Site icon Inspirasi Muslimah

Enam Hal Nonfisik yang Harus Dipersiapkan Agar Siap Belajar di Pesantren

nonfisik pesantren

Mengharapkan anak mau menjalankan pendidikan di pesantren menjadi harapan banyak orang tua. Namun, tidak semua anak bersedia dan siap belajar di sana. Akibatnya, beberapa orang tua memaksakan kehendak. Padahal, memaksakan kehendak akan membuat anak tidak nyaman sehingga akan berdampak pada kondisi psikologisnya.

Mengapa banyak anak tidak siap dan bersedia belajar di pesantren? Pesantren memiliki ciri khas yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Di sana, mereka akan tinggal dan menghabiskan waktunya. Pesantren mewajibkan anak untuk mondok agar kegiatan dapat diikuti dengan intensif. Anak diharapkan dapat melaksanakan kegiatan dengan istiqamah, meski nantinya mereka telah berada di luar pesantren.

Ciri khas inilah yang membuat tidak setiap anak bersedia melanjutkan pendidikan di pesantren. Mereka harus merelakan diri untuk membatasi aktivitas dan tidak berkumpul bersama keluarga di rumah. Namun jangan lupa, bukan hanya anak yang harus siap, lo. Orang tua pun harus siap. Peran orang tua sangat penting agar anak siap dan berhasil melaksanakan pendidikan di pesantren.

Bagaimana agar anak siap masuk pesantren tanpa paksaan? Yuk, simak 6 hal nonfisik yang harus dipersiapkan agar anak siap melanjutkan pendidikan di pesantren.

1.      Meluruskan Niat dan Tujuan

Sebelum memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren, orang tua harus siap secara mental. Setelah orang tua siap, mulailah mempersiapkan mental anak. Sebagian anak akan bertanya mengapa mereka harus melanjutkan pendidikan di pesantren? Pertanyaan inilah yang harus bisa dijawab oleh orang tua. Orang tua dapat memberikan alasan logis sehingga dapat meyakinkan anak. Tentu sebelumnya orang tua harus yakin, ya.

Orang tua dan anak harus bersinergi karena kesuksesan seorang anak merupakan doa dan perjuangan orang  tua. Orang tua dan anak sama-sama meluruskan niat dan tujuan untuk melanjutkan pendidikan di pesantren. Niat yang baik dan lurus untuk menuntut ilmu dan menggapai rida Allah Swt..

2.      Membicarakan Rencana Masuk Pesantren pada Anak

Saat orang tua memiliki rencana untuk memasukkan anak ke pesantren, kuncinya adalah komunikasi dua arah yang baik. Orang tua yang memiliki rencana, tetapi anaklah yang nantinya akan menjalani. Anaklah yang nantinya akan belajar dan mengikuti pola pendidikan di pesantren. Oleh karena itu, sangat penting membicarakan hal tersebut sejak dini.

Orang tua harus mengajak anak berdiskusi, mendengarkan rencana dan cita-cita mereka, serta impian yang dimiliki anak sebelumnya. Orang tua dan anak sebaiknya berdiskusi secara santai. Rencana melanjutkan pendidikan anak tidak dilakukan secara mendadak dan terburu-buru sehingga tidak ada emosi dan pemaksaan kehendak. Orang tua juga sudah mempersiapkan jenis pesantren seperti apa yang diharapkan sehingga dapat memberikan gambaran yang tepat pada anak.

Selain itu, berbicara dari hati ke hati dapat menghilangkan stigma pada anak bahwa orang tua sudah tidak ingin bersama dengan mereka. Saat melanjutkan pendidikan di pesantren, tidak hanya anak yang harus siap berpisah dengan orang tua, tetapi orang tua harus lebih dahulu siap berpisah dengan anak.

