“Saya ingin beriman, tapi buka dengan keimanan yang buta” berikut merupakan sebuah pernyataan singkat yang menggambarkan secuil kegelisahan manusia waras di tengah kegilaan peradaban manusia modern.
Manusia modern merupakan manusia-manusia yang hidup di era mekanisasi, teknokratisasi, dan digitalisasi. Sehingga, konsekuensinya menghadirkan realitas yang penuh kepalsuan dan mencitrakan hubungan yang teramat transaksional. Hubungan transaksional yang dimaksud merujuk pada tindakan-tindakan instrumental yang berporos pada orientasi untung rugi dan akumulasi modal secara materil. Dengan demikian, nilai moral, sosial, dan spiritualitas mengalami kekeringan di alam kesadarannya.
Religiusitas dan Spiritualitas
Indikasinya jelas dalam penampakan peribadahan yang berlangsung sehari-hari. Secara umum, ibadah dalam konteks agama terbagi menjadi 2 kategorisasi, yaitu religiusitas dan spiritualitas. Religiusitas merujuk pada tindakan peribadahan secara fisik yang ditampilkan di hadapan orang secara sosial. Sehingga, menghasilkan budaya ibadah di kalangan masyarakat melalu kontruksi yang diobjektifikasikan (Berger & Luckman, 2018). Misalnya, seperti budaya tahlil, ibdah sholat ied, sholat berjemaah, tradisi agama sholawatan, dan sejenisnya.
Sedangkan, pada tatanan spiritualitas, ibadah merujuk pada hubungan personal antara manusia dengan Tuhannya. Manusia secara personal dengan pendekatan spiritualitasnya berusaha menyatu dengan Tuhan yang ia yakini. Dengan begitu, tahap spiritiualitas ini nyaris tidak perlu objektifikasi dan pengakuan terbuka dari kalangan sosial yang ada di sekitarnya.
Namun, kedua kategorisasi peribadahan ini mengalami pengerdilan dan pendangkalan di era modern. Terdapat beberapa ibadah yang diabaikan dan tersingkir, yaitu ibadah sosial. Barangkali, ibadah pada kategori religiusitas merupakan upaya masyarakat secara kolektif membangun dan membenamkan cara-cara mencapai kategori ibadah secara spiritual.
Akan tetapi, yang menjadi sangat disayangkan justru bukannya mencapai tatanan spritualitas, malah terjerumus pada kedangkalan transaksional manusia dengan Tuhan. Orientasi ibadah akhirnya dipersempit pada transaksi pahala dan dosa yang nantinya akan membawa masing-masing individu ke pelabuhan surga atau neraka.
Surga dan Neraka yang Transaksional
Pelabuhan akhir yang disebut surga dan neraka memanglah menggiurkan. Namun, apakah ketergiuran itu menjadi substansial jika mengabaikan ibadah-ibadah sosial yang secara langsung berdampak pada manusia di sekitar? Persoalan ini menjadi dilematis dan bertebaran bebas di mana-mana.
Banyak orang-orang yang secara religius tidak pernah bolong untuk salat lima waktu di masjid. Namun, di waktu yang bersamaan, orang-orang itu melupakan kalangan miskin di sekitar rumahnya yang kelaparan.
Seringkali, orang-orang begitu giat pergi untuk naik haji dan berniat membasuh akhlak menjadi lebih baik di tanah suci. Namun, di saat yang bersamaan, orang-orang religius itu justru sering mengabaikan orang lain yang sedang berbicara di depannya.
Seringkali, banyak orang-orang yang begitu fasih membaca ayat-ayat suci agamanya. Namun, di sisi yang bersamaan, orang-orang itu justu gagap dalam mendengarkan orang lain yang sedang berkeluh kesah.
Orang religius yang buta itu hanya mementingkan ibadah religiusnya, karena khawatir tidak masuk surga. Sedangkan, di waktu yang bersamaan ia justru mengabaikan ibadah sosialnya di hadapan manusia-manusia yang membutuhkan akhlak nyata seorang hamba.
