Orang-orang miskin di Indonesia mestinya tidak perlu khawatir. Mereka bisa mendapatkan makanan yang cukup, pakaian yang layak, bahkan rumah yang dapat ditinggali tanpa perlu khawatir membayar biaya kontrak.
Ya, bagi saya, itu mungkin-mungkin saja. Mungkin Anda berpikir bahwa saya hendak menyuruh orang-orang itu bekerja lebih keras lagi. Atau, merantau jauh-jauh ke luar kota meninggalkan sanak saudara demi sesuap nasi.
Kalau demikian, anggapan Anda keliru besar. Saya tidak hendak memaksa mereka untuk melakukan itu semua. Saya justru ingin mereka bekerja secukupnya saja.
Lantas, kalau bekerja secukupnya, apakah mereka bisa bersaing dengan orang-orang yang lebih mapan, untuk mendapatkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal?
Saya percaya mereka bisa. Sebabnya, persoalan ini bukan semata-mata tentang orang-orang yang miskin atau terpinggirkan saja. Persoalan ini juga tentang bagaimana orang-orang yang lebih mapan dan kaya bersedia hidup di dunia tanpa keinginan.
***
Sekitar seminggu yang lalu, bersama keluarga, saya memenuhi undangan pernikahan di suatu vila di daerah Bandung. Dengan protokol kesehatan yang cukup ketat, pernikahan itu diselenggarakan dengan cukup megah. Khas pernikahan orang-orang kota, walaupun mengambil latar tempat di pedesaan.
Namun, selama acara berlangsung, perhatian saya tidak semata tertuju pada dekorasi mewah apalagi hidangan yang disajikan untuk para tamu. Saya mengamati sekeliling. Dan, saya menjumpai deretan rumah-rumah besar seperti yang terdapat dalam sinetron-sinetron layar kaca.
Yang lebih mengherankan, lokasi tempat vila pernikahan dan rumah-rumah besar itu ternyata sangatlah luas. Tapi, jumlah bangunan yang dibangun di atasnya justru sangat sedikit. Saya tidak sempat berkeliling lebih jauh, tapi saya taksir luas kawasan tersebut setara dengan luas 3 lapangan sepak bola.
Saya berpikir sejenak kemudian bertanya-tanya: buat apa tanah seluas ini. Jika rumah yang dibangun di atasnya sangatlah sedikit, bahkan terdapat beberapa rumah yang tidak terawat? Bukankah ini merupakan suatu kemubaziran tersendiri?
Seiring dengan pertanyaan itu, di kepala saya kemudian muncul gambaran kehidupan orang-orang yang kurang beruntung. Banyak di antara mereka yang mungkin sudah bertahun-tahun tak punya tempat tinggal.
Bahkan tak sedikit dari mereka yang memilih hidup luntang-lantung dari satu kolong jembatan ke kolong yang lain. Padahal, kebutuhan akan tempat tinggal yang layak termasuk dalam kebutuhan primer. Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, bukan tidak mungkin kebutuhan lainnya juga akan terganggu.
Mereka barangkali sudah mencoba menabung untuk membeli tanah atau rumah. Tapi, jika tanah-tanah kosong kian langka karena sudah dikaveling oleh orang-orang kaya, tentu mereka pun tak bisa berharap banyak. Kelangkaan itulah yang akhirnya membuat harga tanah semakin melambung tinggi dan semakin tidak terjangkau.
Padahal, orang-orang kaya biasanya sudah memiliki rumah yang nyaman untuk ditinggali. Mereka tak perlu repot-repot mengungsi dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menghindari Satpol PP.
***
Jika sudah mapan dengan satu rumah yang bisa ditinggali atau bahkan sebidang tanah secukupnya, lalu apa urgensi mengkaveling tanah sedemikian luas hanya demi menumpuk kekayaan?
Dulu ketika masih di Sekolah Dasar, setiap kali saya hendak membeli sesuatu, orang tua saya biasanya akan bertanya, “apakah ini kebutuhan atau hanya keinginan?”. Jika saya menjawab, “hanya keinginan”, orang tua saya biasanya tak akan lagi menggubris permintaan itu.
Ada perbedaan mendasar di antara keinginan dan kebutuhan. Kebutuhan berarti sesuatu yang apabila tidak terpenuhi maka hidup manusia secara substansial akan terganggu. Sedangkan keinginan, apabila tidak terpenuhi, biasanya tak akan terlalu menghambat kehidupan manusia.
Kebutuhan biasanya merupakan jawaban dari pertanyaan, “bagaimana agar saya tetap hidup?”. Sementara keinginan, acapkali merupakan gaya hidup belaka.
Sebagai contoh, jika jarak dari rumah saya ke sekolah sangat jauh dan belum ada transportasi umum, memiliki sepeda atau motor akan menjadi suatu kebutuhan tersendiri. Berbeda halnya jika jarak rumah-sekolah cukup dekat, tetapi saya menghendaki sepeda. Maka, sepeda itu bisa jadi bukan merupakan kebutuhan, tetapi hanya keinginan di dunia.
Salah satu tren yang berkaitan erat dengan perbedaan kebutuhan dan keinginan adalah tren hidup minimalis. Tren yang disinyalir berasal dari negeri sakura tersebut hendak mengampanyekan pengurangan barang-barang yang tidak perlu. Dengan hanya menyimpan barang-barang yang dibutuhkan, seseorang akan jauh lebih fokus dan teratur dalam menjalani hidupnya.
***
Dalam cerita di awal tulisan ini, saya dibuat merenung dengan banyaknya tanah kosong yang justru tidak termanfaatkan dengan baik. Padahal, jika dikelola dengan patut, orang-orang yang masih belum punya tempat tinggal atau lahan bisa menempati tanah-tanah kosong tersebut.
Bukankah dengan seperti ini, tanah tersebut bisa menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, ketimbang hanya sekadar menjadi cuan bagi orang-orang kaya?
Orang-orang kaya, setidaknya menurut saya, tidak benar-benar butuh tanah yang sedemikian luas. Mereka hanya ingin. Dan, keinginan selalu berbeda dengan kebutuhan. Sementara itu, orang-orang miskin tidak (hanya) menginginkan rumah, tapi mereka memang betul-betul membutuhkannya.
Pada konteks yang lebih luas, jika konsep sederhana ini diterapkan, orang-orang akan bisa lebih bijaksana dalam mengelola urusan keseharian, kemasyarakatan, bahkan urusan kenegaraan.
Berapa banyak orang yang mendaftar pemilu dengan dasar keinginan menjadi politisi di dunia, bukan kebutuhan menjadi politisi? Kalau cara pandang keinginan yang dominan, wajar saja banyak politisi dan pejabat yang masih saja tersandung kasus korupsi.
Sementara jika cara pandang kebutuhan yang dikedepankan, pejabat dan politikus akan lebih bijaksana. Mereka dibutuhkan oleh masyarakat yang memilihnya untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah yang lebih tinggi atau membuat kebijakan demi kepentingan umum.
Sebenarnya, menihilkan sama sekali keinginan di dunia ini hampir merupakan kemustahilan (untuk tidak menyebutnya sebagai utopia). Namun, setidaknya keinginan dan kebutuhan kita bisa diatur dengan baik pada porsinya masing-masing agar tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga orang lain.
Mahasiswa Ilmu Hukum (S1), Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia. Ia memiliki hobi membaca dan menulis serta memiliki minat pada kajian filsafat dan peradaban Islam.