3.      Menjadikan Pesantren sebagai Hadiah Atas Prestasi Anak

Dahulu, pesantren dianggap sebagai tempat untuk menakuti anak. Pesantren adalah tempat anak-anak nakal bersekolah. Hal itu menjadikan pesantren memiliki citra buruk di mata anak. Nah, bila orang tua ingin menyekolahkan anak di pesantren, tentu stigma negatif tadi harus dihilangkan. Jadikan bersekolah di pesantren sebagai hadiah atas prestasi anak. Orang tua dapat memberikan motivasi bahwa mereka bisa masuk pesantren bila berprestasi karena di sana adalah tempat berkumpulnya orang-orang pintar yang saleh. Apalagi saat ini ada pesantren yang fokus pada hobi anak, seperti pesantren khusus untuk pemain bola.

4.      Mengenalkan Pesantren dan Mengajak Anak Ikut Memilih

Selama ini, banyak cerita tentang kehidupan pesantren yang membuat anak enggan dan takut belajar di sana. Kehidupan yang keras, disiplin, aturan yang ketat, serta beberapa cerita lain yang beredar yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan.

Mengenalkan pesantren sejak dini dapat menghilangkan ketakutan dan rasa khawatir pada anak. Ajak mereka untuk melihat langsung kehidupan di sana. Ajak anak berkeliling ke beberapa pesantren yang sudah dipilih sebelumnya. Saat ini, tentu lebih mudah melakukan hal tersebut. Banyak pesantren yang dapat dikunjungi dulu secara virtual.

Orang tua dan anak dapat melihat dan memilih pesantren idaman melalui internet. Setelah mendapatkan beberapa pilihan, kunjungilah pesantren tersebut satu per satu untuk mendapatkan pilihan dan memutuskan di mana anak akan melanjutkan pendidikannya. Biarkan anak memberikan penilaian dan ikut memutuskan. Hal itu dapat membuat anak nyaman dan yakin bahwa kehidupan pesantren tidak menyeramkan seperti cerita orang.

Selain berkunjung, rutin mengikutsertakan anak dalam kegiatan pesantren kilat juga akan membuat mereka lebih siap.

5.      Mengajarkan Anak Mandiri dan Mulai Berlatih Hidup Seperti di Pesantren

Hidup di pesantren tentu berbeda dengan di rumah. Di pesantren, anak dituntut untuk mandiri. Mereka harus bisa merapikan pakaian, peralatan, kamar, mencuci alat makan, bahkan mencuci pakaian sendiri. Oleh karena itu, orang tua dapat mulai melatih anak. Latih anak untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri terlebih dahulu kemudian bertanggung jawab terhadap kebutuhan bersama seperti membantu pekerjaan rumah tangga.

Setelah dapat mandiri dan bertanggung jawab, anak pun dapat dilatih untuk hidup seperti di pesantren. Buatlah aturan bersama seperti waktu bangun pagi, salat berjamaah, mengaji dan menghafal Al-Qur’an, membatasi waktu menonton televisi dan menggunakan gadget, dan lainnya. Tentu tidak mudah, tetapi dapat dimulai secara bertahap dan tanpa paksaan. Memaksa anak akan membuat mereka kembali enggan belajar di pesantren.

6.      Mengajarkan Anak Memahami Perbedaan dan Mengelola Konflik

Hidup di pesantren dengan banyak orang dapat menimbulkan berbagai konflik. Namun, hal itu tentu merupakan pembelajaran yang baik bagi anak. Anak harus bisa bertoleransi, tidak egois, memahami berbagai perbedaan, dan berbagi serta rukun dengan teman-temannya. Anak belajar mengelola konflik. Hal yang penting saat mereka dewasa dan bermasyarakat kelak. Orang tua harus mampu meyakinkan anak bahwa mereka dapat hidup nyaman bersama teman-temannya.

Nah, demikian 6 hal nonfisik yang harus dipersiapkan agar anak bersedia dan siap melanjutkan pendidikan di pesantren. Semoga mereka menjadi anak saleh yang selalu mendoakan kedua orang tua sehingga dapat bergandengan tangan memasuki surga-Nya. Aamiin.

Bagikan
Exit mobile version