Hari itu, pelupuk mata tidak lagi mampu menjadi tanggul untuk air matanya yang ingin tumpah. Perempuan itu bergegas menyembunyikan wajah di balik helm dan bergegas meninggalkan tempat kejadian. Tidak membiarkan satupun mata melihat wajah merah padam dan tangis derasnya.
Di atas badan motor, ia berulang kali berseru kepada dirinya sendiri, “Kenapa kamu harus sedih?! Kenapa sih pakai nangis?!” Kepalanya tiada berhenti memberikan koreksi terhadap perasaan yang tiba-tiba muncul itu, “Harusnya kan nggak perlu merasa kayak gini. Apa yang salah?! Orang lain kalau menghadapi itu juga nggak mungkin kayak gini, hei, lebay banget!”
Dengan dada sesak dan perasaan penuh kecamuk, ia membawa motornya berkeliling tak tentu arah, melaju menyamai deru suara batinnya. Bukannya menenangkan, kalimat-kalimat autokritik itu malah semakin menyiksnya. Terus berjejalan di kepala, susul menyusul dengan isak tangis yang masih juga belum berhenti.
Berulang kali tangannya menyeka air mata yang terus mengalir itu: Stop, hei, dasar cengeng!!!
Mempercayai Diri Sendiri dan Emosinya
Akrab dengan pengalaman seperti di atas? Tos dulu! Aku juga terbiasa begitu sekian waktu yang lalu. Tapi belakangan ini, semakin banyak bacaan dan pengalaman yang menyadarkan bahwa ternyata tidak ada gunanya menangkis emosi yang datang ke dalam diri kita. Menganggap emosi itu hal yang tidak penting bahkan berbohong pada diri sendiri (bahasa bekennya sekarang “denial”) hanya akan membuat keadaan semakin parah.
Bagaimanapun, emosi hadir untuk sebuah alasan baik; mengajari diri kita untuk mengenal dan memahami diri sendiri. Karena setiap orang memiliki pengalamannya masing-masing yang membentuk dirinya; hal apa yang disukai, hal apa yang tidak disukai, hal apa yang dapat membangkitkan rasa senang, hal apa yang menjadi titik sensitifnya, dan lain-lain.
Jadi, tidak masalah kalau pengalaman dan emosi kita berbeda dengan orang lain. Ada orang yang mudah marah pada situasi tertentu, ada orang yang seketika sedih di situasi lainnya, ada orang yang bisa merasa senang tidak terkendali atas situasi lainnya lagi. Penting untuk menerima dan mencoba memahami emosi yang kita rasakan, agar selanjutnya dapat ditanggapi dengan cara yang tepat.
Bu Victoria Lemie Beckner, Ph.D, pernah menulis artikel di Psychology Today tentang salah satu kliennya yang merasa punya masalah rumah tangga. Singkat cerita, klien ini suka marah-marah gara-gara suaminya sering banget main videogame kalau pas rumah. Si klien terus menerus protes sama suaminya sampai mereka jadi selalu ribut aja kerjaannya.
Waktu ngobrol sama Bu Beckner dan diajak berlatih untuk memahami emosinya, klien ini menyadari sesuatu. Bahwa hal paling mendasar yang melatarbelakangi emosinya itu ternyata adalah perasaan sedih ketika harus jauh dengan suaminya. Ia takut suatu saat laki-laki itu akan meninggalkannya. Dari situ, ia bisa kemudian memahami makna dari emosinya dan bisa memberi tanggapan yang sesuai, termasuk pendekatan apa yang pas untuk suaminya.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memberi kepercayaan pada diri sendiri dan semua emosi yang dialami. Sebab, hadirnya emosi-emosi tersebut bukan semata-mata mau mengganggu apalagi menyusahkan diri kita. Mereka hadir untuk membantu kita mengenal diri sendiri lebih jauh lagi dan selanjutnya memahami apa yang dibutuhkan dan apa yang mesti dilakukan.
