Site icon Inspirasi Muslimah

Jadi, Kapan Mau Nikah?

kapan

Rahmania, berbicara perihal jodoh, bagi sebagian orang mungkin menjadi hal yang sangat menyenangkan, tapi bagi sebagian yang lain bisa menjadi menjengkelkan dan membosankan. Apa lagi, bagi mereka yang sudah punya pasangan atau pendamping hidup, akan sangat bangga dan tidak merasa khawatir ketika ditanyai perkara jodoh, baik oleh teman, saudara dan sanak keluarga yang lainnya.

Berbeda bagi mereka yang masih belum memiliki pasangan atau pendamping hidup, hal ini pasti menjadi beban pikiran tersendiri, apalagi kalau sudah merasa berumur. Kita harus siap menghadapi berbagai pertanyaan intimidasi dari berbagai orang-orang terdekat mereka. Pertanyaan-pertanyaan seputar ‘kapan nikah?, kok sendiri terus, sudah tua kok masih lajang dan sebagainya’, pasti akan tertanggu. 

Ungkapan tersebut, bagi sebagian individu dinilai berlebihan, sekalipun hanya bercanda atau basa basi saja. Kalau ada seorang pria yang belum menikah dan sudah melewati batas usia ideal untuk menikah, ia kerap kali mendapat pertanyaan yang kurang enak, bahkan respon yang berlebihan dari teman atau kerabat mereka. Misalnya, ‘kamu bencong ta kok gak nikah-nikah?’ atau ‘Mr.“P”mu nggak hidup ta kok nggak berani nikah?’, bahkan mungkin masih ada yang lebih parah dari respon tersebut diatas.

‘Kapan Nikah?’ yang Berujung pada Bullying

Disadari atau tidak, apa yang kita ucapkan terhadap orang lain atau lawan bicara kita, kadang secara  tidak langsung menyinggung perasaan atau psikologis mereka. Makanya ada peribahasa yang mengatakan lebih tajam lidah daripada pedang. Artinya kita diminta untuk berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan sesuatu. Karena apa yang kita sampaikan dan kita ucapkan bisa saja menyakiti perasaan orang lain atau bahkan membunuh karakter dan potensi orang lain.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, bisa saja apa yang kita sampaikan bermaksud bercanda atau sekedar guyonan. Tapi apakah orang yang kita ajak bicara merasa seperti itu? Kalau mereka tersinggung atau bahkan tidak senang dengan apa yang kita ucapkan berarti kita sudah melakukan tindakan bullying atau intimidasi. Seperti misalnya ucapan-ucapan kapan nikah, kapan punya anak, dan lain sebagainya.

Secara etimologis “Bully” artinya mengertak, mengusik, menggangu dan mengintimidasi. Menurut Wicaksana (2008) Bullying adalah kekerasan fisik dan psikologis yang dilakukan oleh seorang atau kelompok orang terhardap orang lain yang tidak dapat membela diri dalam situasi di mana ditekan secara fisik dan psikis sehingga membuat orang tersebut takut dan murung.

Terdapat banyak jenis bullying. Salah satunya adalah bullying secara verbal atau dapat diartikan sebagai tindakan intimidasi atau penindasan yang dilakukan seorang atau kelompok terhadap orang lain dengan menggunakan ucapan atau kata-kata. Bullying secara verbal ini bisa berupa memfitnah, mencela, pernyataan atau pertanyaan intimidasi dan lain sebagainya. Contohnya adalah apa yang sudah saya paparkan di atas, seperti pertanyaan kapan mau nikah, kapan punya anak yang itu bisa membuat orang tersinggung dan tidak senang.

Walaupun terlihat sepele, pertanyaan tersebut akan menimbulkan berdampak sangat besar pada orang yang ditanyakan. Bagi mereka yang keadaan mentalnya masih normal mungkin ini dianggap sebagai angin lewat saja, tapi bagi orang yang sedang dalam mental terpuruk atau depresi, ini akan membuatnya semakin terpuruk dan cenderung menyendiri bahkan bisa menyebabkan bunuh diri.

Menikah Bukan Hanya Mengubah Status Sosial

Keseringan ditanya kapan nikah tidak hanya berdampak pada psikis seorang, tapi juga pada orientasi hidupnya. Pertanyaan kapan nikah yang diulang-ulang akan membentuk pola pikir dan orientasi seseorang dalam merumuskan tujuan hidupnya. Selain itu, desakan orang tua, dan keluarga juga berpotensi pada ketidaksiapan seorang akan ketika hendak menikah, karena diburu-buru.

Konstruksi sosial di masyarakat kita juga sangat berpengaruh, di mana seorang yang sudah matang secara usia dan mapan secara ekonomi namun belum menikah, maka dianggap sebagai seorang yang berbeda dari kebanyakan orang. Sehingga, mereka merasa teralienasi dari lingkungan masyarakatnya akibat pola pikir segregatif yang diterapkan dalam masyarakat kita. Kondisi lingkungan seperti inilah yang menjadikan pernikahan sebagai usaha untuk mengubah status sosial belaka.

Sejatinya pernikahan tidak hanya dimaknai sebagai usaha untuk mengubah status hidup dan kedewasaan diri dan pasangan. Lebih dari itu, pernikahan diusahakan untuk mewujudkan rumah tangga yang harmonis dan penuh kebahagiaan untuk mencapai rahmah-Nya dengan sakinah. Ketika pernikahan tidak disiapkan dengan pengetahuan, atau hanya didasarkan pada keterpaksaan karena tuntutan lingkungan, maka yang muncul adalah kemungkinan-kemungkinan ketidakmatangan dalam penyelesaian konflik.

Disadari atau tidak, lingkungan keluarga dan teman dekatlah yang turut andil dalam mengkontruksi budaya bullying terhadap seorang yang masih belum menikah di usia yang cukup tua. Untuk itu kita harus berhati-hati dalam berinteraksi dan berbicara dengan teman atau lawan bicara kita. Jangan sampai kita membuat pernyataan atau pertanyaan yang itu bisa membuat orang yang kita ajak bicara tersinggung dan sakit hati.

Bagikan
Exit mobile version