih. Kan tinggal tidak usah buka medsos, masalah selesai. Kita bisa buka aplikasi lain, misalnya Elsa Speak atau Grammarly biar tambah jago berbahasa inggris. Jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Hahaha.

‘Lah kalau yang komentar itu tetangga, emak, bapak, mertua, mbah, mbah buyut, terus bagaimana?’ Yah, mungkin kalau itu adalah bentuk kepedulian yang selalu ada dari masa ke masa. Bahkan mungkin salah satu bentuk kearifan lokal yang perlu dipertahankan adanya. Jadi kalau itu tidak ada salahnya kita berguru pada emak-emak kita yang sudah tuntas melakoninya.

Begitulah ibu-ibu semuanya. Setelah saya pikir-pikir lagi seperti uraian saya di atas, saya sadar kalau memang nasib menjadi Ibu ya begitu itu. Yang kalau disebut susah ya memang susah. Tapi kalau mau menyebut bahwa ibu di era sekarang lebih susah, yaa tidaklah. Saya tidak mau menambah kesusahan dengan mendengar omelan dari paguyuban emak-emak senior sedunia.

Bagikan
Exit mobile version