Setiap menjelang Iduladha, media sosial selalu dipenuhi beragam unggahan tentang hewan kurban. Mulai dari foto sapi berukuran jumbo, dokumentasi penyembelihan, hingga video distribusi daging kepada masyarakat. Tidak sedikit pula yang menampilkan proses pembelian hewan kurban lengkap dengan harga fantastis dan tampilan visual yang menarik perhatian warganet. Fenomena ini seakan telah menjadi tradisi baru dalam perayaan Iduladha di era digital.
Di satu sisi, kemunculan konten semacam ini memang dapat dipandang positif. Media sosial memungkinkan nilai-nilai berbagi dan kepedulian sosial tersebar lebih luas. Dokumentasi kurban dapat menjadi sarana syiar Islam sekaligus menginspirasi orang lain untuk ikut beribadah dan membantu sesama. Namun di sisi lain, fenomena tersebut juga menghadirkan pertanyaan yang cukup menggelitik: apakah semua unggahan itu benar-benar lahir dari semangat syiar, atau justru perlahan berubah menjadi ajang flexing religius di ruang digital?
Dalam buku yang berjudul The Power of Flexing karya Susan Ashford, fenomena flexing sendiri merujuk pada perilaku memamerkan sesuatu untuk memperoleh pengakuan sosial. Dalam konteks Iduladha, flexing dapat muncul ketika ibadah kurban tidak lagi dipahami sebagai bentuk ketakwaan dan pengorbanan, melainkan sebagai sarana pencitraan diri. Media sosial akhirnya menjadikan ibadah yang seharusnya bersifat spiritual berubah menjadi konsumsi visual publik.
Padahal, hakikat kurban dalam Islam bukan terletak pada besar kecilnya hewan yang disembelih ataupun mahal dan murahnya harga hewan tersebut. Al-Qur’an dalam QS. Al-Hajj [22]: 37 dengan tegas menyatakan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging maupun darah hewan kurban, melainkan ketakwaan orang yang melaksanakannya. Pesan ini menunjukkan bahwa orientasi utama kurban sejatinya adalah keikhlasan, bukan popularitas.
Namun kehidupan digital hari ini memang memiliki logika yang berbeda. Algoritma media sosial cenderung mendorong manusia untuk terus tampil dan memperoleh validasi. Akibatnya, tidak sedikit orang yang secara tidak sadar mengukur keberhasilan ibadah melalui jumlah likes, komentar, dan pujian dari warganet. Semakin besar sapi yang dipamerkan, semakin tinggi pula perhatian yang diperoleh. Dalam situasi seperti ini, garis antara syiar dan riya menjadi semakin tipis.
Fenomena ini semakin diperparah ketika muncul semacam ajang perlombaan untuk menampilkan sapi terbesar, kambing terunik, atau jumlah hewan kurban terbanyak. Bahkan tidak jarang narasi yang digunakan cenderung menonjolkan status sosial dan kemampuan ekonomi. Padahal Iduladha sejatinya mengajarkan kesederhanaan, kepedulian, dan pengorbanan diri, bukan pertunjukan kemewahan.
Meski demikian, tentu tidak semua unggahan kurban dapat langsung dianggap riya. Islam juga mengenal konsep syiar, yakni menampakkan simbol-simbol kebaikan agar dapat menginspirasi orang lain. Dokumentasi kurban yang bertujuan mengajak masyarakat berbagi, meningkatkan semangat beribadah, atau memberikan edukasi tentang pentingnya solidaritas sosial tentu memiliki nilai positif. Bahkan di era digital, media sosial dapat menjadi alat dakwah yang sangat efektif.
Persoalannya terletak pada niat dan cara menampilkan ibadah tersebut. Ketika unggahan lebih menonjolkan unsur kemewahan, prestise, dan kebanggaan diri, maka ruh pengorbanan dalam Iduladha perlahan memudar. Kurban yang seharusnya mengajarkan kerendahan hati justru berubah menjadi simbol status sosial baru. Tidak jarang muncul narasi seperti “sapi termahal”, “kurban terbesar”, atau perlombaan tidak langsung untuk menunjukkan siapa yang paling mampu.
Fenomena flexing ini sebenarnya mencerminkan budaya masyarakat digital yang semakin haus pengakuan. Hari ini, hampir semua hal dapat dipamerkan di media sosial, termasuk ibadah. Sedekah direkam, doa dipublikasikan, bahkan aktivitas membantu orang lain kadang dijadikan konten.
Di sinilah Iduladha seharusnya menjadi momentum refleksi spiritual. Kisah Nabi Ibrahim bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan tentang kemampuan manusia mengalahkan ego dan keterikatan duniawi. Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa cinta kepada Tuhan harus berada di atas kepentingan diri sendiri. Spirit pengorbanan inilah yang semestinya dihidupkan kembali di tengah budaya flexing yang semakin menguat.
Ironisnya, dewasa ini sebagian orang justru rela mengeluarkan biaya besar demi terlihat “wah” di media sosial, tetapi melupakan makna sosial dari kurban itu sendiri. Padahal esensi Iduladha sangat dekat dengan nilai empati dan kepedulian terhadap sesama. Kurban bukan sekadar tentang membeli hewan terbaik, tetapi juga memastikan bahwa kebahagiaan dapat dirasakan oleh mereka yang jarang menikmati daging dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk lebih bijak menggunakan media sosial, terutama dalam urusan ibadah. Sebelum mengunggah konten kurban, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah ini benar-benar untuk syiar dan inspirasi, atau sekadar mencari pengakuan? Pertanyaan semacam ini penting agar media sosial tidak menjadi ruang yang menggerus nilai keikhlasan dalam beragama.
Pada akhirnya, Iduladha mengajarkan bahwa pengorbanan sejati sering kali bersifat sunyi. Tidak semua kebaikan harus dipertontonkan, dan tidak semua ibadah membutuhkan panggung digital. Di tengah budaya flexing yang semakin masif, mungkin salah satu bentuk kurban terbesar hari ini adalah kemampuan menahan ego untuk tidak selalu ingin dilihat dan dipuji manusia.
Mahasiswa Magister Ilmu Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aktif dalam menulis keislaman terutama seputar isu gender, keberagamaan, sosial, dan kajian hadis.
Instagram: @khaerul9811
