Generasi Z hari ini disuguhkan dengan sesuatu yang serba instan. Tak sedikit muda-mudi yang gemar rebahan, scrol media sosial, dan menghabiskan waktu dengan memainkan gadgetnya. Krisis seperempat abad yang merupakan istlah dari psikologi ini merujuk pada keadaan emosional manusia yang sering berubah merasakan kebingungan, kecemasan, dan ketakutan terhadap masa depan serta meragukan kepercayaan diri.
Kata banyak orang dan fenomena sosial yang hari ini terjadi banyak remaja yang merasakan kegelisahan, keresahan, dan kegalauan hingga puncaknya tak sedikit yang mengalami depresi. Tekanan yang remaja alami dalam rentan usia 18-30 tahunan pada hari ini merupakan tantangan yang cukup besar; tak hanya berasal dari dunia nyata dan dunia maya serta berasal dari lingkungan dan dari dalam diri sendiri.
Remaja yang takut dewasa mengalami tekanan yang kerapkali menjadikan putus asa, tidak puas dengan diri sendiri, dan sering meratapi kegagalan, tidak toleran dengan diri, serta mengalami kecemasan dan kekhawatiran yang bisa menganggu kepercayaan dan optimisme dalam melakukan sesuatu. Hal ini sangat menganggu bila kawula muda telah terpapar virus yang suka membandingkan diri terhadap pencapaian orang lain, menginginkan kehidupan yang sempurna dan serba mudah, indah, dan megah. Tanpa dibersamai dengan perjuangan dan kesederhanaan. Karena sejatinya kesederhanaanlah yang memberikan diri bernilai dan memahami nilai itu sendiri. Kesederhanaan yang mulai terkikis dapat memberikan efek negatif bagi kawula muda untuk mencapai kesempurnaan dengan segala cara.
Tampak Terlihat Bahagia
Menurut M. Quraish Shihab dalam cuplikan narasi di Mata Najwa menyampaikan; bahwasannya ketakutan yang remaja alami pada umumnya merupakan hal yang wajar. Karena merupakan rasa yang masih manusiawi, namun ketakutan yang luar biasa dalam situasi aspek yang lain hendaknya ditanyakan kepada diri sendiri, “apa yang ditakuti?” Maka seseorang harus mengetahui dulu apa penyebab ketakutan yang dialami.
Belajarlah dari semut yang memikul beban lebih besar daripada tubuhnya. Meski berkali-kali jatuh ia tetap berusaha dan berhasil. Demikian kisah ulama masyhur yakni Ibnu Hajar yang berkali-kali gagal dalam mengenyam pendidikannya; suatu saat ia marah terhadap diri sendiri dan pergi ke sungai untuk menenangkan diri. Ia melihat air yang menetes sedikit demi sedikit menimpa batu hingga berlubang; sontak ia tersadar bahwasa pasti berhasil apabila tekun dengan apa yang ia jalani. Maka ia menjadi ulama besar yang bernama ibnu hajar atau putra batu.
Pemuda yang sulit bahagia merupakan ia yang terjebak dalam ekspektasi-ekspektasi fatamorgana yang ia bangun dengan harapan di atas mimpi-mimpi yang sempurna tanpa aksi dan menyadari realita. Sebaliknya pemuda yang mudah bahagia merupakan ia yang pandai mensyukuri apa yang ia punya dan sadar akan realita atas usaha-usaha dan terus belajar menerima.
Situasi yang kini sering terjadi tentang mereka yang tampak terlihat baik-baik saja, yang terlihat sempurna, yang terlihat bahagia. Bukankah memang rumput tetangga akan lebih hijau kawan? Namun percayalah di balik keindahan keterpukauan kita terhadap sesuatu; akan ada ruang sendu dalam setiap individu yang jelas kita tidah tahu, tidak mengerti, dan tidak terlihat. Kalau bahasa jawanya “Urip iku mung sawang sinawang”
Optimis dan Bertahan
Jika meneropong dari kacamata media yang tidak lepas kita pantau 24/7; setiap individu dipastikan akan selalu mengalami kecemasan apabila tidak mengatur waktu untuk bijak dalam bersosisal media. insecure yang menjadi racun bagi pemuda bisa mengakibatkan tidak toleran terhadap diri sendiri yang artinya selalu akan merasa rendah diri. Inilah yang mengakibatkan pemuda sulit bahagia dan bisa kehilangan kepercayaan diri.
Maka menjadi pemuda yang bahagia haruslah mempunyai sikap optimisme dan berani survive dalam hidupnya. Seperti ketika berada di puncak gunung memanglah indah memandang daratan di atas awan; namun untuk mencapai puncak harus berada dalam lereng-lereng yang bisa menjerumuskan ke jurang.
Kiat selanjutnya untuk pemuda yang bahagia adalah mencari kemudahan. Seperti yang telah Allah firmankan dalam QS. Al-Insyirah pada ayat 5-6 Allah menegaskan akan ada kemudahan setelah kesulitan. Maka untuk mendapatkanya sebagai manusia harus berusaha mencari kemudahan tersebut dan berdoa yang demikian; “ Ya Allah, sekiranya memang takdirmu yang terjadi tidak menyenangkan, maka biarlah aku terjatuh, tapi, mohon kiranya aku terjatuh di tumpukan jerami” – Prof M. Quraish Shihab.
Hal yang wajar apabila seorang remaja mengalami keresahan. Namun sebagai pemuda kita setidaknya kita harus tetap waras dan sadar akan menerima kehidupan yang akan kita jalani dengan bekal optimisme, toleransi, serta berdoa. Berdoa merupakan kunci melakukan sesuatu dengan percaya dan yakin bahwasanya badai pasti berlalu; mentari dan bulan yang tidak bersinar bersamaan memberikan tanda bahwa setiap manusia akan punya masa bersinar dengan waktunya sendiri dengan tepat. Jadi, bersyukur dengan apapun yang terjadi mari kita bahagia memulai setidaknya dengan senyum di setiap pagi
Seorang mahasiswi tingkat akhir dari ujung pulau jawa. Kebetulan suka tidur, memasak, dan menulis.