Belajar Kemampuan Memeluk Emosi
Nah, meskipun udah sama-sama sepakat untuk percaya sama emosi yang hadir ke batin kita, tapi mungkin sebagian masih bertanya-tanya; “Ya, tapi gimana bro caranya memahami diri kita lewat emosi-emosi tersebut?” Masih sama Bu Beckner, beliau ngasih salah satu tips agar kita bisa memeluk emosi dan perasaan kita sehingga mampu menanggapinya secara tepat. Berikut langkah-langkahnya:
1. Namai emosi atau perasaan tersebut!
Ketika kamu menyadari ada perasaan yang mulai merambati batinmu, baik yang positif maupun negatif, beri jeda sejenak. Kemudian pastikan bentuk perasaan tersebut dan berilah sebuah sebutan, misalnya perasaan sedih, takut, kecewa, marah, senang, antusias, dan sebagainya.
2. Izinkan sensasi perasaan itu memasuki tubuh kamu!
Kata Bu Beckner, “Emosi disebut juga sebagai ‘perasaan’ karena kita bisa ‘merasakannya’ di dalam tubuh.” Kamu perlu membiarkan perasaan itu mengalir lepas dan memperlihatkan sensasinya di tubuhmu, jangan ditahan atau ditangkis. Kadang hal ini memang tidak membuat nyaman, sehingga kamu memerlukan cukup keberanian untuk melakukannya agar kita bisa terbuka dan jujur pada diri sendiri. Pada tahap ini, berhati-hatilah agar tidak sampai kehilangan kendali atas pikiranmu, tetap berfokus pada sensasi di tubuh sehingga perasaan itu dapat kita terima dengan baik. Ini hanya butuh beberapa menit aja kok.
3. Dengan kesadaran penuh (mindfulness), caritahu apa yang menjadi intisari dari perasaan tersebut!
Setelah bisa merasakan sensasinya, mari mencoba untuk melihat hal apa yang mendasari munculnya perasaan itu. Mungkin ada pengalaman yang secara tidak sadar menimbulkan rasa sakit hati atau bayangan tentang masa depan yang menciptakan rasa takut pada dirimu. Gunakan pertanyaan sederhana: Apa yang menjadi intisari dari perasaan sedih atau senangmu ini? Berhati-hati agar tidak terjebak dengan analisis yang terburu-buru. Kadang orang cepat-cepat menyalahkan dirinya sendiri atau orang lain. Padahal bila diibaratkan samudra, perasaan-perasaan yang muncul dan terlihat itu hanyalah ombak, sedangkan di bawah sana ada hal yang jauh lebih dalam dan menjadi dasar dari perasaan-perasaanmu tadi. Hal mendasar inilah yang berharga dan penting untuk kita beri perhatian lebih. Misalnya, rasa marah dan sedih yang kamu rasakan ternyata didasari oleh rasa ingin dimengerti dan rasa ingin berada di antara orang-orang yang kamu sayangi.
4. Berilah simpati untuk pengalamanmu sendiri!
Setelah memahami perasaanmu, berilah simpati untuk pengalaman tersebut. Sama kayak waktu teman kamu lagi sedih dan kamu nge-pukpuk dia, kamu sendiri pun juga perlu dipukpuk kalau lagi nggak oke. Pada tahap ini, kamu bisa mengatakan ke dirimu sendiri, “Gapapa sedih. Gapapa kalau mau nangis. Ini emang hal yang berat buat kamu. Aku sama kamu di sini. Semua ini akan berlalu kok nantinya.” Di sini, kita akan mulai memahami bahwa kita benar-benar manusia yang memang membutuhkan hal-hal yang manusiawi; rasa aman, rasa diterima, dan sebagainya.
Nah, setelah ini, nggak lagi menahan dan menangkis emosi diri sendiri lagi kan? Semoga kita sama-sama bisa memeluk dan belajar dari emosi dan perasaan yang kita alami yaa. 😊
Duta Museum DIY untuk Museum Dewantara Kirti Griya, Sekretaris Bidang Advokasi PW IPM DIY