Ibadah Sosial: Pengandaian Sudjiwo Tedjo
Sudjiwo Tedjo pernah penyampaikan dua narasi pengandaian ibadah sosial yang begitu mengaggumkan sekaligus diabaikan oleh manusia religus modern. Pertama, Sudjiwo Tedjo tidak akan pernah masuk ke dalam taksi yang telah dipesannya sebelum si supir taksi mempersilakannya masuk.
Ketika memesan sebuah ojek online pengantar makanan, Sudjiwo Tedjo mengandaikan dirinya tidak akan masuk ke dalam rumah, meskipun makanannya sudah dia terima, sebelum si ojek online pergi.
Mengapa demikian? Karena bagi Sudjiwo Tedjo, boleh saja kita membayar ongkos taksi dan ongkos makanan yang kita pesan. Tapi, yang kita bayar hanyalah jasa dan harga makanannya saja, tidak dengan rasa empati dan simpati hati si ojek online. Jadi, sejatinya kita sedang hutang rasa. Dengan menghargai secara sosial yang berdab tadi, maka setidaknya hutang rasa itu bisa sedikit terbayarkan, meskipun tidak sepenuhnya.
Kedua, Sudjiwo Tedjo berupaya sebisa mungkin untuk tidak berpaling dan mengalihkan fokus perhatiannya ketika ada orang lain sedang berbicara di hadapannya. Sudjiwo Tedjo juga mengandaikan jika dia salah masuk ruangan dan di ruangan itu sedang ada orang yang bernyayi, maka ia tidak akan keluar sebelum lagu yang dinyanyakin si penyanyi selesai dibawakan.
Baginya, inilah salat yang diharapkan antar manusia. Bukan salat-salat yang hanya mementingkan transaksi pahala dan dosa untuk memilih surga dan neraka. Percayalah, bahwa sholat dan ibadah yang transaksional dangkal semacam itu hanya akan menghadirkan keimanan yang palsu dan buta.
Ibadah Sosial: Alegori Pulo Coelho
Alegori lain juga dinarasikan oleh sastrawan ternama Paulo Coelho (2022) dalam bukunya yang berjudul Sang Alkemis. Pada bagian tertentu, sang tokoh utama sedang asyik membaca buku. Namun, tiba-tiba datang seorang bapak tua yang hendak mengajak berbicara (mengobrol). Di dalam hati si tokoh utama begitu jengkel, karena konsentrasi dan keasyikannya membaca buku harus diganggu. Tapi, bapak tua itu terus berupaya untuk mengajak si tokoh utama mengobrol dengan berbagai cara, mulai dari bertanya nama, tempat asal, apa yang sedang dilakukan, hingga buku apa yang sedang dibaca si tokoh utama.
Beberapa kali si tokoh utama menjawab sekenanya. Namun, lama-kelamaan mulai jengkel dan ada niat untuk membentak, lalu pergi menjauh dari bapak tua itu. Seketika ingin melakukan niatnya, si tokoh utama kemudian teringat petuah dari ayahnya bahwa kita harus menghargai orang lain, terutama orang yang lebih tua (Coelho, 2022: 33). Narasi sederhana itu meredakan segala kejengkalan si tokoh utama dan memilih untuk menggubris dengan seksama ajakan mengobrol bapak tua itu.
Ibadah Otentik di Era Penuh Intrik
Barangkali, inilah ibadah sosial yang sederhana seklaigus otentik, tapi mulai terabaikan oleh manusia-manusia modern di era penuh intrik: sebuah era yang mementingkan egoisem diri, bahkan untuk urusan ibadah surga dan neraka. Jangankan mendengarkan orang lain secara seksama, untuk mendengarkan orang lain dengan tidak beralih fokus pada gadget saja rasanya begitu sulit.
Maka dari itu, pendidikan berbasis proses tentang ibadah sosial perlu untuk dimunculkan ulang di tengah maraknya moralitas palus: sebuah moralitas yang hanya berorientasi pada surga dan neraka secara dangkal.
Kedangkalan ibadah dan pemahaman diri memaknai agama ini akan membawa pada keimanan yang buta: keimanan yang justru menyingkirkan orang lain, karena egoisme diri sendiri. Sudahkan kita mencoba menjalankan ibadah sosial otentik itu? Tanyakan pada perjalanan sejarahmu sendiri, kawan.
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya asal Bangkalan
