Site icon Inspirasi Muslimah

Inventarisasi Guru yang Tak Lekang oleh Waktu

inventarisasi guru

Beberapa minggu lalu, saat berselancar di salah satu sosial media, saya melihat postingan kakak kelas saya ketika di pesantren. Di situ, terdapat foto beliau bersama beberapa guru kami di Madrasah Aliyah. Dan yang paling menarik, caption panjang dengan gaya bahasanya yang membuat orang lain ingin membaca.

Inti dari caption panjangnya ialah ‘’Sebelum terbentuk kita sekarang, pasti ada jasa guru-guru. Seyogiyanya, inventarisasilah guru-gurumu dahulu. Tarik garis sanadnya. Dari situ akan terlihat jaring yang menghubungkan, lantas membentukmu’’.

Memang benar adanya, siapalah kita jika tidak ada yang dengan tulus memberi. Siapalah kita jika tidak ada yang dengan sabar mengajari. Siapalah kita jika tidak ada yang dengan ikhlas menjadi perantara ilmu, tanpa memikirkan seberapa besar dan kecilnya gaji.

Guru, sebagian orang menganggap hal itu menjadi profesi. Tetapi, tahukah bahwa gajinya mungkin tidak cukup membiayai kelangsungan hidup keluarganya. Menjadi seorang guru bukan menjadi ladang mereka mencari nafkah. Lebih dari itu, mereka ingin mengais banyak berkah. Maka, tidak heran jika mereka punya usaha yang jauh lebih mencukupi kebutuhan hidupnya. Tetapi, mereka tetap menjalani pekerjaan sebagai seorang guru. Dari situlah terlihat bahwa menjadi guru bukan hanya sebagai ladang mencari uang.

Ketika melihat guru-guru saya, tersirat wajah bahagia dengan rasa ikhlas yang selalu mereka gemakan dalam dada. Hal ini terpancar dalam senyum tulus yang mereka hadirkan setiap mengajar. Selama mengajar, rasa ikhlas adalah hal pertama yang mereka tanamkan. Saya rasa tidak ada hal lain selain ikhlas yang mampu membuat mereka bertahan. Apalagi, mengajar ini bukan perkara gampang. Terkadang banyak energi yang harus dikeluarkan.

Memaknai Inventarisasi Guru

Meski kata Inventarisasi dalam KBBI  berarti pencatatan atau pendaftaran barang-barang baik di kantor, sekolah, ataupun rumah tangga yang bertujuan untuk mempermudah dalam melaksanakan tugas, bukan berarti kita menyamakan antara seorang guru dengan barang. Bukan itu. Tetapi, inventarisasi guru disini memiliki makna yang menurut saya sangat dalam artinya.

Inventarisasi, Membiarkan seluruh kejadian tetap ada dalam memori. Mengingat betul setiap detik yang sarat akan makna. Tak ingin pelajaran berharga terlewatkan begitu saja. Tentunya, semua perkara itu berkaitan dengan hal-hal baik. Inventarisasi tak berlaku untuk hal-hal keji.

Inventarisasi guru tidak bisa dianggap sebagai hal yang remeh-temeh. Sudah seharusnya ajaran mereka selalu menjadi panduan. Menjadi panutan dalam setiap perbuatan. Juga, nasehatnya tak boleh lekang dari ingatan. Namanya saja guru, digugu lan ditiru. Ada banyak kebaikan yang dapat kita jadikan pelajaran. Ada ribuan kelelahan yang mereka korbankan, agar semua anak didiknya meniti jalan kebaikan.

Mungkin banyak di antara kawan-kawan yang menganggap hal ini sepele. Beralasan bahwa guru yang dulu hanya guru di masa itu. Masa sekarang berganti guru. Guru ketika SD hanya menjadi guru ketika kita SD. Naik SMP berganti guru, guru SD dilupakan begitu saja. Tentu bukan itu yang diharapkan.

Guru tetap menjadi guru. Sepanjang masa. Tak peduli kita telah berklamufase menjadi siapa. Mereka tetap guru kita, yang tanpa nya mungkin kita tak ada apa-apanya. Segala usaha telah mereka kerahkan untuk menjadikan kita insan yang berguna.

Lantas, balasan apa yang dapat kita berikan kepada mereka? Meski kita tahu mereka tak pernah mengharap imbalan berupa apapun dari muridnya. Seperti yang sudah saya bilang di atas, bahwa ikhlas adalah rasa yang perlu mereka bangun setiap harinya. Agar sepenuh peluh mereka tak berujung sia-sia.

Meski demikian, tidak serta merta kita sebagai murid melupakan hal itu. Justru, karena guru adalah seseorang yang ikhlas membentuk kita tanpa pamrih, maka sangat perlu bagi kita untuk membalas segala kebaikannya.

Mengingat Pesan-Pesan Guru

Setiap orang mempunyai cara berbeda untuk menginventarisasi guru-gurunya. Yang terpenting, niat kebaikan selalu menjadi tujuan. Mencoba menghadirkan kebermanfaatan meski tak seberapa. Mencoba langkah-langkah kecil tak mengapa, daripada tidak berusaha sama sekali. Jika tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana hal-hal besar bisa terwujud.

Inventarisasi guru bisa berupa apapun. Banyak jalan yang dapat ditempuh untuk melakukan hal itu. Bisa sekedar mengenangnya lewat foto, membuka lembaran buku pelajaran yang pernah mereka ajarkan, atau bisa juga berkenan mengunjungi rumah mereka.

Bagi diri saya pribadi, hal terkecil yang saya ambil untuk mengupayakan langkah inventarisasi guru adalah dengan mencoba mengingat semua pesan-pesan kebaikan, mengingat motivasi-motivasi yang membangun, serta mengingat perjalanan kisah yang bisa dijadikan pelajaran hidup. Dan, Syukur Alhamdulillah semuanya telah saya catat meski tidak rapi dalam sebuah buku. Disitu tercatat rentetan pesan kebaikan lengkap dengan nama guru dibawahnya.

Setiap setahun sekali, tepatnya di momentum Idul Fitri, saya dan teman-teman se-angkatan juga mengusahakan bersilaturrahmi ke rumah guru-guru kami. Tujuan kami agar benang ukhuwah yang telah kita rajut bersama tak ada kerenggangan, apalagi sampai terputus.  Dan yang paling mengagumkan disini adalah doa mereka masih sama ”Semoga kalian menjadi insan yang berguna, yang bisa mewarnai lingkungan sekitar dengan hal-hal baik’’. Kami meng-Aamiin-kan, Semoga doa yang mereka ucapkan sampai kepada langit pengabulan

Saya selalu berdoa, semoga langkah yang kami tempuh untuk memuliakan orang yang mulia tersebut mendapatkan ridho daripadaNya. Melakukan segala hal-hal baik untuk orang-orang baik. Semoga balasan terbaik juga menyertai kita semua.

Bagikan
Exit mobile version